Beri Penghargaan untuk Gajah Yongki, Komunitas Serukan Lawan Perburuan dan Perdagangan Satwa

716
Poster GMFERT-Global March for Elephant, Rhino and Tiger, yang akan diselenggarakan pada 3-4 Oktober 2015 di Banda Aceh

Acehraya.co.id – Komunitas Pecinta Satwa memberi penghargaan kepada Gajah Yongki atas jasanya telah membantu pengamanan hutan Sumatera. Penghargaan ini diberikan pada aksi Parade Global untuk Gajah, Badak dan Harimau yang dibuat untuk pertama kalinya di Indonesia berpusat di Banda Aceh pada 3-4 Oktober 2015.

Penghargaan kepada Yongki berupa dua karya lukisan dua remaja putri Indonesia. Lukisan berjudul ”Thank You Yongki” dibuat oleh Emira Bunga Ramadhan seorang siswi SMA di Jakarta dan lukisan berjudul “Indonesia Bangga Dengan Yongki” karya Ayu Putri Meidina, seorang mahasiswi di Banda Aceh.  Yongki adalah gajah jinak berumur 35 tahun yang bertugas melakukan patroli pengaman hutan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) di Lampung. Ia ditemukan mati dibunuh dan dicuri gadingnya oleh pemburu pada 18 September lalu.

Cut Ervida Diana, Koordinator Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) Indonesia. (dok. Pribadi)
Cut Ervida Diana, Koordinator Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) Indonesia. (dok. Pribadi)

Menurut  Koordinator Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) Indonesia, Cut Ervida Diana, lukisan Yongki akan dikirim ke Resort TNBBS untuk menjadi kenang-kenangan bahwa pernah ada gajah bernama Yongki yang memiliki jasa besar untuk perlindungan hutan Sumatera. Yongki telah menjadi korban sindikat perdagangan gading gajah yang dengan tidak ada belas kasihan menghabisi nyawa satwa langka di dunia itu.

Menurut Cut Ervida pembunuhan terhadap Yongki menambah daftar panjang satwa-satwa yang mati karena perburuan dan perdagangan. “Dalam aksi ini kami menyerukan kepada Indonesia dan dunia internasional untuk mengakhiri perdagangan gading gajah, cula badak, tulang, kulit dan gigi harimau di seluruh dunia.”

Kejahatan terhadap satwa saat ini merupakan kejahatan seriusdi dunia, hampir menyamai kejahatan narkoba dan perdagangan manusia. Ia menjadi bisnis haram yang melibatkan banyak pihak mulai dari pemburu, pedagang, penyelundup antar negara dan konsumen di pasar gelap internasional. “Dan Indonesia saat ini menjadi salah satu kawasan target perburuan satwa.”

Cut Ervida mengatakan, hampir setiap  hari kita melihat dan mendengar berita tentang kekejaman terhadap satwa-satwa. Tapi itu hanya sebagian kecil yang bisa kita lihat. Karena pada kenyataannya setiap detik ratusan satwa dibunuh di seluruh dunia (http://www.adaptt.org/killcounter.html) atau mereka mati perlahan-lahan karena dieksploitasi atau dihancurkan habitatnya.

“Sudah saatnya masyarakat dunia bersatu melawan kejahatan terhadap satwa. Jangan ada yang memelihara satwa untuk kesenangan karena rumah mereka yang baik hanya di hutan.  Jangan bangga jika kita punya gading, cula atau kulit harimau di rumah karena sesungguhnya kita ikut telah merampas nyawa makhluk ciptaan Allah SWT.”

Aksi GMFERT merupakan aksi serentak warga dunia untuk menyerukan perlindungan gajah, badak dan harimau yang dilaksanakan pada 3-4 Oktober 2015 di 112 kota di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya Indonesia berpartisipasi memberi dukungan dan komitmen untuk melindungi dan melestarikan satwa-satwa langka tersebut. “Kami memulai komitmen Indonesia ini dari Aceh yang merupakan satu dari dua propinsi di Indonesia selain Lampung yang memiliki gajah, badak dan harimau sumatera,” kata Cut Ervida.

GMFERT di Aceh diikuti oleh  lintas komunitas dan lembaga pemerintah antara lain Polda Aceh, Bapedal Aceh, BKSDA Aceh,  Earth Hour Aceh, WWF Indonesia, Indonesia Sahabat Gajah, Duta Rayeuk, Agam Inong Banda Aceh, Serikat Agam Inong Aceh, Aceh Documentary, Aceh Peduli Kucing, Sahabat Walhi, Sobat Bumi, Gerakan Mari Berbagi, Seribu Guru,  Forsaka, Atjeh Raya (Acehraya.co.id), Leadership Community, Darah Untuk Aceh, Aceh Vidgram, Pramuka, Sanggar Seni 55, Mata Ponsel, Insta Aceh, Smart Model Aceh, FKIP Biologi Unsyiah, Amoba Band, Three FM, RRI Pro2,  Walhi Aceh, Aceh Geothermal Forum, Lab School Unsyiah, dan Home Schooling Al Imtiyaz, dan SOS Children Village Indonesia.

Mereka akan berparade di jalan protokol kota mulai dari Taman Sari – Mesjid Raya Baiturrahman – Tugu Simpang  dengan membawa atribut seperi poster, topeng gajah, badak dan harimau serta melakukan aksi treaterikal, orasi, pembacaan puisi, pembacaan hikayat Aceh dan beryanyi bersama lagu “Gajah” karya Tulus untuk mengenang Yongki.

“Yang ikut aksi ini mulai dari anak SD berumur 7 tahun sampai Imuem Mukim (ketua adat) berumur 60 tahun. Ini menunjukkan gerakan ini menjadi solidaritas bersama milik semua masyarakat di Aceh dan juga Indonesia untuk menyelamatkan satwa-satwa milik kita,” kata Cut Ervida. [rilis]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY