Austria dan Jerman Sambut Pengungsi Dengan Tangan Terbuka

623
Dengan wajah berbinar dan dengan balon bertuliskan "Di sini mimpi menjadi kenyataan" pengungsi kecil ini tiba di stasiun München. ©Picture-alliance/dpa/S. Hoppe

Acehraya.co.id – Di tengah krisis migrasi dunia, ribuan pengungsi, Selasa (1/9), dikabarkan tiba di Austria dan Jerman. Mereka tiba di dua negara itu menggunakan kereta api dari Hungaria. Ribuan pengungsi itu terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa serta anak-anak. Sebagian besar pengungsi berasal dari Suriah.

Polisi di kedua negara itu tampaknya memberikan keleluasaan bagi para pengungsi untuk masuk ke negara tersebut. Seorang juru bicara polisi Austria mengatakan, mereka yang tidak meminta suaka di Hungaria dapat melanjutkan perjalanan ke Austria atau Jerman.

Sikap itu tentu membuat para pengungsi yang sudah berbulan-bulan hidup dengan ketidakpastian seolah mendapat harapan baru. “Terima kasih Tuhan tidak ada yang meminta paspor, tidak ada polisi, tidak ada masalah,” kata Khalil (33), seorang guru bahasa Inggris dari Ayn al-Arab di Suriah. Ia mengungsi bersama dengan istri dan bayi perempuan mereka yang saat ini tengah sakit.

Khalil mengatakan, dirinya telah membeli tiket kereta api di Budapest untuk tujuan Hamburg, Jerman. Ia yakin di negara itu dirinya akan mendapat sambutan yang lebih baik setelah melintasi Balkan dan Hungaria.

“Kami warga Suriah memanggil Kanselir Angela Merkel dengan sebutan Mama Merkel,” kata Khalil merujuk sikap dan respons pemimpin Jerman itu atas krisis migran di Eropa.

Ribuan pengungsi kini tertahan di stasiun utama Budapest. Saat polisi anti huru-hara mencoba memindahkan mereka dari pelataran stasiun, ratusan orang berteriak Jerman, Jerman!. Mereka juga berteriak, kami ingin pergi dari sini sambil berulangkali menyerukan nama kanselir Jerman, Angela Merkel ©Reuters/L. Balogh
Ribuan pengungsi kini tertahan di stasiun utama Budapest. Saat polisi anti huru-hara mencoba memindahkan mereka dari pelataran stasiun, ratusan orang berteriak Jerman, Jerman!. Mereka juga berteriak, kami ingin pergi dari sini sambil berulangkali menyerukan nama kanselir Jerman, Angela Merkel ©Reuters/L. Balogh

Dibandingkan dengan negara Eropa lain, Jerman memang jauh lebih responsif dan positif menanggapi krisis itu. Tahun ini Jerman diperkirakan akan dibanjiri lebih kurang 800.000 imigran. Dalam sebuah jumpa pers di Berlin, Merkel mengatakan, krisis migran di Eropa bisa menghancurkan kebijakan Schengen atau perbatasan terbuka jika negara-negara Uni Eropa tidak turut ambil bagian untuk menerima pengungsi.

“Jika kita tidak berhasil mendistribusikan pengungsi secara adil, tentu saja Schengen akan menjadi pertanyaan bagi banyak orang,” kata Merkel dalam konferensi pers di Berlin.

Bukan hanya itu, sebagaimana diberitakan Al Jazeera, Merkel pun meminta negara-negara Eropa tidak membeda-bedakan latar belakang para pengungsi. Namun, imbauan Merkel itu tampaknya akan menemui tantangan cukup besar.

Inggris yang berada di luar zona Schengen berpendapat, sistem perbatasan bebas itu justru merupakan bagian dari masalah. Tak hanya itu, kebijakan untuk menerima lebih banyak pengungsi akan mendapat tantangan dari sejumlah negara Eropa lain yang berencana menentang penerapan kuota.

Kecapaian Tapi Untung Sudah Dalam Kereta Banyak keluarga membawa anak-anak, yang kelelahan menenpuh perjalanan panjang dan berbahaya. Untungnya mereka sudah berada dalam kereta dengan tujuan Austria dan Jerman. Lebih 50.000 pengungsi memasuki Hungaria bulan Agustus silam. Kebanyakan berasal dari kawasan konflik bersenjata seperti Suriah, Irak dan Afghanistan. ©Getty Images/AFP/V. Simicek
Kecapaian Tapi Untung Sudah Dalam Kereta. Banyak keluarga membawa anak-anak, yang kelelahan menenpuh perjalanan panjang dan berbahaya. Untungnya mereka sudah berada dalam kereta dengan tujuan Austria dan Jerman. Lebih 50.000 pengungsi memasuki Hungaria bulan Agustus silam. Kebanyakan berasal dari kawasan konflik bersenjata seperti Suriah, Irak dan Afghanistan. ©Getty Images/AFP/V. Simicek

Di sisi lain, banyak warga Eropa bersikap sebaliknya. Sebagaimana ditunjukkan ribuan pendukung pengungsi. Di luar stasiun Vienna, Austria, warga Eropa meneriakkan dukungan terhadap para pengungsi. “Pengungsi diterima di sini!” seru mereka.

Setidaknya 20.000 orang turun ke jalan-jalan di Vienna untuk memprotes perlakuan buruk kepada para pengungsi. Dalam unjuk rasa itu, mereka membawa spanduk bertuliskan “Kami tidak ingin Eropa menjadi kuburan massal”. Hal itu merujuk pada temuan 71 jenazah pengungsi di dalam sebuah truk berpendingin di perbatasan Austria-Hungaria.

Mereka juga menyanyikan lagu-lagu bertema cinta dan solidaritas. Seorang warga Vienna, Ottwin Schober, mengatakan, para pengungsi itu membutuhkan bantuan. “Mereka datang dari situasi yang sangat sulit. Kita tidak harus berpikir dua kali untuk membantu mereka,” kata Schober.

Pada rangkaian unjuk rasa itu juga digelar doa di Katedral St Stephen untuk para pengungsi yang tewas dalam perjalanan menuju Eropa. “Kami sudah cukup dengan kematian, penderitaan, dan penganiayaan,” kata Uskup Agung Vienna Kardinal Christoph Schoenborn kepada jemaat yang hadir.

Beruntung Tiba di Jerman dan Austria. Pengungsi ini beruntung bisa naik kereta terakhir yang masih diizinkan berangkat menuju Wina, Austria. Sekitar 3.600 pengungsi kebanyakan asal Suriah berhasil tiba di ibukota Austria tanggal 1 September pagi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta ke kota lain di Austria atau menuju selatan Jerman. (Getty Images/AFP)
Beruntung Tiba di Jerman dan Austria. Pengungsi ini beruntung bisa naik kereta terakhir yang masih diizinkan berangkat menuju Wina, Austria. Sekitar 3.600 pengungsi kebanyakan asal Suriah berhasil tiba di ibukota Austria tanggal 1 September pagi. Mereka melanjutkan perjalanan dengan kereta ke kota lain di Austria atau menuju selatan Jerman. (Getty Images/AFP)

Kematian 71 pengungsi dalam truk berpendingin di sebuah jalan bebas hambatan di Austria, tak jauh dari perbatasan dengan Hungaria, membuat Eropa semakin prihatin dengan krisis pengungsi. Meskipun pasca insiden itu pemeriksaan di perbatasan semakin diperketat, langkah tersebut diambil untuk memastikan para pengungsi selamat.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri Austria, Konrad Kogler, mengatakan, langkah tegas yang dilakukan pemerintahnya di wilayah perbatasan sebenarnya tidak melanggar kesepakatan tentang Schengen. “Ini bukan kontrol perbatasan, ini adalah langkah untuk memastikan bahwa orang-orang aman, bahwa mereka tidak mati, serta tentang keamanan lalu lintas,” kata Kogler.

Dalam operasi itu, polisi berhasil mengamankan 200 pengungsi serta menangkap lima penyelundup manusia.

Tiba di Jerman

Ribuan pengungsi tiba di Salzburg Austria atau München Jerman untuk melakukan registrasi. Polisi membagikan air minum bagi para pengungsi yang kelelahan. Berdasar aturan Uni Eropa, pengungsi harusnya memohon suaka di negara pertama ia mendarat di Eropa. Namun Jerman mengimbau, pengungsi Suriah jangan dikirim balik ke negara pertama dimana mereka mendarat. ©Reuters/M. Dalder
Ribuan pengungsi tiba di Salzburg Austria atau München Jerman untuk melakukan registrasi. Polisi membagikan air minum bagi para pengungsi yang kelelahan. Berdasar aturan Uni Eropa, pengungsi harusnya memohon suaka di negara pertama ia mendarat di Eropa. Namun Jerman mengimbau, pengungsi Suriah jangan dikirim balik ke negara pertama dimana mereka mendarat. ©Reuters/M. Dalder

Dikabarkan, sekitar 400 imigran-sebagian besar berasal dari Suriah-tiba di Muenchen, Jerman selatan. Mereka tiba di kota itu menggunakan kereta api dari Hungaria.

Para pengungsi tampak tersenyum lega setelah tiba dengan selamat di Jerman. Polisi membawa mereka keluar stasiun untuk didaftar. Kemudian, dengan menggunakan bus, para pengungsi diangkut menuju tempat penampungan. Seorang pemuda asal Suriah, Mohammad al-Azaawi (18), mengaku meninggalkan Suriah karena perang yang ada di negara itu. Ia menunjukkan bekas luka di perutnya yang disebabkan bom mobil.

Saudaranya, Ahmed, mengatakan, mereka membayar hingga 3.365 dollar AS, setara dengan Rp 47,1 juta, untuk dapat mencapai Eropa. Mereka telah melintasi Turki, Yunani, Macedonia, Serbia, Hungaria, dan Austria. Untuk membayar itu semua, keluarga mereka terpaksa menjual rumah.

“Kami lolos dari kematian di Suriah. Kami ingin tinggal di sini untuk masa depan yang lebih baik,” katanya.

Sebelumnya, sebagian pengungsi lain telah menuju Salzburg, Austria. “Aku tidak percaya, aku akhirnya meninggalkan Budapest,” kata Ephran (18), pengungsi asal Suriah.

Polisi Jerman di Rosenheim dekat perbatasan Austria mengatakan, mereka tidak lagi akan menggeledah kereta yang masuk. Jerman mengatakan, akan menerima semua aplikasi suaka dari Suriah daripada mengirim mereka kembali ke negara Uni Eropa di mana mereka masuk pertama kali.

Disambut Tangan Terbuka. Berbeda dengan di negara-negara Transit, Saat para pengungsi tiba di Austria atau Jerman mereka disambut dengan tangan terbuka. Para pengungsi mendapat pembagian makanan dan minuman. Anak pengungsi ini tertawa riang mendapat hadiah mainan dan boneka. ©Picture-alliance/dpa/N. Armer
Disambut Tangan Terbuka. Berbeda dengan di negara-negara Transit, Saat para pengungsi tiba di Austria atau Jerman mereka disambut dengan tangan terbuka. Para pengungsi mendapat pembagian makanan dan minuman. Anak pengungsi ini tertawa riang mendapat hadiah mainan dan boneka. ©Picture-alliance/dpa/N. Armer

PBB mencatat, setidaknya tahun ini 300.000 pengungsi tiba di Eropa. Mereka melarikan diri dari konflik di Afrika dan Timur Tengah. Dalam upaya untuk menemukan harapan hidup baru, lebih dari 2.500 pengungsi tewas dalam perjalanan menuju Eropa. Sebagian besar dari mereka tewas saat berupaya melintasi Laut Tengah.

Para pengungsi itu sebagian besar berasal dari Suriah. Menurut catatan PBB, dari total jumlah pengungsi yang berupaya mencapai Eropa, 43 persen di antaranya berasal dari Suriah. Sebanyak 10 lainnya berasal dari Eritrea, 5 persen berasal dari Nigeria, 3 persen dari Somalia, dan 27 persen sisanya dari beragam negara.

Upaya penanganan krisis itu sempat menemui tantangan ketika sebagian negara Uni Eropa menolak memainkan peran lebih. Meskipun ada sedikit perubahan, sebagian negara Eropa, terutama negara yang masih berjuang dengan kondisi ekonomi dalam negeri mereka, tetap menolak.

Perdana Menteri Perancis Manuel Valls di Calais mengatakan, banyak negara yang menolak untuk memainkan peran mereka. “Ini bertentangan dengan semangat Eropa dan kita tidak bisa menerima,” kata Valls.

Perancis berencana membangun sebuah kamp penampungan baru bagi migran di Calais, tahun 2016. Perdana Menteri Polandia Ewa Kopacz mengatakan, negaranya bisa menambah jumlah pengungsi yang akan diterima. Sementara itu, negara-negara seperti Hungaria justru membangun pagar kawat berduri untuk menahan agar pengungsi tidak masuk ke negara itu. Bulan ini, 50.000 pengungsi telah melewati perbatasan negara itu. [AFP/Reuters/Acehraya]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY