LIPI Bangun Stasiun Penelitian Kelautan di Aceh

509
Ilustrasi: pemandangan bawah laut. (Foto: shutterstock)

Acehraya.co.id – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membangun stasiun penelitian kelautan di Pulau We, Sabang. Stasiun ini akan meneliti perkembangan ilmu kelautan yang berdampak positif bagi ekonomi, politik maupun keamanan.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan, penelitian kelautan di wilayah barat Indonesia masih belum berkembang. Hal tersebut disebabkan tingginya biaya penelitian yang bersumber dari belum adanya stasiun penelitian kelautan untuk wilayah barat Indonesia. Selama ini, kata Iskandar, penelitian kelautan lebih banyak difokuskan di kawasan timur Indonesia. Sedangkan untuk wilayah barat, LIPI hanya memiliki stasiun penelitian di Pulau Pari.

“Ini yang membuat biaya penelitian di kelautan di barat Indonesia tinggi, akibatnya penelitiannya tidak berkembang,” kata Iskandar usai workshopPembangunan Stasiun Penelitian Lapangan LIPI di Kawasan Barat Indonesia di kantor LIPI, Senin (31/8/2015).

Iskandar menjelaskan, untuk itu LIPI memutuskan membangun stasiun penelitian kelautan di kawasan barat Indonesia, tepatnya di Sabang, Nangroe Aceh Darussalam sebagai prioritas utama. Pulau Sabang menjadi terpilih menjadi lokasi stasiun di antara lima kandidat lokasi lainnya, seperti Tapanuli Tengah (Sumatera Utara), Kabupaten Kaur (Bengkulu), Pesisir Cilacap (Jawa Tengah), dan Pacitan (Jawa Timur).

Stasiun penelitian di Sabang akan difokuskan untuk penelitian perairan Samudera Hindia. Penelitian di kawasan ini diyakini akan memberi dampak positif bagi perkembangan Iptek kelautan di Indonesia. Iskandar meyakini, Samudera Hindia tidak kalah pentingnya dengan lautan di timur Indonesia.

“Stasiun kelautan itu nantinya dapat meningkatkan kemampuan para peneliti Indonesia dalam mengungkapkan fenomena laut dan potensi sumber daya yang ada di barat Indonesia,” imbuhnya.

Meski di satu sisi, Iskandar menyayangkan minimnya jumlah peneliti di Indonesia. Padahal di negara-negara maju peran peneliti sangat penting untuk melakukan riset yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. Minimnya jumlah peneliti juga berdampak pada lambatnya perkembangan iptek di Indonesia.

“Diukur dari jumlah peneliti per satu juta penduduk, dan anggaran riset, kita masih sangat rendah, masih di angka 0,09 persen dari PDB,” ungkap Iskandar.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Dirhamsyah mengatakan, stasiun penelitian kelautan di barat akan fokus pada hasil penelitian yang dapat memberi manfaat bagi daerah di sekitarnya. Anggaran pembangunan stasiun mencapai Rp16 miliar hingga Rp17 miliar dan dana risetnya antara Rp3 miliar hingga Rp4 miliar.

Pembangunan stasiun ini, kata Dirhamsyah akan dimulai pada 2016. Penelitian akan menguak potensi kelautan dari sisi sosial ekonomi, lingkungan, bahkan keamanan NKRI karena Sabang adalah salah satu wilayah Indonesia terdepan dan terluar.

Dirhamsyah mengharapkan, pembangunan stasiun penelitian kelautan di kawasan barat Indonesia ini dapat meningkatkan rasa percaya diri bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dunia.

“Tujuan mimpi dan keinginan yang tinggi dari para sesepuh oseanografi yakni riset di segala aspek oseanografi dapat dilakukan secara keseluruhan dengan pembangunan stasiun penelitian kelautan secara bertahap diseluruh wilayah Indonesia,” tutupnya. [okezone]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY