Forum DAS Krueng Sabee : “Ngoen Jaloe Kamoe Jaga Uteun”

486
Kegunanan perahu Jaloe ini multifungsi. Disamping untuk kepentingan Forum DAS Krueng Sabee, Jaloe juga dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat di Kecataman Krueng Sabee secara gratis. Seperti kegiatan Penanaman sekitar sungai dan khanduri Krueng (WWF-Indonesia /Azhar)

Acehraya.co.id – Perahu/Sampan dalam bahasa Aceh disebut dengan nama Jaloe. Perahu Jaloe terbuat dari sebatang pohon kayu khusus, yang tidak mudah retak (pecah) setelah jadi perahu. Jaloe adalah perahu tradisional Khas Aceh,  yang pembuatannya bertujuan untuk melintas perairan berarus deras di sungai.

Prosesi pembuatan Jaloe juga dibuat secara tradisional oleh orang khusus yaitu ahli Jaloe. Dimana Jaloe dibuat secara religius islami. Dengan menebang satu batang pohon Bangka, semantok (meranti) dan lainnya, kemudian diolah sedemikian rupa menjadi sebuah Jaloe (perahu). Untuk proses pembuatannya pun dilakukan  dihutan, setelah selesai baru bisa diturunkan ke pihak pembeli. Butuh waktu sekitar 1 hingga 2 bulan untuk menyelesaikan satu unit Jaloe.

Dalam perjalannnya Jaloe semakin ditinggalkan oleh sebagian masyarakat, mengingat telah adanya jalan darat untuk menuju wilayah hulu Hutan Aceh. Meskipun Jaloe telah ditinggalkan akibat modernisasi di beberapa sungai  di Provinsi Aceh, namun masih ada beberapa kalangan masyarakat yang berada di pedalaman hutan Aceh masih tetap menggunakan bot Jaloe  ini untuk aktivitas kesehariannya.

Selain daripada masyarakat di wilayah Krueng Sabee yang menggunakan Jaloe untuk transportasi sungai, ternyata pihak WWF-Indonesia Program kantor Aceh, juga ikut menggunakan Jaloe untuk mengembangkan Forum DAS Krueng Sabee melalui Program New Trees Krueng Sabee.

Bagaimana kelanjutan dari penggunaan Jaloe diwilayah Krueng Sabee, Aceh Jaya

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY