Dermaga Meulingge, Desa Terbarat di Indonesia yang terletak di Pulau Breueh, Aceh Besar. (Yunaidi)

Acehraya.co.id – Matahari belum terlalu hangat pagi itu, tetapi di jalanan terlihat pelajar berkerudung  beriringan menuju barat ke arah barisan bukit-bukit menjulang tinggi -bukit barisan- terbentang dari ujung utara Swarnadwipa sebutan lain Pulau Sumatra hingga ke selatan. Becak-becak motor pun lalu lalang membelah jalanan kota dengan penumpang berpakaian putih merah. Para pelajar dengan senyum cerah nampak semangat mengejar ilmu ke bangku sekolah sebagai bekal untuk masa depan kelak.

Saat remaja-remaja berpakaian sekolah berangkat menuntut ilmu, saya masih melonjorkan kaki seraya merentangkan tangan melepas lelahdi barisan ke dua bus ekonomi jurusan Pekanbaru – Aceh. Sudah dua malam satu hari saya menumpang bus lintas sumatra ini. Perjalanan panjang ini untuk mengantisipasi biaya yang terlalu besar jika saya menggunakan tranportasi udara. Maklumlah menjadi pejalan yang independen berminggu-minggu dengan dana yang pas-pas an membuat saya harus sedikit cerdik mengeluarkan setiap sen-sen rupiah. Toh moda transportasi bukanlah yang terpenting dalam sebuah perjalanan. Bagi saya yang terpenting adalah bagaimana saya memetik pelajaran dari setiap perjalanan yang saya lakukan. Bertemu dengan orang-orang baru, bertukar pandangan, belajar suatu khasanah budaya Indonesia yang kaya hingga menambah ikatan tali persaudaraan. Masalah destinasi pantai yang indah, gedung tua, laut yang biru ataupun langit yang mempesona bagi saya hanyalah hadiah dari sebuah perjalanan. Bukankah begitu ?

Terminal bus Banda Aceh pagi itu ramai sekali dengan tukang becak motor, persis di pintu bus sudah mengantri puluhan tukang becak motor. Saya kelagapan, ini kali pertama saya ke Banda Aceh dan langsung ditodong oleh tawaran becak motor.  Hal yang utama untuk menangkisnya adalah berterima kasih dan mengatakan kepada tukang becak motor kalau ada keluarga saya yang akan menjemput dan timpali dengan senyum dan lihatlah itu senjata yang sangat Ampuh !. Ini menjadi pelajaran pertama bagi saya, bersikap ramahlah terhadap orang lain dan orang lain akan membalas keramahan anda. Saya yakin itu. Saya berjalan menuju kabin bus tempat penyimpanan barang. Ransel saya ditumpuk dibawah karung-karung yang isinya entah apa serta kardus-kardus yang diikat kuat dengan tali rafia. Saya mengambil ransel dan mengucap terima kasih kepada kondektur. Perjalanan di Aceh dimulai untuk menyingkap tanah yang bagi sebagian orang dulunya di cap sebagai negeri seram penuh konflik dan negeri yang porak poranda akibat bencana tsunami. Namun saya yakin dibalik kengerian dan duka Aceh di masa lalu terbelit secercah senyum damai dan secercah harapan di negeri Cut Nyak Dien ini, toh bukankah R.A Kartini bilang “Habis Gelap Maka Terbitlah Terang”.

Ini hari kedua saya tidak mandi. Rekor saya tidak pernah mandi yakni 5 hari, saya motoran dari Pekanbaru menuju Sumatra Utara dan bekeliling mulai dari Medan, Berastagi, Danau Toba, Menuju Sidikalang, Sibolga kembali ke Medan. Kilometer motor saya memecahkan rekor 2470 Kilometer. Kali ini di Banda Aceh saya tidak mau menjadi pejalan yang hemat sabun. Dan hari pertama di Aceh saya harus bersih-bersih dahulu. Toilet terminal menjadi tempat ideal untuk mandi, saya menitipkan ransel ke penjaja makanan kecil dekat toilet terminal. kemudian mengambil beberapa peralatan mandi dan baju ganti. Toilet terminal banda aceh jauh berbeda dengan toilet terminal kebanyakan. Disini lumayan bersih, air nya pun tidak terlalu keruh dan saya cap masih manusiawi lah untuk mengguyur tubuh yang belum ditimpali air dua hari. Saya menghabiskan hampir setengah jam di toilet. Dan lihatlah, saya keluar sudah berubah menjadi lelaki pejalan yang wangi dan kembali prima. Ternyata mandi bisa menghilangkan capek dan pegal juga ya. Saya berkenalan dengan Bapak Masril, tukang becak yang tinggal di dekat pelabuhan Malahayati, sekitar 30 kilometer dari Terminal Bus. Dan akhirnya saya meminta jasa beliau untuk mengantarkan menuju pelabuhan Lampulo. Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY