4 Pemuda Paling Berpengaruh Selama Perang Kemerdekaan Indonesia

1852
Soedirman. blogspot.com

Acehraya.co.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) baru saja merayakan hari jadinya ke-70. Perjalanan panjang telah dilalui TNI hingga era modern, mulai dari pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) hingga resmi menjadi pasukan bersenjata yang bertugas mengamankan kedaulatan Indonesia dari serbuan asing.

Dibacakannya teks proklamasi membuat banyak pemuda Indonesia berbondong-bondong mendaftarkan diri sebagai relawan. Mereka ingin mempertahankan kemerdekaan yang baru saja dibacakan dwitunggal Soekarno-Hatta dari kedatangan Belanda.

Para pemuda datang dari berbagai kalangan, ada yang bekas tentara KNIL, atau Pembela Tanah Air (PETA), bahkan petani sekalipun. Ada yang membentuk laskar tersendiri, tapi tak sedikit yang memilih bergabung bersama TNI.

Dari sejumlah pemuda yang ikut serta menjadi pejuang, banyak di antara mereka yang menonjol. Bahkan berperan dalam mengubah jalannya perang.

  1. Daan Mogot

Pada perang kemerdekaan nama Mayor Daan Mogot sangat populer di Jakarta dan Tangerang. Mungkin Daan Mogot juga layak dicatat sebagai mayor termuda dalam sejarah. Ketika menjadi mayor, pemuda ganteng ini masih berusia 16 tahun. Masih ABG kalau istilah zaman sekarang.

Tapi bukan tanpa alasan Daan Mogot yang baru berusia 16 tahun ini diberi pangkat Mayor dan memimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jakarta Barat. Daan Mogot merupakan angkatan pertama Pembela Tanah Air (PETA), organisasi militer buatan Jepang. Waktu mendaftar PETA, usianya baru 14 tahun. Dia menjadi salah satu yang terbaik hingga akhirnya diangkat menjadi pelatih PETA di Bali.

Daan Mogot juga punya visi yang cerdas soal militer. Bayangkan di usia 17 tahun, dia dan kawan-kawannya mendirikan sekolah calon perwira Akademi Militer Tangerang. Daan Mogot diangkat menjadi direktur pertama Akademi Militer Tangerang.

Sayang mayor muda gagah berani ini tidak berumur panjang. Tanggal 25 Januari 1946, Daan Mogot bersama pasukannya berangkat untuk melucuti pasukan Jepang di Lengkong, Tangerang.

Kala itu Jepang sudah menyerah kepada sekutu. Daan Mogot dan rekan-rekannya berpikir lebih baik senjata Jepang jatuh ke tangan tentara Indonesia daripada pasukan Belanda yang akan segera kembali di bawah sekutu.

Mayor Daan Mogot berangkat bersama 70 taruna Akademi Militer Tangerang ke kawasan Lengkong, Serpong, Tangerang. Di sana dia menemui Kapten Abe, komandan tentara Jepang sementara pasukannya berjaga di luar.

Perundingan berlangsung damai. Kapten Abe meminta izin menghubungi atasannya dulu di Jakarta sebelum menyerahkan senjata. Tetapi pasukan taruna di luar, tanpa sepengetahuan Daan Mogot ternyata sudah mulai melucuti tentara Jepang. Beberapa tentara Jepang juga sukarela menyerahkan senjatanya.

Tiba-tiba entah dari mana, terdengar tembakan. Situasi langsung kacau balau. Tentara Jepang segera berlari mengambil kembali senjatanya. Penjaga di pos senapan mesin pun langsung memberondong para taruna.

Pertempuran tak seimbang berlangsung. Mayor Daan Mogot berlari keluar dan berusaha menghentikan tembak menembak. Usahanya tak berhasil, dia tewas setelah diberondong tentara Jepang.

Daan Mogot gugur sebagai kesatria. Usianya baru 17 tahun ketika meninggalkan Ibu Pertiwi untuk selama-lamanya. Selain Daan Mogot, 33 taruna dan 3 perwira gugur dalam peristiwa Lengkong.

2. Margonda

Tidak banyak yang mengenal sosoknya sebagai pejuang di era perang kemerdekaan. Namun, namanya telah dikenang dan dijadikan nama jalan utama di Depok, Jawa Barat.

Wenri Wanhar, penulis buku ‘Gedoran Depok: Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955’ menyebut Margonda adalah nama seorang pemuda yang belajar sebagai analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus. Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.

Memasuki paruh pertama 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang. Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Saat Jepang takluk dengan bom atom Amerika di Nagasaki dan Hiroshima pada tahun 1945, Margonda ikut aktif dengan gerakan kepemudaan yang membentuk laskar-laskar. Margonda bersama tokoh-tokoh pemuda lokal di wilayah Bogor dan Depok mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) yang bermarkas di Jalan Merdeka, Bogor.

Sayangnya, umur Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di bawah pimpinan Margonda relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya.

Banyaknya kelompok kecil laskar dan para pejuang berakibat petaka bagi para Belanda Depok itu. Pada 11 Oktober 1945, meletus peristiwa Gedoran Depok. Depok diserbu para pejuang kemerdekaan. Para pejuang menilai orang Depok tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.

Bulan November, para pejuang yang tercerai-berai menjalin koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA. Mereka menyusun sebuah serangan yang menggunakan sandi ‘Serangan Kilat’. Pasukan NICA kelabakan tapi Depok gagal direbut pejuang. Kedua pihak mengalami korban yang banyak.

Saat peristiwa itu, Margonda kembali muncul. Di antara ratusan pejuang yang gugur hari itu, terdapat Margonda, pimpinan AMRI. Margonda gugur 16 November 1945 di Kalibata, Depok daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas, Depok. Sungai yang bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda.

Nama Margonda tercatat di Museum Perjuangan Bogor bersama ratusan pejuang yang gugur. Semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda. Dia gugur dalam pertempuran.

3. Slamet Riyadi

Sosok Ignatius Slamet Riyadi tak bisa dipisahkan dari perang kemerdekaan. Dia merupakan pemimpin yang berpengaruh sekaligus cerdik dalam menyusun berbagai siasat untuk menjebak musuh. Dia juga dikenal sangat dekat dengan seluruh anak buahnya.

Perannya dimulai dari pengepungan markas Kempeitai di Solo, Jawa Tengah. Kenekatannya menerobos desingan peluru musuh membuat rakyat dan rekan-rekannya kagum, namanya pun harum hingga membuat Wakil Presiden Mohammad Hatta yang merangkap sebagai Menteri Pertahanan memberinya pangkat Mayor.

Hebatnya, calon kelasi yang gagal menjadi pelaut ini mendapatkan pangkat tersebut di usia 19 tahun. Sebuah penghargaan yang tak mungkin diterima kembali oleh prajurit-prajurit lain di era modern.

Berbagai aksi dia jalankan, mulai dari menghentikan laju tentara Belanda saat agresi I di Salatiga, hingga perang gerilya saat agresi II berlangsung. Sepak terjangnya tersebut membuat petinggi militer Belanda mengaguminya.

Kemampuannya memimpin pasukan dan kecerdikan memimpin siasat ini membuat dirinya dipercaya sebagai pemimpin. Padahal, banyak anak buah yang berusia lebih tua darinya, namun mereka tetap menghormati Slamet sebagai seorang pemimpin.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI, dia dipercaya untuk memimpin pasukan menghadapi para pemberontak. Semula, Slamet dikirim untuk meredakan pemberontakan yang digerakkan Westerling dengan Angkatan Perang Ratu Adil, namun karena tidak bertemu dengan mereka, dia ditugaskan untuk meredakan aksi DI/TII.

Kemampuannya mendekati rakyat membuat dia sangat dikenal. Kondisi ini seakan menambah kekuatan pasukannya dalam meredakan pasukan DI/TII, hingga berhasil membuat Kahar Muzakkar dan anak buahnya tak bisa memperluas aksinya ke daerah lain.

Kemampuannya itu membuat dia dipercaya untuk memimpin pasukan dalam menumpas gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang menyatakan berpisah dari Indonesia. Dia bekerja di bawah komando Kolonel Alex Kawilarang. Di Maluku inilah dia menghembuskan napas terakhirnya akibat terkena tembakan sniper RMS yang bersembunyi di balik Benteng Victoria.

Atas jasa-jasanya, pemerintah memberikan gelar pahlawan terhadap Slamet Riyadi. Pangkatnya pun dinaikkan menjadi Brigadir Jenderal Anumerta.

4. Soedirman

Soedirman merupakan sosok paling berpengaruh di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dia merupakan panglima pertama yang diangkat dan dilantik oleh Presiden Soekarno. Kemenangannya dalam Palagan Ambarawa menjadikan alasan pemerintah untuk memilihnya sebagai pemimpin pasukan TNI.

Jauh sebelum era perang kemerdekaan dimulai, Soedirman sangat jauh dari dunia kemiliteran. Dia berasal dari keluarga penjahit dan memulai karier sebagai seorang guru.

Kedatangan Jepang mengubah pandangan hidupnya, dia memilih mendaftarkan diri sebagai kadet untuk menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA). Di tempat itulah ia ditempa dan dididik untuk membuat siasat dalam mengalahkan musuh.

Setelah Jepang menyerah dan proklamasi dibacakan, Soedirman mulai mengubah jalan hidupnya untuk menjadi seorang tentara. Di saat bersamaan, Soekarno mengumumkan untuk menunjuk Soeprijadi sebagai panglima pertama, namun tak pernah muncul hingga posisinya digantikan sementara oleh Oerip Soemohardjo.

Tindakan pasukan sekutu yang membuat pangkalan di Magelang membuatnya marah. Serangan rakyat berhasil membuat mereka mundur. Saat itulah dia menyusun siasat untuk menyergap sekutu dan NICA di Ambarawa. Setelah menjalani pertempuran berhari-hari, Ambarawa akhirnya direbut dan sekutu mundur teratur ke Semarang.

Atas kiprahnya tersebut, dia ditunjuk sebagai salah satu kandidat panglima. Dalam sebuah pemilihan, dia mendapatkan 22 suara dukungan dari komandan divisi Sumatera. Saat itu, usianya masih 29 tahun, berkat dukungan itu Soedirman diangkat menjadi jenderal.

Jatuhnya ibu kota republik, Yogyakarta pada agresi militer Belanda II membuat Soedirman memutuskan untuk melaksanakan perang gerilya. Meski kondisinya yang sakit-sakitan akibat komplikasi paru membuatnya terpaksa digotong untuk naik dan turun gunung. Namun, dia tetap berhasil menyusun kekuatan untuk merebut kembali Yogyakarta.

Berkat perannya itu, Indonesia mendapatkan kekuatan di tingkat internasional. Belanda pun terpaksa mengakui kedaulatan dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag.

Sayang, Soedirman tak bisa merasakan kemerdekaan penuh yang diraihnya dengan banyak pengorbanan. Dia pun menghembuskan napas terakhirnya pada 1950. Berkat jasanya, dia dianugerahi gelar pahlawan dan pangkatnya dinaikkan menjadi Jenderal Besar dengan lima bintang di pundaknya. [merdeka]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY