Simak, Kisah Menarik Traveler Melihat Langsung Prosesi Seumeuleung Raja

898
Komplek Makam Sulthan Alaiddin Rianyat Syah Po Teumeureuhom Daya Lamno (@fahri_joely/ranseljak)

Acehraya.co.id – Aceh adalah salah satu wilayah negara republik Indonesia yang begitu beragam dengan kekayaan alam dan budayanya. Saat ini Aceh lebih dikenal dengan nama Nanggroe Aceh Darussalam. Aceh di masa lalu sebenarnya memiliki sejarah yang sangat panjang dan kompleks, terutama dalam perannya membentuk negara kesatuan republik Indonesia kita tercinta ini.

Pada masa lalu, sebelum adanya Indonesia, Aceh adalah suatu kerajaan yang sangat kaya raya. Perdagangan di bandar-bandar Aceh bertambah maju setelah Portugis mengalahkan Malaka pada tahun 1511, bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Aceh Darussalam. Takut pada Portugis, para pedagang dari Asia dan Arab mulai menghindari Selat Malaka dan beralih ke pelabuhan-pelabuhan di Aceh.

Sejak itu, dominasi Aceh dalam perdagangan dan politik di wilayah itu menguat, dan mencapai puncaknya antara tahun 1610 dan 1640. Karena hidup dalam komunitas terbatas selama beratus-ratus tahun, darah Portugis masih mengalir dalam diri sebagian masyarakat Lamno, terutama yang menetap di Kuala Daya dan Lambeuso serta Ujong Muloh.

Selain identik sebagai daerah asal gadis bermata biru, Lamno juga dikenal sebagai negeri para raja. Tokoh yang sering disebut misalnya Po Teumeureuhom. Bernama lengkap Sultan Alaidin Ri’ayat Syah, dia lah yang membawa Islam menyebar ke kawasan itu.

Pemerhati budaya di Lamno mengatakan, Po Teumeureuhom berasal dari kerajaan Samudra Pasai. Bersama rombongannya, dia mulai melakukan perjalanan mulai dari Desa Mareu mengikuti arah hulu sungai dan kemudian menyisir kawasan pesisir pantai. Dan rombongannya kemudian berhasil menaklukkan raja-raja kecil disepanjang aliran sungai.

Di kawasan itu, awalnya terdapat kerajaan meliputi kerajaan Lamno, Keuluang Daya, Kuala Unga dan Kuala Daya. Setelah berhasil menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil itu, Po Teumeureuhom tak langsung membubarkannya. Namun Wilayah yang ditaklukinya diberikan hak otonomi dan tunduk dalam Kerajaan Daya atau yang dikenal dengan Meureuhom Daya.

Sumeuleung Raja yang dilakukan oleh Dayang kerajaan (@fahri_joely/ranseljak)
Sumeuleung Raja yang dilakukan oleh Dayang kerajaan (@fahri_joely/ranseljak)

Sebagai bentuk terima kasih rakyat kepada sang raja, digelar lah upacara Peumeunap dan Seumeuleung. Dalam upacara itu raja disuapi nasi yang berasal dari hasil panen terbaik. Upacara penabalan raja ini kemudian dikenang dan dilangsungkan sampai sekarang setiap tanggal 10 Zulhijjah atau pada hari raya kurban (Idul Adha).

Pada kesempatan kali ini, Fakhrizan salah satu traveler asal Aceh berkesempatan untuk melihat langsung proses Seumeuleung raja yang dilaksanakan pada sabtu (26/09/2015) di kawasan Lamno, Aceh Jaya. Penasaran, bagaimana cerita perjalanan Fakhrizan melihat langsung prosesi Seumeuleung raja di Lamno? [Fakhrizan/ranseljak]

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY