Acehraya.co.id – Demonstrasi masih terus berlangsung sehubungan dengan ledakan gudang bahan kimia di kota Tianjin, Cina yang menyebabkan setidaknya 114 orang tewas.

Puluhan penduduk menuntut kompensasi dan berteriak ‘bayar rumah kami’. Banyak dari mereka yang menolak kembali ke tempat tinggal mereka karena khawatir terhadap kontaminasi.

Bahan kimia beracun, sodium sianida, ditemukan di pasokan air minum setempat -dan di beberapa lokasi mencapai 28 kali lipat batas aman. Pemerintah menyatakan sudah mengerahkan unit pengolahan air untuk memulihkan kondisi pasokan air.

Sementara itu media pemerintah mengatakan kedua pemilik gudang memakai ‘koneksi’ mereka untuk mendapat izin menyimpan bahan berbahaya di gudang mereka. Gudang mereka tetap bisa mendapat sertifikat keamanan sekalipun melanggar ketentuan jarak minimal dengan pemukiman penduduk.

Kantor berita Xinhua melaporkan salah seorang pemilik gudang itu adalah anak bekas kepala polisi setempat, sedangkan seorang lagi pernah jadi eksekutif pada perusahaan kimia nasional. Keduanya kini ditahan polisi.

Kerugian ekonomi

Terkait kerugian yang ditimbulkan ledakan, media Cina melaporkan bank Credit Suisse memperkirakan kerugian bisa mencapai US$1-1,5 miliar (sekitar Rp13-20,7 triliun). Namun perusahaan penilai Fitch menduga angka itu bisa lebih besar lagi.

Penyelidikan mengenai penyebab ledakan masih berlangsung dan kerugian masih sedang dalam penilaian. Selain kerusakan itu sendiri, beberapa pabrik di sekitar lokasi itu berhenti beroperasi, dan kerugian mereka mungkin harus ditanggung juga oleh perusahaan asuransi.

Perusahaan otomotif Jepang Toyota mengatakan setidaknya separuh kapasitas produksi mereka harus terhenti sejak hari Rabu (18/08). Toyota mengatakan mereka menghentikan sementara tiga pabrik mereka di dekat Tianjin, yang bisa memproduksi 530.000 unit kendaraan setahun.

Ribuan kendaraan merk Volkswagen, Toyota, Hyundai dan Renault yang diparkir di dekat lokasi ledakan juga rusak. Operasi perusahaan Panasonic, perusahaan logistik Singamas Container Holdings dan perusahaan mesin pertanian Deere & Co dari Amerika Serikat juga ikut terhenti. Perusahaan asuransi Cina kemungkinan besar harus menanggung beban biaya ini. [bbc]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY