Kota “Seribu Satu Warung Kopi”

1326
Suasana malam di "Kedai Kupi Bidjeh" Lambhuk Kota Banda Aceh. Photo by Mirza

Acehraya.co.id – Entah sejak kapan Banda  Aceh mulai dijuluki sebagai “kota seribu satu warung Kopi”. Tapi akhir-akhir ini sebutan itu sangat lekat disematkan untuk Kota Banda Aceh. Bisa jadi karena jumlah Warung Kopi di kota ini terbilang cukup banyak, didukung kebiasaan sebagian besar masyarakatnya yang suka minum kopi.

Bagi masyarakat kota Banda Aceh, kebiasan minum kopi di Warkop seperti sudah membudaya. Tak heran, terutama pagi hari, sore dan malam, rata-rata Warkop di kota ini penuh sesak oleh pengunjung. Jangan pernah cerita mereka minum kopi bungkusan pabrik (sachet), karena kopi sachet pasti tidak ingin mereka minum ketika di Warkop. Mereka hanya minum kopi asli buatan lokal, bukan buatan pabrikan.

Jika dulunya Warung Kopi atau Warkop di kota ini bernuansa tradisional, sejak beberapa tahun terkahir terutama setelah Tsunami terus bermunculan Warkop dengan design menarik dan “up to date”, sebagai tempat kongkow lintas usia. Dikemas sedemikian rupa yang manarik perhatian pengunjung, juga dilengkapi fasilitas Wifi gratis sebagai pelengkap.

Jenis kopi yang bisa dinikmati sangat beragam, dari Robusta, Arabica dan Kopi Luwak juga tersedia. Diracik oleh tangan-tangan yang memang terlatih untuk itu. Mungkin saja banyak orang terhipnotis untuk menyeruputnya kembali, karena tangan cekatan dalam peracikannya. Rata-rata kopi di Aceh ini berasal dari areal perkebunan kopi yang ada di Provinsi Aceh sendiri, terutama kopi dari daratan Aceh Tengah yang sudah terkenal akan produksi kopi Arabica.

Banyak tempat jadi pilihan untuk kongkow di kota sambil ditemani kopi yang telah tertuang di gelas. Tinggal sedikit berkeliling kota, kita akan menemukan banyak Warkop dengan pilihan jenis kopi yang diinginkan.

Ada Warkop dengan menu utama Kopi mahal, yakni kopi Luwak. Biasanya mereka yang berkunjung ke Warkop Kopi Luwak ini adalah mereka-mereka yang berkantong tebal atau tamu dan turis luar yang sedang berkunjung Aceh.

Pilihan lainnya cukup banyak untuk dikunjungi, tergantung selera, menawarkan tempat konkow nyaman bersama teman dan keluarga dengan fasilitas dan design Warkop yang disukai. Kadang karena faktor design ini juga menentukan latar belakang kalangan pengunjung. Design warna cerah biasanya disukai kalangan anak muda dan anak kuliahan sebagai tempat kongkow. Sedikit berumur lebih memilih Warkop dengan design perpaduan nuansa tradisional dan modern.

Tapi bukan hanya dari design dan fasilitas wifi gratis yang menjadi rujukan, jenis kopi sangat menentukan latar kalangan pengunjung. Mereka yang tergolong eksekutif muda dan penikmat kopi tulen biasanya mencari jenis kopi yang berkelas, seperti ekspreso arabica atau Luwak Kopi.

Ada juga yang suka berkunjung ke suatu Warkop karena faktor sejarah, Seperti Warkop Solong, CutNun dan Kupi Berawe, Warkop ini tetap ramai mungkin karena faktor usianya sudah puluhan tahun ada dan sangat terkenal seantero Aceh, bahkan dijadikan rujukan bagi pengunjung luar daerah. Kalau ke Banda Aceh belum lengkap kiranya jika belum berkunjung ke Solong, Cut Nun dan Kopi Beurawe. Begitulah kira-kira.

Sejak kuliah dan sampai sekarang bekerja di kota ujung Sumatera ini, saya tidak ingat lagi berapa Warkop saya kunjungi dan tongkrongi. Kalau Ebit G Ade, lewat lirik lagunya mengatakan “dari pintu ke Pintu”, pengejentawahan analoginya dalam siklus saya mungkin bisa begini “Dari Warkop Ke Warkop”. Sebagai tempat untuk “ngumpul”, obrol ringan, diskusi dan bersosialisasi dengan kawan kawan, bahkan juga dalam urusan bisnis, walaupun bisnis kecil-kecilan dan kadang juga proyek “thank you”. Semua dibicarakan disini, di warkop.

Kalau Mentri Susi pernah mengatakan, “Kurangi waktu ngopi di Warkop, dari rata-rata dua jam, menjadi satu jam saja”. yang disampaikannya pada suatu waktu lalu saat acara “Mata Najwa” dilakukan di Banda Aceh, untuk mengajak kaum mudah Aceh agar produktif menggunakan waktu. Sepertinya saran itu belum dapat saya lakukan.

Karena menurut saya duduk di Warkop juga bisa produktif, daripada menghabiskan waktu sekedar menonton tv dirumauh atau main “game”. Nongkrong di Warkop selain bersosialiasi dan diskusi membangun, juga membicarakan hal-hal produktif seperti yang saya katakan tadi. Di Warkop tidak ada batasan tema pembicaraan, semua urusan ada, dari urusan jual kambing, surat tanah, cinta segi empat sampai urusan Politik dan penaklukan juga dibahas disini.

Bagi Aceh, mungkin Warkop adalah wadah untuk bersosialisasi sekaligus hiburan di kala waktu senggang. Sangat positif menurut saya. Lagi pula Bioskop atau sejenis live Night Music Caffe dan hiburan malam lainnya seperti kota-kota besar lainnya di Indonesia tidak tersedia disini, karena suatu dan lain hal. Barangkali hal inilah yang menyebabkan warung kopi sangat menjamur di kota langganan Adipura ini.

So, “Selamat Hari Kopi Sedunia”, 1 Oktober 2015. Minum kopi pada kadar yang tepat adalah sehat. [AM/ fimanhadi/kompasiana]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY