Ada Mafia Apa Saja Di Indonesia ?

7597

Acehraya.co.id – Pertama kali mengetahui bahwa dunia memiliki kosa kata “mafia” adalah pada tahun 1985. Apabila merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi mafia adalah “perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal).

Beberapa pendapat juga mengartikan kata Mafia adalah suatu organisasi kriminal dengan aturan tak tertulis, namun keras dan tidak mengenal toleransi. Mafia juga berarti penindasan, arogansi, kerakusan, monopoli untuk memperkaya diri, kekuasaan dan hegemoni atas orang lain.

Menurut Cesare Terranova: “Dalam dunia mafia, citra kedermawanan dan keberanian harus dihancurkan, karena seorang mafioso adalah kebalikannya”. Mafia Italic juga dikenal dengan La Costa Nostra yang artinya “hal ini milik kita”, atau “urusan kita”, atau “this is our business”.

Mafia berasal dari kepulauan Sicilai. Komplotan ini menjadi sarana untuk saling melindungi anggotanya pada masa pendudukan Spanyol. Namun ada juga yang pendapat bahwa mafia bermula sejak pemberontakan melawan Raja Charles I di Sicilia tahun 1282.

Serta ada pula yang berpendapat, mafia berasal dari teriakan “Ma Fia! Ma Fia!” seorang wanita Sicilia di Palermo yang putrinya habis diperkosa serdadu Perancis. Dan yang terakhir, kata Mafia adalah singkatan dari “Mortre Alla Francia Italia Anela” (kematian bangsa Perancis untuk tangisan Italia).

Sekitar abad ke 19 s/d 20 pertengahan, Banyak orang Italia lebih mengandalkan mafia dalam penyelesaian masalah mereka, dari pada harus berurusan dengan kepolisian yang mereka anggap korup. Selanjutnya, aktivitas kriminal mafia jauh lebih halus, canggih dan global (mendunia).

Walaupun begitu, jenis kejahatan mafia tetap sama yaitu, pemerasan, rentenir, penyelundupan alkohol, narkoba, prostitusi, judi ilegal, dll. Dan seperti diketahui, mafia-lah yang menyulap Las Vegas dari gurun gersang menjadi pusat perjudian dunia yang makmur bergelimang Dolar.

Mafia memang tidak selalu terpaut dengan hal-hal yang berbau kejahatan. Namun pastinya, filosofi Mafiusu berkembang ke berbagai arah. Seperti kita ketahui sekarang, kata mafia bukan sekadar orang atau sekelompok orang yang menjalankan pekerjaan kotor, melainkan sebuah filosofi juga. Ada persaudaraan, ada keluarga, ada kesetiaan, yang kemudian menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, berkelindan: Mafiusu (disebut juga Mafioso, yang bermakna ‘lelaki terhormat’).

Bukan lagi cuma persaudaraan, keluarga, dan kesetiaan dalam ruang lingkup pribadi, suku bangsa, dan agama, tapi juga bisnis, yang kian lama kian mengarah ke bisnis kotor, bisnis yang menjadikan ancaman, senjata, dan penghilangan nyawa, sebagai bagian dari negosiasi. Dalam kesehariannya, para Mafiusu atau Mafioso ini menjalankan kode etik tersendiri.

 Ada Mafia Apa Saja di Indonesia ?

Mafia di Indonesia pada dasarnya mirip dengan apa yang dilakukan di negara seperti Italia dan Amerika, namun pengaruh mereka di masa lalu tidaklah sebesar pada masa sekarang dan sebelum era sekarang (baca : orde baru).

Betapa tidak, sampai hari ini problem bangsa ini masih terus menggeru dan selalu saja rakyat yang menjadi tumbalnya. Rontoknya perekonomian Indonesia disebabkan Bom Waktu yang ditinggalkan rezim pemerintahan Soeharto yang dikenal otoriter. Ada mafia apa saja di Indonesia ?

Mafia Listrik

172629_rizalIngatan terhadap mafia kembali singgah di Indonesa, setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, menyebut ada mafia di PLN. Khususnya terkait listrik prabayar (listrik pulsa atau token). Menurut Rizal, sistem listrik prabayar sangat merugikan masyarakat, karena nilai manfaat riil yang diterima dari nominal pulsa listrik yang dibelinya rata-rata hanya 70 persen.

“Jika orang beli (pulsa) Rp 100 ribu dapatnya ternyata cuma 73 ribu. Atau beli Rp 50 ribu, isinya hanya 34 ribuan. Kan, untungnya sudah besar sekali. Sementara untuk pengadaan listrik prabayar ini terjadi monopoli pula. Dan pemaksaan. Pemasangan baru wajib prabayar. Jika terjadi pemutusan, maka ketika disambungkan kembali juga harus prabayar. Ke depan, PLN mesti memberikan kebebasan pada masyarakat untuk memilih. Mau pakai prabayar atau pascabayar,” ucapnya.

Rizal Ramli barangkali agak kurang cermat dalam soal hitung-hitungan. Ia, misalnya, membandingkan antara pulsa listrik dengan pulsa telepon selular. Sama-sama pulsa, memang, tapi pembandingan ini tetap bukan apple to apple. Sebab hitung-hitungan antara selular dengan listrik yang menggunakan satuan Kwh, tidak sama.

Pun demikian, kecurigaan-kecurigaan lain yang ia paparkan, cukup beralasan. Memang ada banyak keanehan dalam kebijakan listrik prabayar, dan ini patut untuk ditelisik lebih lanjut. Apakah benar ada korupsi di sana? Apakah benar ada kongkalikong?

Di luar perkara potensi kerugian negara ini, istilah ‘Mafia Listrik’ yang dikedepankan Rizal Ramli menambah panjang daftar mafia di Indonesia. (Baca : Rizal Ramli, Token Listrik Itu Kejam)

Mafia Asap

Rindu-Akan-langit-biru-via-awndyzLain mafia listrik, lain lagi dengan kosa kata mafia Asap. Kata mafia asap memang baru terdengar beberapa bulan belakangan seiring dengan luasnya pemberitaan diberbagai media tentang kebakaran asap yang melanda Indonesia.

Mafia Asap, yakni orang atau kelompok orang atau perusahaan yang membakar hutan dengan mudahnya untuk membuka lahan perkebunan dan menyebabkan jutaan orang sesak nafas. Riau merupakan salah satu Propinsi di Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dengan potensi gambut yang bias menjadi cadangan Karbon di Dunia. Kebakaran hutan dan lahan menjadi pemicu buruknya tata kelola hutan Riau, sehingga menyebabkan Riau sebagai salah pengekspor asap dunia.

Riau bukan hanya menjadi sebagai salah satu provinsi penghasil minyak, namun ternyata sudah 18 tahun juga Riaun menjadi langganan tetap penghasil asap. Hal ini di sebabkan banyaknya kebakaran hutan dan lahan di seluruh Kabupaten/Kota di Riau oleh oknum-oknum perusahaan yang tidak bertanggung jawab dan tentu hal ini sangat memprihatinkan.

Bahkan salah satu kampung yang berada di Provinsi Riau sudah dijuluki dengan nama kampung asap. Desa Sungai Tohor di Kabupaten Kepulauan Meranti terletak di sebuah pulau yang dikelilingi kawasan hak konsesi perusahaan besar dan merupakan langganan api. Warga desa tersebut selalu terkepung asap setiap tahun selama hampir dua dekade terakhir.

Banyak perusahaan juga membangun kanal-kanal untuk mengeringkan gambut yang berakibat pada kebun sagu warga. Sagu di desa itu adalah sumber makanan pokok dan kanal mengakibatkan tanah turun sehingga gambut dan sagu warga kering. (Baca : Bencana Asap Riau Makan Korban)

Mafia Minyak

1047611_20150805075311Lantas ada lagi dengan nama Mafia Minyak. Ribut-ribut mafia minyak yang ditudingkan banyak pihak ternyata salah sasaran. Mengingat potensi penyelewengan dan kongkalikong bisnis minyak dan gas sebenarnya bukan di sektor impor tapi hilir dalam negeri. Korbannya adalah rakyat kecil yang seharusnya menikmati subsidi BBM.

Dimana Mafia minyak yang sebenarnya bukan di bidang impor BBM tapi mafia yang mengambil jatah minyak subsidi kemudian dijual kepada pihak swasta (mafia minyak). Misalnya, salah satu BUMN mendapat jatah solar subsidi 100.000 ton maka diambil oleh oknum 30% untuk dijual kepada swasta (mafia minyak) dengan harga subsidi. Lalu pihak mafia menjualnya kepada keperusahaan tambang dan lain-lain dengan harga BBM industri. Berapa kerugian negara?

Sementara mafia minyak di sektor hilir yaitu yang bermain-main dengan BBM subsidi jelas akan menggerogoti kas negara. Kalau saja dari total subsidi BBM dan listrik tahun ini diperkirakan menembus angka Rp392 triliun kemudian dikorupsi 20% tentu bukanlah nilai yang sedikit. (Baca : Siapa Mafia Minyak dan Gas di Indonesia)

Mafia Beras

MAFIA-BERQASSSSekali lagi logika seperti dijungkirbalikkan di negeri ini. Itu terjadi dengan melambungnya harga beras di hampir seluruh wilayah, padahal stok beras dikatakan cukup. Adalah permainan mafia beras yang mengatur harga dalam kenaikan harga beras di pasaran.

Anggota DPR dari Fraksi Golkar itu menemukan adanya indikasi mafia beras dalam praktik-praktik perdagangan di sejumlah daerah seperti Sidoharjo, Sragen dan Ngawi. Ia mencermati perusahaan-perusahaan swasta itu langsung memborong hasil panen beras supaya petani tidak menjualnya ke Bulog. Setelah membeli dari petani dengan harga yang lebih tinggi dari Inpres, perusahaan swasta itu dapat dikatakan telah menguasai stok beras di daerah tersebut. “Sekarang ini swasta masih boleh melakukan penimbunan. Karena pemerintah tidak akan impor, maka perusahaan nasional melakukan aksi borong, ditimbun. Kemudian ketika nanti posisi menjelang Ramadan kebutuhan meningkat, (timbunan) ini tidak mereka keluarkan. Otomatis akan ada isu kelangkaan, maka dari itu terjadi kenaikan harga, dan di situ mereka (mafia beras) dapat keuntungan,” kata Firman

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, selama ini, pemerintah tidak serius memperhatikan laju harga beras sebagai masalah ekonomi. Lantaran ketidakseriusan ini, harga beras menjadi bancakan para mafia dan membuat persaingan pasar menjadi tidak sehat. “Mafia beras selama ini menikmati keuntungan abnormal hingga triliunan rupiah,” ujar Enny. (Baca : Topik Mafia Beras Di Indonesia)

Dan Mafia-Mafia Lainnya

Ada banyak sekali berbagai mafia yang masih bertebaran di seluruh penjuru negeri Indonesia, seperti Mafia Minyak, Mafia Beras, Mafia Daging, Mafia Gas, Mafia Ikan, Mafia Tanah, Mafia Judi, Mafia Hukum dan mafia-mafia lainnya.

Dan jauh sebelumnya dikenal pula istilah Mafia Berlekey, yakni sekumpulan ekonom lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat, yang diandalkan Presiden Soeharto untuk mengendalikan perekonomian nasional. Istilah yang pertama kali dirujuk oleh kolumnis majalah Ramparts, David Ransom, pada tahun 1970. (Baca : Siapa Tokoh Mafia Berlekey Di Indonesia ?)

Di berbagai bidang, mafia-mafia ini melakukan kerja sistematis untuk melakukan penggerogotan yang menjerumuskan negara kepada kesulitan tiada akhir. Ada lagi yang lain? Mungkin ada dan masih banyak. (Baca : Revolusi Mental Di Negeri Para Mafia)

Dan sekiranya memang ada mafia-mafia lain lagi yang bertebaran di Indonesia. Untuk itu, silakan anda tambahkan sendiri. “Tali rafia tali sepatu, para mafia selalu bersatu.” (CB/Dari berbagai sumber)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY