Perang Opini Terus Digalang, Iran-Saudi Politisasi Tragedi Mina

793
Para jamaah haji sebelum tragedi Mina (AFP)

Acehraya.co.id – Tragedi Mina yang sejauh ini menewaskan 769 orang serta mencederai 934 jemaah haji itu disusul ‘tragedi’ lainnya. Yaitu perang opini antara media massa Iran dan Arab Saudi yang saling menuduh satu sama lain sebagai pihak bertanggung jawab atas insiden saling injak ketika prosesi lempar jumrah tersebut.

Sejak tiga hari terakhir, kedua kubu saling melontarkan ‘fakta’ baru terkait penyebab Jalur 204 menuju Jamarat bisa disesaki ribuan orang dalam satu waktu. Bukan hanya media massa, pemerintah Iran-Saudi pun ikut-ikutan memberikan pernyataan provokatif.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei mengutuk tindakan rezim Bani Al Saud yang dianggap sudah tidak becus mengelola haji sendirian. “Saudi melakukan tindakan yang salah dalam menjamin keselamatan jemaah,” kata Khamenei dalam situs resminya, seperti diberitakan Aljazeera.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, sampai menggunakan forum PBB pada Sabtu (26/9) mengkritik Saudi. “Kejadian itu sangat mengoyak hati kami. Harus ada penyelidikan untuk mengetahui apa penyebabnya,” tuturnya.

Presiden Iran Hassan Rouhani (AFP)
Presiden Iran Hassan Rouhani (AFP)

Tak terima dikritik keras, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir balik menyerang pemimpin Negeri Para Mullah. Dia mengatakan Iran tak perlu mempolitisasi urusan yang mereka tidak ketahui. Al-Jubeir menjamin negaranya telah menggelontorkan dana besar saban tahun buat memastikan jutaan jemaah beribadah dengan lancar.

“Iran seharusnya lebih bisa berempati (pada korban) daripada mempolitisasi tragedi yang menimpa para jemaah yang menjalankan ibadah,” ujarnya ketus seperti dikutip Arab News, Minggu (27/9).

Dalam pernyataan terbarunya, Khamenei berkukuh bahwa Saudi tidak bisa berdalih ini-itu untuk menutupi kegagalan manajemen ibadah haji tahun ini. Kematian begitu banyak orang, di tempat yang sudah berkali-kali mengalami insiden saling injak seperti Mina, dianggap bukti ketidakbecusan yang nyata.

“Kematian lebih dari 1.000 orang bukan masalah yang kecil. Negara-negara Muslim harus fokus pada ini,” ujarnya.

Insiden ini diyakini menjadi amunisi Iran yang sejak lama mengusulkan pelaksanaan haji di Makkah dan Madinah dijalankan bersama-sama. Minimal oleh setiap perwakilan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Tidak akurnya Iran-Saudi bukan barang baru. Kedua negara kaya minyak, namun pemerintahannya berbeda mazhab Islam itu, sejak dua dekade terakhir saling berebut pengaruh di Timur Tengah. Saudi mewakili tradisi Sunni yang menjadi mayoritas dunia Islam, sedangkan Iran mengusung sistem teokrasi mazhab syiah yang sukses menggulingkan pemerintahan boneka AS lewat revolusi 1979.

Beberapa konflik militer di jazirah Arab diyakini terkait langsung dengan perseteruan Iran-Saudi. Misalnya kekacauan di selatan Libanon, serta yang belum lama terjadi, perang saudara di Yaman. Ketika Saudi menyokong gerilyawan Sunni di Suriah, maka Syiah nyata-nyata memberi donasi pada Hizbullah di Libanon. Begitu seterusnya.

Iran, sebagai negara yang 136 warganya tewas dalam insiden saling injak di Mina pekan lalu, berencana mengajukan gugatan perdata maupun pidana. Bentuk gugatannya sedang dipikirkan, tapi pemerintah Negeri Mullah serius memperpanjang urusan salah kelola ibadah haji ini ke ranah hukum.

“Di bawah hukum internasional, kami bisa menggugat (Arab Saudi) berdasarkan insiden ini. Keluarga Al-Saud (penguasa Arab Saudi) seharusnya cepat merespon gugatan kami,” kata Jaksa Agung Iran, Ebrahim Raisi.

Belum diketahui apakah gugatan bisa dilancarkan lewat Mahkamah Internasional. Aljazeera melaporkan baik Iran maupun Saudi tidak menjadi anggota Mahkamah Internasional.

Pangkal tudingan Iran bermula dari laporan Ketua Tim Jemaah Haji Iran, Said Ohadi. Selepas salat Idul Adha, ribuan jemaah yang melewati rute Jalan 204 berbondong-bondong menuju Jamarat. Mereka mengejar waktu yang afdhal melakukan rukun wajib haji itu. [merdeka]