Daftar 5 Operasi Rahasia CIA Obok-Obok Negara Orang

2411
Central Intelligence Agency (CIA) adalah salah satu badan intelijen pemerintah federal Amerika Serikat (CIA)

Acehraya.co.id – Beberapa hari lalu, Badan Intelijen Luar Negeri Amerika Serikat (CIA) membongkar kembali kasus memo singkat harian untuk presiden (PDB) periode 1961-1965. Arsip tersebut termasuk arsip-arsip mengenai upaya kudeta di Indonesia jelang penculikan jenderal Angkatan Darat.

Sebanyak 19 ribu halaman memo harian CIA yang merujuk UU harus dibuka pada publik, karena status rahasia negaranya telah habis setelah 30 tahun.

Pusat intelijen AS ini berdalih aktor utama konflik G30S 1965 adalah faksi militer pimpinan Soeharto serta perwira yang loyal pada Partai Komunis Indonesia (PKI).

CIA tidak terbuka mengakui keterlibatan mereka dalam kudeta halus Indonesia itu, seperti diduga sejarawan John Roosa. Apalagi Ahmad Yani dan jenderal lain yang dibunuh di Lubang Buaya adalah sosok perwira yang dianggap dekat dengan AS.

CIA dalam arsipnya sekadar memberi rekomendasi Presiden Lyndon B. Johnson agar menunggu pemenang pertarungan politik yang nantinya melapangkan jalan bagi Orde Baru itu.

“Situasi Indonesia sementara ini membingungkan. Tidak ada hasil yang pasti untuk perubahan politik. Belum ada jawaban tentang adakah peran Soekarno di dalamnya. Dua pihak yang bergerak sama-sama mengklaim setia kepada presiden.”

Dugaan CIA terlibat dalam kisruh politik Indonesia pada 1965 bukan barang baru. Bahkan, bukan baru sekali ini CIA mengobok-obok negara lain untuk melancarkan kepentingannya.

Berikut ini lima operasi kotor yang dilakukan CIA yang terkuak karena sifat rahasia dokumen-dokumen terkait telah kedaluwarsa:

  1. Penggulingan Muammar Khadafi di Libya

Februari 2011 merupakan awal dari Revolusi Libya. Ujung dari revolusi ini adalah tersingkirnya diktator Libya, Muammar al-Qaddafi.

Tak hanya tersingkir pada Agustus 2011, Qaddafi kemudian ditangkap dan dibunuh pada Oktober 2011. Banyak yang menyebutkan penangkapan diktator ini lantaran campur tangan asing.

Setahun setelah pembunuhan Qaddafi, sebuah insiden yang menyerukan keanehan dalam revolusi terjadi. Kala itu, misi diplomatik AS di Beghazi diserang militan bersenjata.

Rupanya lusinan agen CIA sudah dikerahkan dari basis tersembunyi di dalam kota. Bala bantuan juga datang dari Tripoli, di mana kelompok misi diplomatik tersebut dibawa keluar dari negara itu.

CIA terpaksa mengakui bahwa mereka telah berada cukup lama di Libya, sejak Februari 2011, tepat saat revolusi dimulai. Mereka rupanya selama ini bersembunyi di pangkalan rahasia.

2. Operasi CHAOS

Operasi ini membuktikan intelijen AS merekayasa alasan menyerang Vietnam. Hal ini tentunya menimbulkan rasa sakit yang besar pada pemerintah di pertengahan tahun 1960an.

CIA sendiri berusaha menyingkirkan intervensi asing pada gerakan anti-perang Amerika dengan meluncurkan operasi CHAOS. Operasi ini dibuat lantaran adanya protes yang tidak dapat dikendalikan dengan mudah mengenai ‘kontra-budaya’.

Demi memperlancar operasi tersebut, presiden resmi CIA Lyndon B. Johnson, memata-matai warga AS. Tugas utama mereka untuk mengumpulkan intelijen yang dicurigai memiliki pengaruh asing, dan untuk menumbangkan mereka dari dalam.

Kelompok terkenal “Mahasiswa Untuk Masyarakat Demokratis” dan “Black Panthers” menjadi sasaran kala itu.

3. Pembantaian Sandi Phoenix

Program Phoenix merupakan sebuah program yang dipimpin CIA bersama dengan pasukan khusus AS dan pasukan komando Australia serta Vietnam Selatan. Program ini dibuat selama perang Vietnam. Tujuannya hanya satu, yaitu membunuh.

Anggota divisi Phoenix terlibat dalam penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan ribuan warga dicurigai sebagai simpatisan Vietcong (VC).

CIA mengumpulkan mereka yang dianggap memiliki pengetahuan tentang kegiatan VC, dengan cara ditangkap dan dibawa ke pusat interogasi regional.

Untuk mendapatkan informasi itu, orang-orang ini disiksa dengan cara diperkosa, bahkan disengat dengan sengatan listrik. Tak hanya itu, mereka juga dipukul dan dicambuk.

4. Operasi Ajax Kacaukan Iran

Keberhasilan dari operasi Ajax membuka jalan bagi semua operasi CIA di masa depan, termasuk di Irak, Nikaragua, Chile, hingga Libya. Operasi ini mengembalikan kekuasaan Shah Iran Reza Pahlevi pada 1953. Intelijen AS itu mendanai militer buat menggulingkan pemimpin pertama Iran yang terpilih secara demokratis.

Perdana Menteri Iran kala itu, Mohammed Mossadegh dipandang berkewajiban untuk menasionalisasikan industri minyak. Lantaran takut kalah banyak dengan Uni Soviet, maka dia memutuskan untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat.

Namun berbagai cara dilakukan untuk menentang Mossadegh. PM demokratis dianggap memberontak, menghasut, sampai akhirnya dia penjara. Shah Iran Reza Pahlevi akhirnya nanti digulingkan oleh Revolusi Islam yang dipimpin Ayatullah Khomeini pada 1979.

5. Operasi Mujahidin Lahirkan Al-Qaeda

Pada 1978, Afghanistan terpecah dua dalam perang saudara. Militan komunis berusaha untuk menguasai pemerintahan otonomi. Uni Soviet kala itu datang untuk memberikan dukungan.

Saat itulah Amerika Serikat datang dan menawarkan untuk melatih pemberontak yang berpaham Islam radikal. CIA mulai mendirikan tenda dan melatih pemberontak yang dinamakan Mujahidin.

Hal ini hanya merupakan bentuk mengalahkan kembali Uni Soviet. Namun sayangnya pelatihan yang mereka ciptakan ini malah berbalik menyerang mereka. Para Mujahidin kini membentuk kelompok-kelompok Islam yang kini lumayan ditakuti, yaitu Al Qaidah pimpinan mendiang Osamah Bin Ladin. Usamah pula yang nantinya berbalik menyerang pangkalan militer AS di banyak negara, termasuk memimpin serangan 11 September 2001 ke empat obyek vital Negeri Paman Sam. [merdeka]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY