Chik Rini : Aksi Melindungi Satwa, Adalah Tugas Kita Semua

618
Chik Rini, Communication Officer WWF Aceh saat berkoordinasi dengan para peserta Global Marching For Elephant, Rhino and Tiger di Taman Sari, Banda Aceh (Riza Zulfikar /Insta_aceh)

Acehraya.co.id – Penurunan populasi satwa langka di Asia sudah memasuki tahap kritis. Di Indonesia, jumlah harimau Sumatera hanya tersisa kurang dari 400 ekor, meski langkah pemerintah untuk menaikkan populasi harimau sudah dimulai sejak 2010 lalu.

Menurut Chik Rini, Communication Officer WWF Aceh, berdasarkan penelitian yang dilakukan secara berkala, lembaga konservasi lingkungan hidup World Wildlife Fund (WWF) memprediksi jumlah harimau Sumatera terus menurun. Tanda-tanda penurunan populasi harimau tampak di beberapa daerah di Sumatera, terutama di wilayah Aceh dan Riau.

“Penyebab penurunan populasi harimau di Sumatera cukup beragam. Namun, yang utama ialah perambahan hutan dan konversi lahan ke perkebunan sawit. Laju deforestasi tersebut praktis menghancurkan habitat alami harimau dan satwa lainnya”, ujar Chik Rini kepada Acehraya.co.id.

Selain perambahan hutan, perburuan juga memiliki dampak negatif bagi populasi harimau. Communication Officer WWF Aceh, Chik Rini, mengaku kerap menemukan jerat yang khusus digunakan memerangkap harimau saat terjun ke lapangan. Lalu ada pula jerat untuk satwa mangsa harimau.

“Kalau kita lihat di Sumatera, hutannya hanya tersisa 25% hingga maksimum 27%. Kemudian populasi harimau di bawah 400 ekor. Ini dua angka yang saling terhubung. Kalau satwa-satwa itu semakin langka, harimau sulit untuk mendapat mangsa dan populasinya pun terancam”, lanjut Chik Rini.

Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT)

Saat Acehraya.co.id meminta tanggapan Chik Rini mengenai aksi parade Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) yang diadakan kemarin (03/10) di Banda Aceh, dia mengatakan bahwa dirinya sangat mendukung aksi tersebut. Karena menurutnya, aksi Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT),  merupakan sebuah aksi positif untuk penyelamatan satwa-satwa yang dilindungi.

“Aksi Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) adalah suara terkecil dari kita semua, baik itu instansi pemerintah, swasta, penegak hukum, lembaga, komunitas dan masyarakat luas, untuk sama-sama peduli kepada satwa yang sudah masuk tahap kritis didunia seperti gajah, badak dan harimau”, ungkap Chik Rini, Communication Officer WWF Aceh.

Meskipun harus berpanas-panas dibawah teriknya matahari, namun anak-anak kecil tetap semangat untuk mengkampanyekan perlunya melindungi satwa seperti gajah, badak dan harimau (Riza Zulfikar /Insta_aceh)
Meskipun harus berpanas-panas dibawah teriknya matahari di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, namun anak-anak kecil ini tetap semangat untuk mengkampanyekan perlunya melindungi satwa seperti gajah, badak dan harimau yang populasinya terus turun (Riza Zulfikar /Insta_aceh)

Chik Rini juga melanjutkan, pada aksi Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger (GMFERT) kali ini, selain dari berbagai elemen masyarakat, komunitas dan siswa sekolah, ternyata anak-anak kecil juga ikut dalam aksi yang diselenggarakan kemarin (03/10) di Banda Aceh.

“Seperti kita lihat, kebanyakan peserta yang ikut dalam aksi GMFERT adalah anak-anak muda. Dan bahkan, tadi juga ada anak-anak kecil yang rela panas-panasan demi mengkampanyekan penyelamatan berbagai satwa yang sudah masuk tahap kritis seperti gajah, badak dan harimau. Kalau kita didik mereka (anak kecil) dari sekarang, maka akan memberi pengaruh bagi mereka dari kecil tentang perlunya melindungi satwa”, kata Chik Rini.

Menurut Chik Rini, perdagangan satwa terjadi karena permintaan pasar yang tinggi sebagaimana teori marketing. Satwa berkurang permintaan bertambah. “Pelaku jual beli ini pasti orang kaya yang tidak sadar konservasi. Siapa sih yang mampu beli dengan harga mahal?”, ujarnya.

Untuk itu, pengendalian perdagangan satwa ilegal harus dipantau pada titik tertentu agar tidak lolos. Kita harus pasang strategi kontrol bersama. Penegak hukum dari KLHK, Kepolisian, Kejaksaan, dan Bea Cukai harus kompak. Semua harus komitmen. Peran intelijen harus tinggi.

“Aksi Global Marching for Elephant, Rhino and Tiger adalah suatu power bagi kita semua, dari berbagai kalangan untuk terus peduli melindungi dan melestarikan satwa-satwa yang dilindungi di Indonesia dan dunia. Bagi penegak hukum juga tidak boleh pandang bulu, meski ada oknum sekalipun sebagai pelaku”, tegas Chik Rini kepada Acehraya.co.id. [cb]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY