Tradisi Seumuleung: Menabal Raja, Menabal Ingatan Sejarah

566
Ritual Seumeuleung Raja di Lamno, Aceh Jaya (Sumberpost)

Acehraya.co.id – Sejarah itu sangat penting. Tak heran, nenek moyang Aceh pun mewariskan peribahasa “Mate aneuk meupat jeurat, gadeh seujarah binasa bangsa”, anak mati bisa dicari kuburnya, sejarah musnah binasalah bangsa. Di tengah kelupaan penguasa akan sejarah, warga Daya Lamno, Aceh Jaya, tetap setia mempertahankan ritual bersejarah peninggalan leluhur mereka, Seumuleung.

Mendung hitam bergulung di langit Pantai Daya, Lamno, Aceh Jaya, Minggu (28/10) siang itu. Gerimis merintik membasahi tepian pantai yang terletak sekitar 70 kilometer arah barat daya Banda Aceh tersebut. Namun, cuaca kurang bersahabat itu tak membuat ribuan warga beringsut dari sekitaran Astaka Diraja, yang terletak sekitar 15 meter dari tanggul pantai. Satu yang mereka tunggu, ritual suci penabalan raja mereka, Raja Negeri Daya.

Astaka Diraja itu bukanlah berupa istana atau keraton megah. Hanya sebuah rangka bangunan semen dua lantai setengah jadi berukuran 10 x 12 meter tak berdiding. Siang itu, rangka bangunan sederhana itu disulap bak istana mungil. Tenda berhias berbagai ornamen khas tradisional Aceh ditambahkan. Di ujung tenda, singgasana raja yang didominasi warna kuning, ditempatkan. Ya, di tempat itulah ritual penabalan raja atau Seumulueng akan digelar.

Menjelang sore hari, Sang Raja Negeri Daya, Teuku Saifullah, pun menempati posisinya di depan singgasana. Di hadapannya para tamu undangan, termasuk raja-raja kerajaan sahabat duduk bersila. Dua orang pria bersorban dengan ikat kepala duduk di hadapan Raja. Nasi dan aneka lauk-pauk pun dalam wadah berhias tudung kuning terhidang. Dua pria bersorban yang disebut dayang itupun membuka tudung dan mempersilakan Raja menyantap makanannya. Namun, Sang Raja bergeming. Tak dimakannya makanan itu. Suasana senyap. Benak hadirin bertanya, apa kehendak Sang Raja. Sejurus kemudian, salah seorang dayang menjumput nasi dan lauk pauk, lalu menyuapkannya ke mulut Sang Raja. Dan, dengan senang hati Raja menerima suapan serta memakannya. Hadirin pun tersenyum lega. [burhanjayadattry.wordpress.com]

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY