Harimau Sumatera Antara Api dan Asap Di Provinsi Riau

2128
Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) Foto : Aceh Indie Photo/Azhar

Acehraya.co.id – Kabut asap di Riau merupakan hal terburuk dalam pengelolaan hutan dan lahan di Indonesia, pembakar hutan bersatu padu merusak hutan dan lahan di Bumi Lancang Kuning, kabut asap tebal menyebar ke seluruh Riau dan Provinsi tetangga.

Ini salah satu akibat dari aplikasi pembukaan hutan dan lahan dengan biaya murah (low cost) dengan api (pembakaran lahan dan hutan), hasilnya kabut asap, dampaknya penderitaaan bagi masyarakat akibat pencemaran udara dan turunnya kualitas lingkungan.

Kejadian ini berulang dari tahun ke tahun, ini seperti ungkapan pepatah ”Hanya Keledai yang akan terjatuh kelubang yang sama (dua kali)“, seperti inilah pengelolaan hutan,perkebunan dan lahan dilakukan oleh Pemerintah di Provinsi Riau, Pembakaran hutan dan lahan tanpa ada yang mampu mencegahnya kecuali datangnya hujan, hingga puncaknya yang terparah terjadi pada bulan Agustus – September Tahun 2015.

Asap hasil kebakaran hutan dan lahan secara umum berisi gas CO, CO2, H2O, jelaga, debu (partikel), ditambah dengan unsur-unsur yang telah ada di udara seperti N2, O2, CO2, H2O, dan lain-lain. (Samsul Bahri, Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, Kepala Bidang Perencanaan dan Penunjang Pelaksanaan UPT Hujan Buatan, BPPT. 2002).

Kandungan asap ini berbahaya bagi mahluk hidup, baik terkena langsung maupun tak langsung, hingga dimasa yang akan datang, kandungan logam berat akibat asap dan partikelnya dapat larut di udara dan berproses melalui air hujan hingga meretas pada sistem rantai makanan di alamliar, kejadian dapat menurunkan kualitas genetis.

Dampak lainnya dari kegiatan pembakaran hutan dan lahan serta kabut asap adalah matinya spesies tanaman hingga matinya satwaliar yang terbakar terkepung api atau mengirup udara kotor secara langsung. Berbagai jenis fauna ini merupakan penyeimbang alam dan jika kelestariannya terganggu membuat alam menjadi tidak lagi seimbang.

Seperti apa dampak kabut asap dan kebakaran lahan terhadap perkembangan populasi harimau Sumatera yang berada di zona bahaya asap dan kebakaran hutan dikawasan hutan alam Riau.mengutip data dari Green paece 2014, Keberadaan titik api sebanyak 857, terjadi di habitat Harimau Sumatra dan sisanya 253 berada di luar habitat. Bencana buatan manusia ini menjadi ancaman serius bagi habitat harimau Sumatra dan satwa lainnya, apakah harimau Sumatera mampu berdaptasi, faktanya Ekosistem di sekitar wilayah Harimau Sumatera sedang dikikis oleh kegiatan manusia di provinsi Riau.

Skenario Satwa Mangsa

Dari segi ekologis, Kebakaran hutan dan lahan secara langsung kerusakan tersebut adalah matinya spesies tanaman sebagai pakan utama satwa herbivora seperti rusa,kijang, babi hutan adan bermacam primata, hal Inimengganggu kehidupan Satwa mega predator seperti harimau Sumatera, akibat berkurangnya pakan.

Perubahan habitat akibat kebakaran dan gangguan anthropogenic (ulah manusia) lain sangat mempengaruhi perkembangan jumlah habitat pinggiran yang disukai beberapa spesies herbivora.

Pada tingkat ini penyusutan populasi herbivora akan berkurang. Dengan kondisi demikian, ada kemungkinan besar terjadi kepunahan harimau yang hidup dalam kelompok habitat yang berskala kecil yang kurang memiliki konektifitas jelajah ke wilayah lain dimana harimau dapat bertahan hidup. kelompok-kelompok kecil yang terisolir ini adalah kelompok rentan.

