Kabut Asap Ibarat Malaikat Pencabut Nyawa

729
Dua petugas dari Dinas Kesehatan Pemprov Jambi membagikan masker gratis kepada pengendara yang melintasi Jalan A. Rahman Saleh, Jambi, Rabu (9/9). Pembagian masker itu untuk mengantisipasi dampak kabut asap yang menyebabkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA). ANTARA FOTO/Wahyu Putro

Acehraya.co.co.id – Sejak beberapa bulan terakhir, kabut asap mengepul di wilayah di Riau. Penyebabnya, kebakaran hutan dan lahan di provinsi itu ditambah asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan yang juga terjadi di Jambi dan Sumatera Selatan.

Kabut asap, merupakan bencana tahunan yang menyelimuti Riau sejak 18 tahun terakhir. Pembukaan area hutan menjadi lahan perkebunan menjadi pemicu utama terjadinya kebakaran. Ongkos yang dikeluarkan dengan cara membakar lahan gambut jauh lebih murah dari pada membayar orang untuk membuka hutan menjadi lahan.

Kabut asap tak hanya menyebabkan kerugian materil di segala sektor, tapi juga membahayakan keselamatan warga yang menghirupnya. Tahukah Anda bahaya besar yang ditimbulkan karena menghirup asap berwarna putih kehitaman-hitaman itu?

Dokter spesialis paru dan pernapasan Riau, dr Munir Umar Sp.P, menjelaskan, bahaya sesungguhnya yang ditimbulkan oleh asap adalah kematian massal. Pasalnya, asap mengandung zat berbahaya seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrit dioksida, hidrokarbon, dan banyak lagi, yang efeknya menganggu oksigen dalam tubuh.

“Seperti karbon monoksida itu merupakan zat berbentuk gas yang sangat berbahaya untuk tubuh manusia. Jika menghirup dalam waktu yang cukup lama, zat ini membuat daya tahan tubuh dan kekebalan tubuh manusia melemah. Kemudian muncullah penyakit asma menjadi akut, infeksi saluran pernapasan akut. Jika ini terjadi yang dampaknya adalah kematian,” terang dr Munir Umar saat ditemui Okezone di tempat praktiknya.

“Banyak kasus yang kita jumpai, penderita asma akut atau penderita penyakit paru mendadak pingsan kemudian meninggal mendadak. Ini karena zat dalam asap ini menyebabkan sirkulasi oksigen dalam tubuh menurun. Karena kekurangan oksigen inilah yang menyebabkan kematian karena penderita sulit bernapas,” tambah Munir.

Menurutnya, asap yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan juga mengandung zat berbentuk partikel yang berbahaya bagi kesehatan warga, seperti zat TSP, PM 10, PM 5. Jika seseorang terlalu sering menghirup zat-zat berbahaya itu, dapat terjangkit radang saluran pernapasan atau bronkitis.

“Untuk penderita asma, jika menghirup bisa kambuh lagi bahkan semakin berat dan bisa berdampak pada kematian. Kemudian bahaya yang paling mengerikan adalah mengakibatkan kanker paru. Jika sudah terkena kanker paru kesempatan untuk sembuh, kecil. Ini terjadi jika sudah terlalu banyak menghirup asap dalam rentang waktu lama,” ucap dokter yang sudah 30 tahun mengabdi di RS Ibnu Sina Pekanbaru itu.

Untuk itu, dia mengimbau warga agar waspada dan berusaha untuk tidak keluar rumah selama asap masih menyelimuti Pekanbaru. Dia juga meminta warga untuk tidak menyepelekan dampak kabut asap, seperti ISPA, iritasi mata, diare, iritasi kulit.

“Bayangkan saja, jiwa menghirup asap rokok yang jumlahnya sedikit saja sudah berbahaya, apalagi menghirup asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan ini tentu bahayanya lebih besar. Penyakit seperti kanker paru, asma akut sangat bisa dialami banyak warga. Karena kita tahu warga Riau sudah menghirup polusi udara selama 18 tahun,” ucapnya.

Untuk menghindari itu, Munir berharap warga benar-benar bisa mengurangi aktivitas di luar rumah jika terjadi kabut asap. Jika pun harus keluar pakailah masker yang benar-benar standar. “Masker yang standar adalah N95. Masker ini bisa bisa menyaring zat berbahaya asap. Jadi yang selama ini dipakai yang tipis-tipis yang sering dibagikan itu kurang baik. Karena tidak semua zat bisa tersaring,” ucapnya. [okezone]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY