[OPINI] Antara ‘’Umar Bin Khatab dan Teuku Umar J. Pahlawan”

1200
Ilustrasi Teuku Umar dan Umar Bin Khatab @acehraya.co.id

Menyebut nama Umar, nalar kita begitu reflek membayangkan sosok pemimpin yang tegas, adil, dan karismatik. Menjadikannya figur seolah-olah pemimpin di alam dongeng yang begitu ideal. Ia memberikan keteladan dalam perkataan dan perbuatan. Seorang yang shaleh secara pribadi dan cakap dalam kepemimpinan. Ya, Umar memang seorang yang adil. Dia juga tegas. dan dia berhasil memakmurkan rakyatnya.

Munawar AR
Munawar AR

Perhatian Umar terhadap rakyatnya benar-benar membuat kita takjub dan namanya pun kian mengharum. Mulia bagi mereka pembaca kisah kepemimpinannya. Doa-doa rahmat dan ridha untuknya begitu deras mengalir. Siang-malam ia pantau keadaan rakyatnya. Ia benar-benar sadar kepemimpinan itu adalah amanah untuk menjadi ‘’Babu’’ rakyat. Kepemimpinan bukan untuk menaikkan status social, menumpuk harta, bukan untuk kepentingan kelompoknya apalagi mengharap penobatan gelar ‘’Umar Bin Khatab’’ akhir zaman.

Tentu berbeda membandingkan Umar Bin Khatab, Umar bin Abdul Aziz, Teuku Umar serta ‘’Umar’’ Aswaja. Keberhasilan dalam memimpin rakyatnya juga berbeda. Mereka berhasil membangun pondasi peradabanya masing-masing, baik pada berbagai ranah; pendidikan, sosial kemasyarakatan, bahkan ranah politik. Keberhasilan dalam memimpin menjadi torehan sejarah umat Islam dan masyarakat Aceh.

Cerita Umar Dulu

Dalam sejarahnya Umar benar-benar mampu menjadi penggerak peradaban umat Islam dan rakyat Aceh. Umar adalah khalifah, orang yang sangat dihormati, tokoh panutan dalam sejarah, pahlawan bangsa dan masih banyak gelar mulia lainnya yang layak disandangkan ke mereka.  Tidak salahnya apabila penulis mengajak pembaca untuk melamun sejenak pada sepenggal cerita Umar dahulu.

Pertama, Umar Bin Khattab merupakan seorang sosok sahabat Rasulullah shallahu’alaihiwassalam yang sangat tegas, keras dan pemberani dalam memimpin rakyatnya. Ketegasan dan keberaniannya membuat orang-orang kafir laknatullah tunggang langgang jika harus berhadapan dengannya. Sosok yang dahulunya jahiliyah bahkan mengubur hidup-hidup anak kandungnya sendiri.

Umar bin Khattab memiliki julukan khusus yang diberikan oleh Rasulullah saw yaitu Al Faruq yang berarti Sang Pembeda. Dalam sebuah hadist Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim dikatakan bahwa “Allah telah menempatkan kebenaran pada lisan dan hati Umar. Dialah mampu membedakan yang hak dan yang batil,” sehingga Rasulullah saw memberikan gelar Al Faruq pada Umar.

Kemudian Al Faruq juga diartikan sebagai penjaga Rasulullah dan pencerai berai barisan orang-orang kafir di zaman itu. Di saat Nabi berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Umar justru dengan lantangnya mengatakan “Ya Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita dalam kebenaran?” “Ya” jawab Nabi, “Jika demikian, mengapa kita diam-diam mendakwahkan ajaran kita? Demi Dzat yang mengutusmu atas nama kebenaran, saatnya kita keluar”. Itulah Umar Bin Khattab!

Kedua, Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah ke lima. Pada masanya ia merupakan pemimpin yang banyak menuntut ilmu dan banyak bertanya kepada Ulama serta meminta saran dari mereka. Bahkan beliau digelari Amirul Mukminin oleh rakyatnya. Sebuah gelar syar’i dan sebutan bagi seorang penguasa yang memimpin kaum muslimin pada masa itu. Ulama menjadi panutan Umara. Itulah kisahnya yang menolak menjadi pemimpin walau itu tidak dijadikan pedoman oleh pemimpin sekarang. Duh!

Ketiga, Teuku Umar adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia berasal dari Aceh yang berjuang mempertahankan Aceh dari penjajah Belanda. Kehadiran Teuku Umar bukan sejarah yang menyenangkan bagi Belanda. Suami Cut Nyak Dien ini mendapat cercaan dan sebutan “pengkhianat” oleh Belanda namun juga dihadihahi gelar ‘Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland’.

Teuku Umar satu-satunya pejuang Aceh yang pindah langsung dari pasukan Aceh menyeberang ke pasukan Belanda. Taktik’’ dua rupa’’ Teuku Umar mampu mengelabui musuh. Teuku Umar adalah salah satu kisah diantara banyak cerita yang muncul diseputaran perang Belanda di Aceh, namun Umar berbeda dengan cuak Aceh yang mendukung Belanda, meskipun gelar “pengkhianat” tetap melekat pada dirinya. Tapi kini ia menjadi pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Umar masa kini

Parade Aswaja ke dua kembali di gelar Kamis 01/10/ 2015. Kegiatan ini diawali dengan zikir bersama di Makam Syiah Kuala. Pawai tersebut juga diisi dengan pembacaan rekomendasi dengan beberapa tuntutan yang diarahkan kepada pemerintah Aceh. Sehingga berujung pada penobatan gelar Umar bin Khattab akhir zaman kepada Mualem oleh Waled Husaini pun menjadi ‘sah’.Serambi Indonesia (02/10/2015)

Seperti diketahui, julukan Asadullah (Singa Allah) pernah diberikan Rasullah kepada Hamzah bin Abdul Muthalib akibat jasanya terhadap Islam. Gelar itu diberikan kepada Hamzah setelah ia syahid dalam Perang Uhud. Kemudian muncul kekhawatiran apakah Mualem layak menerima gelar itu? Ataukah kemudian kemajuan peradaban Islam seperti masa Kesultanan dahulu akan bangkit ditangan Mualem? Mungkinkah ini hanya agenda politik menuju Aceh 1 di pilkada 2017? Walaupun Tgk H Tu Bulqaini Tanjungan selaku Ketua Panitia Zikir dan Parade Masyarakat Pecinta Aswaja telah membantah aksi ini bernuansa politik.

Titah Ulama

Sebenarnya tidak begitu tertarik menanggapi isu Wahabi yang sedang dihembuskan oleh kelompok yang menamakan dirinya Aswaja, dengan sekian banyak organisasi afiliasinya agar terlihat banyaknya dukungan, yang notabene berisikan orang-orang yang sama dalam tubuh Aswaja sendiri. Mengapa? Karena kelompok yang dituduhkan Wahabi oleh Aswaja selama ini tidak pernah mengatakan dan memproklamirkan dirinya Wahabi.

Akhirnya kita berharap, Mualem layak menyandang gelar Umar Bin Khattab akhir zaman. Mampu menjadi pemersatu segala kepentingan, menjelma menjadi Al Faruq, menjadi Amirul Mukminin bagi rakyat Aceh sehingga kedepan Aceh akan menjadi kiblat peradaban Islam selanjutnya. Semoga!

Penulis adalah Munawar AR, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa Provinsi Aceh, Bekerja sebagai Staf Pengelola Dana Bergulir Kantor Camat Kuta Baro Aceh Besar, email: munawarmik3@gmail.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY