Warga Rohingya Mulai Kabur, Benarkah Ada Agen Rohingya di Aceh?

561
Warga Rohingya saat berada di penampungan sementara di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. (AFP/CBC News)

Acehraya.co.id – Sebanyak 80 orang Rohingya telah melarikan diri dari penampungan sementara di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, dalam kurun lima bulan sejak mereka pertama kali ditempatkan di lokasi tersebut.

Hal itu terungkap setelah Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan (Wasdakin) Imigrasi Lhokseumawe, Albert Djalius, menghitung ulang jumlah warga Rohingya di Blang Ado bersama pemerintah kabupaten Aceh Utara, polisi, badan PBB untuk pengungsi (UNHCR), serta Badan Internasional untuk Migrasi (IOM)

Menurut Albert, jumlah warga Rohingya ketika mereka pertama kali menghuni penampungan sementara Blang Ado pada Mei lalu mencapai 316 jiwa. Namun, pada 7 Oktober, jumlah warga Rohingya tinggal 236 jiwa.

Pihak UNHCR mengatakan sejumlah warga Rohingya yang ditampung di Blang Ado telah melarikan diri ke Malaysia.

“Kami tahu beberapa di antara mereka telah tiba di Malaysia. Kami telah menghubungi kantor kami di Malaysia dan mencocokkan catatan. Namun, kami tidak tahu ke mana sebagian besar lainnya,” kata Jeffrey Savage, pejabat senior perlindungan UNHCR.

Savage menambahkan, pihaknya tidak bisa menghambat pergerakan warga Rohingya karena hal itu merupakan wewenang pemerintah Indonesia.

Soal upaya pencegahan kaburnya puluhan warga Rohingya, Kapolres Lhokseumawe AKBP Anang Tri Harsono mengatakan polisi tidak bisa mengambil tindakan tegas karena warga Rohingya bukan tahanan.

Jenuh

Salah seorang warga Rohingya mengaku jenuh lantaran tidak diperbolehkan ke luar lokasi penampungan.

“Di Myanmar, kami tidak bisa ke luar kawasan karena kami muslim. Di sini, kami tidak boleh ke luar sedikit pun. Kalau kami bisa jalan-jalan kan senang hati. Kami sudah minta kepada UNHCR untuk membawa kami ke luar sebentar dengan satu atau dua bus berisi 30 orang,” kata Hussin, seorang warga Rohingya dalam bahasa Melayu kepada wartawan di Aceh, Syaiful MD.

Pada Mei lalu, ratusan warga Rohingya tiba di pesisir Aceh menggunakan kapal kayu. Pemerintah Indonesia dan Malaysia lalu sepakat menampung para pengungsi dan pendatang yang terapung-apung di laut dengan syarat mereka ditempatkan di negara ketiga atau dipulangkan dalam waktu satu tahun.

Sebulan kemudian, Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa sekitar 964 pengungsi Rohingya asal Myanmar akan ditempatkan di lokasi penampungan sementara di Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Utara sampai satu tahun ke depan.

Benarkah Ada Agen Rohingya Berkeliaran di Aceh ?

Sebanyak 80 orang Rohingya telah melarikan diri dari penampungan sementara di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. (PFI)
Ratusan warga Rohingya mencoba melarikan diri dari penampungan sementara di Desa Blang Ado, Kecamatan Kuta Makmur, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pekan lalu. (PFI)

Pekan lalu ratusan warga pengungsi Rohingya di Desa Blang Adoe sempat melarikan diri dari rumah penampungan. Isu perkosaan menjadi dasar warga asal Myanmar dan Bangladesh tersebut untuk keluar.

Meski kini tak terbukti ada upaya pemerkosaan terhadap para pengungsi tersebut. Namun kini beredar kabar bahwa ada sindikat agen yang memang hendak menarik orang Rohingya tersebut ke luar dari rumah penampungan.

Kabar ini pun dibenarkan Humas Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya Zainal Bakri. Bahkan menurutnya para agen ini berasal dari komunitas Rohingya yang sudah lama menetap di Medan.

Ini diketahui karena sudah pernah ditangkap tangan tiga kali oleh pihak Kepolisian Lhokseumawe. “Sudah pernah ditangkap oleh polisi, mereka datang ke Blang Adoe dengan menggunakan mobil dan becak mesin, mereka tinggal di Medan,” kata Zainal Selasa 6 Oktober 2015.

Komite Nasional untuk Solidaritas Rohingya juga menyebutkan, tidak tertutup kemungkinan diantara para pengungsi Rohingya yang tinggal di rumah penampungan Blang Adoe juga ada agen. Mereka sering kali keluar dari area shelter yang memiliki luas sekitar lima hektare lebih.

“Ada diantara pengungsi yang meninggalkan tempat pengungsian sampai empat hari, setelah itu balik lagi ke lokasi pengungsian, pengungsi sudah mempelajari  betul jalur yang bisa dilewati untuk menuju ke Medan,” ungkap Zainal.

Menurut Zainal, dicurigai para agen tersebut sudah sangat paham dengan kondisi di Aceh, sehingga baru-baru ini mereka menyebarkan isu ada pelecehan seksual pada perempuan Rohingya.

Isu itu sengaja disebarkan setelah tertangkap sejumlah para pegungsi lari kamp pengungsian, saat itu mereka sudah berada di hutan sekitar lokasi kamp selama empat hari, menunggu dijemput oleh agen dari Medan. Namun diketahui oleh warga Blang Adoe dilaporkan ke pihak kepolisian setempat. [bbc/viva]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY