Jaga Hutan Mangrove, WWF Gandeng Para Perempuan di Aceh Besar

592
@WWF Indonesia /Dewi Nopita Sari

Acehraya.co.id – Bencana Tsunami yang terjadi pada 2004 lalu telah merusak sebagian besar tanaman mangrove (bakau) yang berada di kawasan pesisir Aceh, untuk itu dibutuhkan kesadaran dan kepedulian dari semua pihak melakukan penanaman kembali tanaman yang sangat bermanfaat bagi pengurangan resiko bencana yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan masyarakat. Dengan adanya pohon bakau disekitar pinggiran pantai dapat mengurangi hantaman gelombang besar tidak hanya tsunami namun juga air laut pasang.

Keberadaan hutan mangrove merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan di wilayah pesisir. Keberadaan hutan mangrove sebelum terjadinya tsunami pada 2004 silam sangatlah berkembang pesat. Dikarenakan ekosistem mangrove menjadi sangat penting karena sangat potensial dalam menunjang kehidupan mansyarakat baik dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan hidup.

Menurut Dewi Novita Sari, Marine Fisheries Policy WWF-Indonesia mengatakan, bahwa keberadaan hutan mangrove sebelum dan sesudah tsunami sangatlah berbeda. Akibat tsunami pada 2004 silam, luasan hutan mangrove kian menyusut. Bahkan, di pantai barat Aceh, kerusakan mangrove mencapai 75 persen hingga 100 persen.

“Dikarenakan bentang mangrove di Aceh hanya tinggal di pesisir timur, yang kini tinggal 19.000 hektar hingga 20.000 hektar. Maka dari itu, mulai dari tahun 2005 sampai 2009, WWF-Indonesia bekerja sama dengan Wetlands International melakukan penanaman kembali hutan mangrove melalui program green cost,” ujar Dewi.

Baca Selengkapnya