[OPINI] Doto Versus Mualem, Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab

1158
Fokus cover majalah Modus Aceh (Modus Aceh)

Apakah Ureung Blahdeh Seulawah Harus Bertanggung Jawab ?

Membaca harian serambi indonesia edisi Rabu 16 September 2015, ada berita yang menarik pada halaman utamanya (halaman 1). Selain foto presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang sedang transit selama setengah jam di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, ada berita menarik yang patut di perbincangkan.

Judul berita yang penulis maksud adalah, ‘’Wagub Akui Putus Hubungan dengan Zaini’’. Didalamnya tertera kabar menarik tentang  pengakuan wagub Muzakkir Manaf menyangkut tidak harmonisnya hubungannya dengan gubernur Zaini Abdullah. Wagub dalam sebuah kesempatan, berpidato dihadapan masyarakat dengan jujur mengatakan bahwa memang kabar yang selama ini menghembus di berbagai media dan kalangan di  Aceh benar adanya, namun ia enggan merincikan penyebabnya apa.

Tersohor kabar dimana-mana, banyak yang menduga bahwa penyebab retaknya hubungan antara orang nomor satu Aceh dengan wakilnya adalah permasalahan proyek APBA. Namun beberapa kabar angin mengatakan, bahwa ini diakibatkan oleh keinginan keduanya untuk sama-sama maju dalam Pilkada Aceh 2017 mendatang, sedangkan mereka berasal dari satu partai yang sama, yaitu Partai Aceh. Adapun dugaan yang kedua ini mendapat perolehan suara terbanyak, mengingat antara Doto Zaini dan Mualem (panggilan akrab untuk mereka) secara terang terangan mendeklarasikan keinginannya untuk maju dalam Pilkada Aceh t­ahun 2017.

Sebagai masyarakat biasa, penulis ingin menyikapi berita tidak sedap ini dengan cara yang berbeda dari anggapan orang lain. Jika banyak orang menganggap berita tidak harmonisnya antara gubernur Aceh dan wakilnya gara-gara  sama-sama ambisius untuk memperpanjang kekuasaan, maka penulis melihatnya pada sisi berbeda.

Dari hasil cang panah dengan beberapa aktifis mahasiswa, dimana mereka sangat proaktif memantau situasi politik Aceh, maka hemat penulis menyimpulkan bahwa, tidak akurnya para pendukung serta pengusung Zaini Abdullah dan Muzakkir Manaf  juga berakibat pada tidak harmonisnya hubungan keduanya. Ini tidak jauh bedanya dengan situasi didalam sebuah rumah tangga. Dimana hubungan antara suami dan istri, ada kalanya menjadi kacau karena antara satu anak dan lainnya saling memihak dengan salah satu orang tuanya. Ini sesuatu yang tidak mustahil dalam sebuah hubungan.

Ureng Blahdeh Seulawah

Gelar ini disematkan oleh penduduk asli Kuta Raja (Banda Aceh dan Aceh Besar) kepada setiap warga yang berasal dari Kabupaten Pidie hingga Aceh Tamiang, datang untuk berdomisili di Kuta Raja. Entah bagaimana asal muasal istilah ini muncul, tetap saja untuk warga selain dari Kuta Raja, mereka sering dipanggiil Ureng Blahdeh Seulawah oleh penduduk asli Ibu kota provinsi Aceh.

Jika melihat pada sisi geografis, memang tidak ada salahnya penyebutan Ureng Blahdeh Seulawah ini ditujukan untuk masyarakat yang berasal dari Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Kota Lhokseumawe, Aceh Utara, hingga Aceh Timur dan sekitarnya.

Karena, antara daerah-daerah tersebut dengan pusat ibu kota provinsi Aceh, posisinya memang dipisahkan oleh gunung Seulawah. Setiap warga Kuta Raja akan berpergian ke wilayah itu, maka harus melewati gunung Seulawah terlebih dahulu.

Seulawah Agam, gunung yang memiliki ketinggian 1726 mdpl (meter diatas permukaan laut) ini, terletak di Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar. Dan merupakan salah satu gunung berapi tipe C di Provinsi Aceh (wikipedia.id).

Maka secara ilmah, sebutan penduduk asli Kuta Raja kepada pendatang yang berasal dari wilayah Pidie hingga Aceh Timur dengan Ureung Blahdeh Seulawah adalah sebuah keniscayaan yang harus diakui. Meskipun sebagian orang enggan disebut dengan Ureng Blahdeh Seulawah, namun pada kenyataan ini harus diterima dengan lapang dada.

Pemilih Mayoritas Adalah Ureng Blahdeh Seulawah

Dari data yang dikeluarkan oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, daftar pemilih tetap (DPT) pilkada Gubernur dan wakil gubernur yang digelar 9 April 2012, sebanyak 3.244.680 orang. Dimana pemilih terbanyak adalah kabupaten Aceh Utara, yaitu 377.780 orang. Disusul kemudian Bireuen (286.582 orang), Pidie (282.042 orang) dan paling sedikit adalah Kota Sabang dengan jumlah 23.871 pemilih (kip-acehprov.go.id).

Aceh Utara sebagai kabupaten Wagub Mualem berasal, dan ditambah dengan Kabupten Pidie, tempat dimana Doto Zaini dilahirkan, maka menjadi wilayah yang menghasilkan suara terbanyak untuk pasangan nomor urut 5 ini.

Sungguh masuk akal, jika saat ini Aceh yang di pimpin oleh Ureng Blahdeh Seulawah, kemudian kedua pemimpin yang dulunya dijuluki sebagai tokoh perdamain dan perjuangan ini tidak akur,  maka sapatutnya Ureng Blahdeh Seulawah pula yang bertanggung jawab untuk membawa pasangan berlabel (PA) Partai Aceh ini kembali rujuk.

Penulis beranggapan seperti ini, bukan berarti para pendukung yang ada di kabupaten lain tidak punya tanggung jawab untuk berdoa dan berusaha menjadikan orang nomor satu Aceh dan wakilnya akur kembali. Namun, merujuk pada banyaknya jumlah pendukung dari wilayah Blahdeh Seulawah dalam memenangkan keduanya, maka Ureng Blahdeh Seulawah paling berperan dan bertanggung jawab dalam hal ini.

Harus Komit Membangun Aceh

Terlepas dari pada urusan Ureng Blahdeh Seulawah atau bukan, semua komponen masyarakat Aceh harus berdoa agar  dan Mualem mau memperlihatkan keakrabannya dihadapan publik.  Sekalipun ini mustahil, maka perilaku akting dihadapan publik saja mencukupi. Mengingat, wajah baik Aceh dihadapan masyarakat luar akan tercoreng jika pemimpinnya saja tidak akur, “bukankah Aceh itu daerah Syariat Islam, dan orang Islam harus hidup dengan akur satu sama lain?”, mungkin kata-kata seperti itu yang muncul dari tamu luar Aceh jika tahu pemimpin di bumi serambi mekkah ini tidak harmonis.

Sekalipun gubernur Zaini Abdullah dan wakilnya Muzakkir Manaf sama-sama telah “menabuhkan” genderang perang pada Pilkada 2017 mendatang, namun masa jabatan keduanya masih tersisa kurang lebih dua tahun lagi. Dan sungguh tidak menyenangkan apabila dalam masa tersebut Aceh bagaikan wilayah yang hambar, tidak jelas pola kepemimpinanya.

Aceh yang masih menikmati banyaknya kuncuran dana Otonomi Khusus, harus dikelola dengan baik, profesional, kerja sama antara satu pemimpin dengan pemimpin yang lain, serta  dukungan dari semua komponen masyarakat yang ada di Aceh.

Begitulah gambaran yang ingin penulis angkat kepada publik, meskipun bukan berasal dari wilayah tersebut, namun saat ini hampir semua guru tempat penulis belajar adalah Ureng Blahdeh Seulawah yang penuh semangat, penuh rasa setia kawan dan nilai religius yang tinggi. Inilah kenapa penulis sebutkan bahwa Ureng Blahdeh Seulawah bertanggung jawab pada nasib hubungan orang nomor satu di Aceh dengan wakilnya. Pada tangan Ureng Blahdeh Seulawah nasib Aceh akan menjadi baik!. [Irfan Siddiq/ shiddiq889@gmail.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY