Acehraya.co.id – Pria kelahiran Desa Baroh Musa, 5 April 1971 tak pernah membayangkan bila dirinya suatu saat bisa berbicara di hadapan orang banyak dalam forum seminar dan pelatihan, apalagi dikaitkan dengan pendidikan formal yang pernah dikecap hanya tamat SLTA. Namun bagi Irwan Ibrahim, pendidikan yang rendah bukan menjadi penghalang untuk menjadi orang sukses.

Sebagai anak desa, ia melihat potensi pertanian Aceh luar biasa terutama kakao yang selama ini petani masih menjual dalam bentuk biji dengan harga murah dan ditentukan oleh pembeli. Ia pun berobsesi bila suatu saat bisa menjual produk dalam bentuk olahan yang tentu saja punya nilai tambah.

Irwan yang saat itu memiliki kebun kakao seluas 2 hektar kemudian merintis usaha pengolahan. Ia memulai perbaikan mutu dengan fermentasi biji, dan mendirikan home industry pada 2003. Ia mengaku pernah menjadi penyuluh swadaya khususnya untuk komoditi kakao. Saat ia mendirikan usaha pengolahan kakao menjadi bubuk dan minuman siap, banyak cibiran datang dari orang kampung. “Saya dianggap kurang waras saat itu, sebab budaya Aceh suka minum kopi sehingga dimana-mana ada warung kopi, sementara warung coklat belum pernah ada,” kenangnya.

Cemoohan orang tidak menyurutkan minat Irwan untuk merealisasikan pabrik pengolahan kakao mini yang kemudian diberi nama “Socolatte”. Semangat Irwan yang tinggi ikut disupport oleh sebuah NGO Jepang OISCA pada tahun 2010 dalam bentuk alat roasting, desheler dan pelatihan. Iapun kemudian gencar mempromosikan hasil produknya di even pameran baik lokal maupun nasional. Dinas Perkebunan Pidie Jaya juga melakukan pembinaan dalam hal budidaya dan prosesing hasil. Banyak orang terheran-heran dan bertanya apa betul ada pabrik pengolahan coklat di Aceh. “Saya telah membuktikan, bahwa tidak ada yang tak mungkin jika dilakukan dengan serius. Aceh bahkan sudah layak punya pabrik coklat terbesar modern karena ditunjang dengan bahan baku yang memadai,” ujar pria yang lebih populer dengan Irwan Socolatte ini meyakinkan.

Alhamdulillah kini usaha Irwan sudah membuahkan hasil. Lokasi outlet miliknya di Desa Baroh Musa Pidie Jaya, jalan nasional Banda Aceh – Medan KM 137 tak pernah sepi pengunjung dan pembeli. Ia menyediakan minuman coklat dengan aneka rasa, juga bubuk coklat dan es krim dengan mempekerjakan sebanyak 15 karyawan. Tidak hanya itu, berkat keberhasilannya Irwan sering menjadi nara sumber dalam berbagai pertemuan dan pelatihan sampai forum kakao nasional. Baru-baru ini Irwan diajak Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh untuk share pengalamannya dalam budang pascapanen fermentasi biji bagi penyuluh lapang dan petani kakao di Aceh Timur.

Menurutnya, untuk memajukan petani, diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bermutu sehingga dapat mengelola potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Irwan sering menerima petani dan mahasiswa magang di tempat usahanya. Bahkan, kini ia menjadi panutan bagi masyarakat sekitarnya, setelah ia membuktikan bahwa minum kopi bisa dikalahkan dengan minum coklat untuk menyehatkan tubuh. [ltb]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY