Aktivis Kesetaraan Bagi Kaum difabel, Sri Lestari Melakukan Perjalanan Sejauh 1.800km

616
Berbagai kisah perjalanannya diceritakan dalam sebuah blog: perjalananmbaksri.tumblr.com. / BBCIndonesia

Acehraya.co.id – Sri Lestari, aktivis kesetaraan bagi kaum difabel, melakukan perjalanan melintasi Sulawesi untuk meningkatkan kesadaran akan hak-hak kaum berkebutuhan khusus.

Dengan mengendarai motor yang telah dimodifikasi, Sri ditargetkan dapat menjelajah Manado, Gorontalo, Palu, Poso, Rantepao, hingga Makassar dalam waktu 23 hari.

Sri Lestari mengalami paraplegia pada usia 23 tahun, kondisi di mana bagian bawah tubuh lumpuh akibat cedera saraf tulang belakang, dan sejak itu harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.

Misi yang diberi nama “Perjalanan untuk Perubahan” ini juga dilakukan untuk mendorong kemandirian bagi para difabel (atau different ability) yang putus asa karena keterbatasan.

“Memilih Sulawesi karena saya melihat banyak difabel (different ability) yang belum aktif keluar (atau mandiri),” katanya kepada BBC Indonesia.

Selain karena keterbatasan fasilitas, banyak difabel yang juga tak didukung oleh keluarga untuk mandiri. “Orang tua kadang menghalangi karena terlalu menyayangi anaknya (yang difabel), kadang disembunyikan.”

Menyebar Semangat

Teman yang akrab dipanggil Vano ini juga seorang paraplegi. Ia mengalami kecelakaan mobil pada April 2014 lalu dan sejak saat itu hidupnya berubah," kata Sri. / BBCIndonesia
Teman yang akrab dipanggil Vano ini juga seorang paraplegi. Ia mengalami kecelakaan mobil pada April 2014 lalu dan sejak saat itu hidupnya berubah,” kata Sri. / BBCIndonesia

Dalam perjalanan yang sudah dimulai pada Senin (21/09) kemarin, Sri berkesempatan untuk bertemu seorang sahabat pena, Stevano Repi atau Vano.

“Dulu saya setiap hari aktif bekerja dari pagi sampai malam. Namun sejak kecelakaan mobil satu setengah tahun lalu, saya tidak bisa apa-apa,” kisah Vano kepada Sri.

Vano mengalami kecelakaan pada April 2014, dan sempat putus asa, tidak mau makan, marah-marah, dan ingin bunuh diri.

Namun dalam kunjungan itu, Sri mengajarkan Vano untuk ‘mandiri’, salah satunya dengan mendorongnya mengendarai motor modifikasi untuk pertama kali.

“Saya mengerti sekali bagaimana susahnya bangkit dari rasa putus asa. Saya dulu pun mengalaminya,” tulis Sri dalam blog perjalanannya.

“Ketika kembali ke rumah, saking terharunya Vano sampai menitikkan air mata. Ketika ditanya bagaimana rasanya bisa membawa motor lagi, Vano tidak bisa berkata-kata dan hanya mengacungkan dua jempol.”

Sri juga bertemu dengan Ariel, seorang bocah penderita cerebral palsy yang akhirnya mendapat kursi roda. "Saya dan Ariel sama-sama selama 10 tahun berkutat dengan keterbatasan. Kami sama-sama tidak bisa keluar rumah, bahkan Ariel hanya tidur saja. Itu yang terus disampaikan oma Ariel sejak kami pertama bertemu saat fitting kursi roda adaptif di Gorontalo," tulis Sri dalam blognya. /bbcindonesia
Sri juga bertemu dengan Ariel, seorang bocah penderita cerebral palsy yang akhirnya mendapat kursi roda. “Saya dan Ariel sama-sama selama 10 tahun berkutat dengan keterbatasan. Kami sama-sama tidak bisa keluar rumah, bahkan Ariel hanya tidur saja. Itu yang terus disampaikan oma Ariel sejak kami pertama bertemu saat fitting kursi roda adaptif di Gorontalo,” tulis Sri dalam blognya. / BBCindonesia

Perjalanan Ketiga

Ini adalah perjalanan Sri yang ketiga setelah sebelumnya menempuh perjalanan Jakarta-Bali dan Aceh-Jakarta untuk Misi yang sama

Sri dijadwalkan menyelesaikan 1.871 kilometer perjalanannya di Makassar pada 13 Oktober mendatang.

Pengalaman yang luar biasa, katanya, ketika bertemu langsung kawan-kawan di sana. “Saya lebih bersemangat! Apalagi ketika saya berhenti pasti banyak orang mengerumuni saya dan bertanya-tanya. Sehingga saya bisa menjelaskan misi saya.”

Ini adalah perjalanan ketiga Sri, yang kini bekerja di UCP Roda untuk Kemanusiaan (UCPRUK) / bbcindonesia
Ini adalah perjalanan ketiga Sri, yang kini bekerja di UCP Roda untuk Kemanusiaan (UCPRUK) / BBCindonesia

Sri mengatakan dia adalah “contoh nyata bagaimana seorang difabel mampu berkembang dan mandiri” karena memperoleh hak atas akses dan didukung oleh lingkungan dan masyarakat.”

“Saya bermimpi, akan muncul difabel lain yang jauh lebih berpotensi dan mandiri.”

Mencoba memancing di dermaga di Wisata Pantai Pohe, Gorontalo./bbcindonesia
Mencoba memancing di dermaga di Wisata Pantai Pohe, Gorontalo./BBCindonesia

Akses dan fasilitas umum bagi kaum difabel di Indonesia seperti ketersediaan jalan, toilet, dan transportasi umum, masih belum layak, menurut sejumlah pengamat.

Sumber : BBC Indonesia