[Opini] Sifat Ku’eh Hambat Kemajuan Aceh

768
Ilustrasi sifat Ku'eh (Dengki) (aimsdesign.wordpress.com)

“Bit Ku’eh…! Ta Jak u Keu Diceut Gateh, Ta Seutot di Likot Ditoh Geuntot [Dengki Betul…! Kita Maju ke Depan Dijegal Betis (Dijatuhkan), Kita Ikuti di Belakang Dikentuti]”

Frasa di atas adalah tamsilan dalam bahasa Aceh yang ditujukan kepada orang yang dengki atau iri terhadap kesuksesan orang lain. Sifat ku’eh bukan hal baru yang ‘mengidap’ sebagian orang di Aceh. Penyakit batin ini sering muncul tatkala ada kesuksesan atau kemajuan yang berhasil dicapai oleh seseorang. Baik itu berupa ide, gagasan, pendapatan ekonomi, karir, pendidikan, bahkan termasuk hal kecil, seperti penampilan yang memikat.

“Sederhana-nya, sifat ku’eh tidak jauh berbeda dengan ungkapan populer yang berbunyi: “susah melihat orang lain senang, tapi senang bila melihat orang lain susah”

Sebuah artikel yang dimuat oleh Hasanuddin Yusuf Adan pada surat kabar lokal di Aceh, sedikit banyak memberikan pemahaman bagaimana sifat ku’eh yang telahmeudarah gapah (mendarah daging) bagi sebagian orang di Aceh. Seakan-akan orang tersebut mengalami suatu kondisi hana mangat asoe (tidak enak badan), bilaku’eh-nya tidak tersalurkan.

Makna yang diberikan oleh Hasanuddin terkait dengan sifat yang dimaksud, mengartikan bahwa, Ku’eh adalah sikap atau perilaku seseorang terhadap orang lain yang dapat menghancurkan atau merugikan orang lain dan juga orang ku‘eh itu sendiri. Jadi setiap adanya perilaku ku‘eh maka di sana juga wujud kehancuran atau kerugian, baik kerugian tersebut menimpa orang yang di-ku‘eh-kan maupun menimpa orang ku‘eh itu sendiri, atau kedua-duanya sekaligus.

Perilaku ku’eh kian “kronis” tatkala adanya momentum yang menempatkan dua kutub berlawanan saling bersaing untuk mencapai tujuan masing-masing. Baik itu bertujuan meraih kemenangan, kesuksesan, atau segala sesuatu yang pada akhirnya bermuara pada pada predikat yang terbaik atau terhebat. Terkadang hanya ada dua pilihan, yakni menang atau kalah.

Tampil sebagai pihak menang atau sebaliknya (kalah) merupakan suatu hal yang biasa dalam persaingan. Pada akhirnya kedua belah pihak bisa saling mengisi dengan sikap saling menghargai dan mendukung. Pemenang tidak melecehkan yang kalah. Pihak yang kalah pun selayaknya memberikan penghargaan kepada pemenang. Kerjasama pun dapat digagas asalkan keduanya beritikad baik. Namun tidak demikian bila perilaku ku’eh meu ku’eh (saling dengki) sudah muncul sejak semula. Salah satu pihak pasti akan “menghalalkan” segala cara untuk meraih kemenangan. Contohnya saja, persaingan jelang pemilu legislatif pada 9 April lalu, yang diwarnai oleh rentetan peristiwa kekerasan hingga ada yang tega menghabisi nyawa orang lain.

“Dampak dari sifat ku’eh yang kambuh saat pemilu legislatif dapat dilihat dari survei yang menunjukkan bahwa indeks demokrasi di Aceh terendah se-Indonesia”

Sistem dan tradisi pendidikan kita selama ini membentuk pola hidup manusia bersaing untuk saling mengalahkan, bukan untuk menang besama (win-win solution). Dampak dari pola hidup yang demikian terbentuk suatu masyarakat yang tidak bisa menerima dan menghargai kelebihan dan kesuksesan orang lain. Akhirnya muncul sifat iri (ku’eh) yang berujung pada tindakan kriminal untuk menjatuhkan orang lain (Sehat Ihsan Shadiqin, 2008: 200).

Jika dikaitkan dengan Islam sebagai agama mayoritas di Aceh, seluruh umat Islam dilarang untuk saling mendengki (ku’eh meu ku’eh). Hal ini terkandung dalam Al Qur’an yang dengan jelas menyebutkan bahwa Allah Swt Berfirman

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. an Nisa’: 32)

Begitu juga dengan Sabda Rasulullah Muhammad Saw yang berbunyi:

لاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ تَقَاطَعُوْا، وَكُوْ نُوْا عِبَادَ اللهِ إخْوَاناً

“Janganlah kalian saling membenci, saling dengki dan saling bermusuhan. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” – HR. Al Bukhari | 6065 dan Muslim | 2559 – (Syaikh Salim, 2005: 282)

Bagai Sifat Kepiting

Ku’eh yang menghinggapi sebagian orang di Aceh ternyata memiliki kemiripan dengan sifat salah satu spesies krustasea, yakni kepiting. Tamsilan ini disampaikan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Samsul Rizal.

“Orang Aceh banyak yang seperti kepiting dalam keranjang. Lihatlah, para kepiting saling mendahului dan menjegal satu sama lainnya, hanya untuk dapat keluar dari keranjang. Namun akibatnya tidak satupun yang berhasil keluar,” tandasnya.

“Prof. Samsul mengungkapkan bahwa hanya dengan peningkatan mutu pendidikan, perilaku bagai kepiting yang ia maksud dapat diubah. Semakin bagus mutu pendidikan suatu wilayah, maka perilaku masyarakat pun akan ikut berubah ke arah yang lebih baik”

Hambat Kemajuan Aceh

Adanya sebagian orang di Aceh yang masih memiliki sifat ku’eh, diakui atau tidak, dapat berimbas pada kondisi Aceh. Kemajuan yang hendak dicapai, akan terhambat bila ada orang yang berpikiran ku’eh terhadap saudaranya.

Belum lama ini, liputan khusus yang dirilis oleh salah satu media lokal di Aceh berjudul “Orang Kuat Atur Jabatan” telah memperlihatkan bagaimana ku’eh meu ku’eh (saling dengki) masih mengakar. Perpecahan bernuansa etnosentris (kedaerahan) sangatlah kental. Ironinya, ku’eh bahkan sudah diidap oleh pejabat-pejabat Pemerintahan Aceh yang notabenya adalah orang yang seharusnya menjadi panutan masyarakat.

“Kemajuan suatu wilayah akan sulit tercapai, bila masyarakat yang ada di wilayah tersebut masih “terkotak-kotak” dengan keangkuhan etnosentris-nya (kedaerahan) masing-masing. Sentimen etnosentris yang berlebihan hanya akan menciptakan permusuhan”

Sudah saatnya sifat ku’eh dijauhi. Karena hanya dengan persatuan dan persaudaraan-lah, kemajuan Aceh akan mudah untuk dicapai. []

Penulis : Ruslan Baranom

Sumber : Baranom/wordpress

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY