Akhir Kisah Yongki, Sang Gajah Penengah Konflik

1027
Mahalnya nilai harga dari sepasang gading gajah, membuat para pemburu terus memburu gading gajah yang berada di hutan Indonesia (Syahrol Rizal)

Acehraya.co.id – Kematian Yongki pada Jumat (18/9/2015), yang dibunuh dan diambil gadingnya oleh pencuri, merupakan pukulan bagi upaya konservasi satwa di Lampung. Bagaimana tidak, Yongki adalah salah satu pahlawan yang kerap mencegah jatuhnya korban manusia atau gajah saat terjadi konflik gajah dan manusia.

Yongki adalah seekor gajah jinak berumur 35 tahun yang tinggal di Posko Pemantauan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Wilayah Pemerihan, Lampung Barat. Di posko tersebut, ada pula 2 gajah jantan, Karnangin dan Renggo; 2 gajah jantan anakan, Tomi dan Sampot; serta 1 gajah betina, Arni.

Jumat sekitar pukul 04.00, posko itu disatroni pencuri. Tanpa belas kasihan, pencuri membunuh Yongki dan mencabut gadingnya.

Kematian Yongki meninggalkan kesedihan bagi banyak kalangan, termasuk petugas jaga yang tinggal sekitar 200 meter dari posko. Berita kematian Yongki pun segera tersebar. Tagar #RIPYongki langsung merebak di dunia maya.

Sejumlah petugas Taman Nasional Bukit Barisan segera datang melayat. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Lampung Subakir yang sedang berada di Bandar Lampung segera menempuh jarak sekitar 250 kilometer untuk melihat Yongki terakhir kalinya. Ketua Forum Mahout Indonesia yang juga mahout (pawang gajah) pertama, Nazarudin, pun datang dari Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur.

“Sebelum menjadi gajah pencegah konflik, Yongki adalah salah satu gajah liar yang kerap merusak kebun warga di Liwa, Lampung Barat. Tahun 1994, kami menangkap Yongki dan beberapa temannya yang tertinggal dari rombongan setelah merusak perkebunan warga,” kata Nazarudin.

Nazarudin dan sejumlah pawang lain membawa Yongki ke Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, untuk “mempertobatkan” mamalia raksasa itu. Badannya yang besar dan kepandaiannya membuat Yongki terpilih menjadi gajah penggiring. Teman-teman Yongki menjadi gajah tunggang dan gajah patroli.

Operasi penanganan konflik gajah di Way Kambas pada 1997 menjadi debut Yongki. Operasi demi operasi ia lalui dengan sukses. “Tidak tahu pasti berapa kali Yongki sudah terlibat dalam operasi pencegahan konflik. Kerugian masyarakat akibat serangan gajah liar juga tak terhitung. Jumlah gajah liar yang mati akibat konflik dengan manusia juga dapat ditekan,” tuturnya.

Nazarudin mengatakan, kelebihan Yongki ialah kemampuannya menggiring. Ia berani menggiring gajah yang lebih dewasa. Ia juga salah satu dari sedikit gajah yang mampu mencari jejak gajah liar dan mengantar tim penggiring pulang ke posko menembus rimbunnya hutan saat malam sekalipun.

Pada 2009, Yongki diperbantukan untuk mengatasi kasus serupa di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung Barat. Dengan kata lain, Yongki kembali ke kampung halamannya.

Yongki yang dahulu dianggap musuh masyarakat kini menjadi pahlawan untuk mencegah konflik gajah dan manusia. Prestasinya di Lampung Barat juga secemerlang masa tugasnya di Lampung Timur.

Dedikasi Yongki pernah dicatat Kompas pada terbitan tanggal 2 Mei 2010 berjudul “Gajah-gajah yang Menjadi Pahlawan”. Dalam tulisan tersebut dikisahkan, Yongki dan kawan-kawannya punya peran penting. Binatang itu sangat kuat, bisa menjelajahi kawasan hutan hingga masuk ke pedalaman, dan ditakuti binatang liar di hutan. Dengan naik gajah, polisi hutan merasa lebih percaya diri saat memantau taman nasional dan mengusir perambah hutan.

“Sudah sekitar 200 hektar kawasan rambahan yang bisa diselamatkan lewat patroli gajah,” kata Amri, Kepala Seksi Wilayah II Bengkunat Belimbing saat itu.

Untuk mengatasi konflik gajah liar dengan manusia, gajah itu juga efektif. Mereka bisa menggiring kawanan gajah liar dari perkampungan penduduk. Gajah liar harus dikembalikan ke habitatnya di hutan karena bisa melukai penduduk atau memakan tanaman milik rakyat.

Selama bertugas, Yongki beberapa kali berganti pawang. Salah satu pawang yang pernah menjadi rekan kerjanya adalah Heru Santoso (40). Heru menjadi kerabat Yongki selama 10 tahun sejak di Way Kambas hingga ke Bukit Barisan Selatan.

“Kerja sama dengan Yongki enak. Dia mudah diatur, tidak agresif jika dibandingkan gajah lain seumurannya. Waktu dipindahkan ke Lampung Barat, dia bisa naik turun truk sendiri. Rasanya dia tahu akan bertugas di kampung halamannya,” katanya.

Heru mengungkapkan, salah satu pengalaman berkesan bekerja bersama Yongki ialah operasi relokasi gajah dari Desa Sekincau ke Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Karena habitat di Sekincau terlalu dekat dengan permukiman warga, sejumlah gajah liar di Sekincau digiring memasuki wilayah konservasi di Taman Nasional Bukit Barisan.

“Saya dan Yongki dibantu sejumlah pawang dan gajah jinak lain menggiring gajah-gajah liar masuk ke taman nasional. Saya lupa berapa hari penggiringan gajah-gajah tersebut. Saya hanya ingat, kami berhasil membawa semua gajah dari Sekincau masuk ke Taman Nasional Bukit Barisan yang berjarak lebih kurang 20 kilometer,” ujar Heru.

Saat dihubungi Kompas, Sabtu, Heru mengatakan, dirinya masih tak percaya Yongki mati di tangan pemburu. Kematian Yongki di rumahnya sendiri merupakan kehilangan mendalam.

Ironi memang, Yongki mati di rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi dirinya. Kalau gajah jinak di posko pemantauan saja menjadi korban perburuan liar, bagaimana nasib gajah-gajah liar yang berada di dalam hutan dan jauh dari posko pemantauan. [Yunanto Wiji Utomo/harian kompas]

2 COMMENTS

Leave a Reply to SDN JATIMULYO 4 MALANG – Akhir Tragis Kisah Yongki, Sang Gajah Penengah Konflik #SaveGajahLampung Cancel reply