Harimau dapat punah dalam pecahan kelompok habitat yang kecil yang telah mengalami penurunan mutu akibat faktor-faktor yang menentukan tadi, di samping faktor-faktor extrinsic seperti pengaruh spesies lain (misalnya pathogen, pemangsa atau pemburu liar) dan catastrophe (banjir, kebakaran atau kemarau) dan faktor intrinsik seperti demographic stochasticity (unsur peluang dari ukuran, struktur dan distribusi penduduk) serta kerusakan genetis atau dikarenakan oleh faktor-faktor ini semua terjadi sekaligus.

Satwa carnivora utama seperti harimau diestimasi oleh para peneliti (pendahulu), berada pada jaringan puncak dan akan menjadi besar dari segiukuran tubuh, namun, jarang dalam segi jumlahnya. mereka hidup dalam skala kecil dari energi yangtersedia dalam kehidupan, bahkan nyaris punah, dan merekalah yang pertama kali menderita apabila ekosistem di sekitar mereka mulai dirusak. (Wilson 1993).

Di sebagian wilayah hidup harimau dimana kelimpahan rusa, babi hutan dan kijang diperkiran mati atau hilang akibat kebakaran dan kabut asap, harimau Sumatera dikawasan ini mendekati skenario hilangnya satwa mangsa berarti kelaparan bagi harimau, maka jumlah populasi harimau diperkirakan akan menurun drastisdengan tingkat kepadatan yang rendah.ini membahayakan bagi kehidupan harimau Sumatera.

Di samping itu, Skenario lainnya yang lebih menguntungkan bagi harimau untuk bertahan hidup adalah dengan adanya blok hutan di habitat yang ada berdekatan dengan sungai dan sumber air lainya, yang tidak terbakar, diperkirakan harimau akan tertuju pada area ini. Maka area ini dapat dijadikan prioritas zona penyelamatan. 

Upaya Konservasi Harimau Sumatera di Riau

Faktanya, Jumlah Harimau Sumatera saat ini tersisa 400 individu diseluruh Sumatera. Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera, populasi harimau terus mengalami penurunan hingga 70 persen dalam seperempat abad terakhir. Di Provinsi Riau, saat ini diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau di Riau dan dari hasil pengamatan melalui kamera trap ditemukan 30 individu harimau Sumatera(WWF-Indonesia,2010)

Daerah konservasi harimau Sumatera di Riau telah dikembangkan oleh WWF-Indonesia dengan mengembangkan data dengan pendekatan ilmiah, daerah potesial tersebut di rawa gambut Kuala Kampar-Kerumutan, hutan dataran rendah di Tesso Nilo, and di Rimbang Baling and serta di kawsaan rimba Taman Nasioanal Bukit Tigapuluh (WWF-Indonesia,WWF Works On Sumatran Tiger Conservation, 2010)

Apakah harimau diwilayah ini telah mati, tinggal sepertiga ataupun jumlah populasi stabil, ini belum diketahui dengan pasti, kedepan sangat dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk pemantauan populasi di wilayah ini.

Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Harimau Sumatera 2007 -2017 yang dicanangkan oleh Kementrian Kehutanan RI sepertinya kian sulit dicapai,mengingat kerusakan hutan yang secara terus menerus terjadi di Riau, butuh keseriusan Pemerintah, baik Pusat, Provinsi hingga Kabupaten untuk menyelamatkan harimau di Riau, jika tidak, bakar membakar lahan dan asap akan muncul kembali di musim kemarau tahun 2015, 2016 dan seterusnya, hingga harimau dan hutan di Riau hilang. 

Usaha konservasi harimau Sumatera memang harus terus dilakukan agar menyelamatkan sisa populasi di hutan Riau, Harimau Sumatera adalah simbol perlawanan terhadap perkebunan Kelapa sawit, hutan tanaman industri dan berbagai pengrusakan hutan di Provinsi Riau, tapi lagi -lagi api dan asap akan membuat harimau sumatera punah secara perlahan di provinsi Riau. [am/Azhar]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY