OPINI : Anak Dalam Asuhan

419

Oleh: Asnawi Zainun, Mukim Siem Aceh Besar

Anak memiliki tempat yang istimewa dalam adat Aceh. Sebagai ungkapan kasih sayang, dalam bahasa Aceh, anak-anak sering disebut dengan beragam ungkapan seperti boh hatee, bijeh mata, jantong hate, sinyak meutuwah, raja ubit, banta seudang, banta sidi dan lain sebagainya.

Dalam bait-bait Hikayat Prang Sabi, sebuah karya satra dari Tgk. Chiek Pantee Kulu yang digubah pada saat berkecamuk Perang Aceh dengan Belanda, pada kira-kira akhir abad ke- 18, anak-anak disebut dengan “bijeh mata” dan “boh hatee” :

oh leumah neu-eu si BOH HATEE
Neutajo lee neucom-neuwa
That sukaan han peusabee
Neupujoe lee Rabbul a’la
Padum-padum neupujoe Syukoo
‘Azizul Ghafoo sangat kaya
Karonya Gata ya Tuhanku
Lon teumee eu BIJEH MATA

Kelahiran anak disambut dengan sangat hikmat dalam adat. Rangkaian ritual senantiasa menyertai kehadiran mereka sejak mereka masih dalam rahim ibunya. Kenduri-kenduri yang diiringi dengan do’a-do’a senantiasa dipanjatkan untuk kebaikan dan keselamatan.

Ketika sang janin berusia 7 atau 8 bulan dalam kandungan, Ibu mertua sang calon ibu akan melakukan upara “Mee Bu”, yang biasa juga disebut dengan meulineum, sebagai wujud penghormatan dan kasih sayang kepada sang calon ibu, sambil menyemai harapan-harapan kepada bayi yang dikandungnya. Bukulah beserta lauk-pauk, buleukat kuneng dan beragam penganan Aceh seperti meuseukat,doi-doi, boi, karah, wajeb dan sebagainya dihantarkan sebagai wujud cinta dan kasih sayang. Biasanya juga dilengkapi dengan daging panggang burung merpati, sebagai simbol dari sebuah harapan agar anak dalam kandungan si ibu menjadi anak yang setia, cerdik dan lincah, selincah burung merpati.

Sebelumnya juga, pada awal-awal masa kehamilan, telah diantarkan pula beragam jenis buah-buahan segar, untuk diolah menjadi nicah, lincah atau rujak, lalu dimakan bersama dengan suka cita, dalam suasana keakraban. Ada juga tradisi mengajak ibu si bayi untuk meuramin, bertamasya dan makan-makan bersama di alam terbuka.

Tatkala sang bayi lahir ke dunia, sesegera mungkin, ayahnya menyambutnya dengan azan dan iqamah, menyerukan asma Allah, menyerukan untuk shalat, menyerukan untuk kemenangan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, laa ilaaha illalaah…Dibimbing Teungku Gampong yang mulia, do’a-do’a pun dipanjatkan, agar anak tumbuh sehat, berkah umur dan mudah rezeki.

Selanjutnya sang bayi dibesarkan dalam rateb-rateb ibunya.

La ilaha illallah

Kalimah thayibah payong page

Taduek tadong beuranggapat

Allah taingat Neuk di dalam atee

jak ku timang bungong pade,

beu jroh pike ‘oh rayek gata

tutoe beujroh bek rhoh singke

bandum sare ta meusyedara

Pada hari ke tujuh kelahiran sang bayi dilakukan kenduri aqiqah, bersamaan dengan itu dilakukan upacara cukuran rambut dan peucicap, kadang-kadang diikuti pula dengan penambatan nama kepada sang anak, nama-nama yang baik dan bermakna. Acara peucicap dilakukan oleh Teungku gampong yang mulia dengan mengoles manisan pada bibir bayi, sembari mengucapkan :

” Bismillahirahmanirrahim, manislah lidahmu, panjanglah umurmu, mudah rezekimu,taat dan beriman serta terpandang dalam kawom”.

Pada saat inilah bayi telah diperkenalkan bermacam rasa di antaranya asam, manis, asin. Ini merupakan latihan bagi bayi untuk mengenal rasa, bisa dia bedakan antara satu rasa dengan rasa yang lainnya.

Beberapa bulan kemudian, dan biasanya dipilih bulan-bulan ganjil, misalnya bulan ketiga, kelima atau ketujuh diadakan upacara peutron tanoh. Pada saat upacara tersebut, bayi digendong oleh seseorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekertinya Setelah semua selesai, selanjutnya bayi ditahtehkan (diajak berjalan) di atas tanah dan akhirnya dibawa keliling rumah. Saat kaki sang bayi menyentuh tanah diucapkan pula “lagee tanoh nyoe teutap, beumeunankeuh teutap hate gata”. Tak lupa sang bayi juga dibawa ke masjid, agar hatinya terpaut dengan rumah Allah. Akhirnya bayi dibawa pulang kembali dengan mengucapkan assalamualaikum waktu masuk ke dalam rumah.

Ketika sang Anak sudah mulai belajar melangkah, sang ibu selalu menuntun dengan lantunan pantun, agar anak menjadi santun sesuai dengan identitas keacehannya:

Jak lon tateh, meujak lon tateh

Beudeoh hai aneuk ta jak u Aceh

Meubee on ka meubee timphan

Meubee badan sinyak Aceh

Pada umur enam atau tujuh tahun biasanya anak-anak akan dipeusunat atau dikhitan. Pada usia yang hampir bersamaan anak-anak pun mulai diantar ketempat pengajian ke teungku seumeubeut di meunasah atau ke rumoh Teungku Inong. Prosesi intat beut dilakukan dengan hikmat dan serius, sebagai pertanda bahwa tahapan ini merupakan tahapan penting dalam kehidupan seorang anak. Sehidang bu leukat ngen ue sudah disiapkan sebagai bagian dari upacara penyerahan anak kepada teungku, agar didik menjadi manusia yang berilmu.

Namun harus dipahami bahwa tanggung jawab pendidikan awal bagi seorang anak tetap merupakan tanggung jawab orang tuanya. Sebelum diantar ke tempat pengajian anak-anak biasanya sudah terlebih dahulu diajarkan oleh orang tuanya di rumah, walau sekedar memperkenalkan huruf-huruf hijaiyah.

Tanggung jawab pendidikan anak juga melekat pada seluruh wali-karong, wareh-kaom si anak dan seluruh masyarakat gampong. Setiap orang, terutama orang-orang tua bijaksana di gampong senantiasa memposisikan diri sebagai guru bagi semua anak di gampong. Pada setiap kesempatan mereka membacakan nazam-nazam, hikayat dan calitra-calitra penuh hikmah kepada anak sebagai bentuk pembelajaran. Hadih-hadih maja pun disampaikan dengan penuh kebijakan. Anak-anak gampong diajarkan agar menjadi pribadi yang santun.

Hai aneuk tamariet bek meukee-meukee, Jiteubiet ikue jeut ke asee

Hai aneuk tamariet bek meukah-meukah, Jiteubiet ikue jeut ke gajah

Hiem-hiem pengasah otak tak lupa dilemparkan, diselang seli dengan hiem-hiem jenaka.

Na saboh cicem jipoe ue laot, Jingieng ue likot aneukjih kana

Jijak ngen jiwoe eumpeun lam reugam, Soe nyang utoh pham tachie boh makna..!?

Begitulah seterusnya sang anak hidup damai dalam adat gampongnya. Teungku Keuchik dan Teungku Imeum Meunasah tak lepas-lepas mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak di gampongnya. Pak Keuchik dan Teungku Imeum Meunasah, tahu persis berapa orang pemuda yang mulai jitron bulee keuingnya, dan orang anak dara yang sudah mulai “mirah muka” .

Hingga suatu ketika beliau bertanya kepada empunya anak, “hai teungku, ka mulai rhot bulee keuing si agam tanyoe ken ?”, atau “ ka rayek sidara tanyoe ken?” kiban teuma, peuna reuncana ?”Begitu selintas ilustrasi kehidupan anak dalam ramahnya kehidupan adat. Anak-anak hidup dalam cinta dan kasih sayang adat gampongnya. Di sana mereka tumbuh dan berkembang, bermain, bercanda, ceria dan bahagia, menikmati indahnya kehidupan mereka, hidup dalam asuhan adat.

Konsep anak-anak disayangi dan orang tua dihormati benar-benar dijalankan bukan sekedar slogan-slogan semata.Hari ini, ketika kehidupan di negeri ini tidak lagi ramah terhadap anak. Kasus kekerasan terhadap anak atau kasus kekerasan yang melibatkan anak terus menunjukkan tren peningkatan, apakah tidak sebaiknya kita berfikir untuk kembali membangun kearifan adat sebagai alternatif konsep pengasuhan anak.

Tapi jangan melihat konsep adat pengasuhan anak hanya pada bentuk-bentuknya, jangan lihat bukulahnya, bukan buleukat kunengnya, tapi lihat nilai-nilai yang dikandung dalam adat pengasuhan anak itu. Nilainya adalah kasih sayang, perhatian, nilai tanggung jawab orag tua, wali, karong, wareh-kaom, nilai tanggungjawab lembaga pendidikan,nilai tanggungjawab komunal, tanggungjawab bersama masyarakat gampong yang dibangun secara menyeluruh dan terintegrasi.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY