Kurangnya Sosialisasi Mengenai Penyu, WWF Lakukan Diskusi Bersama Masyarakat Panga

1323
Ilustrasi tentang penyu

Acehraya.co.id – WWF Indonesia bersama team konservasi penyu, panglima laot, LSM A.P.A dan aparatur desa melakukan “Minute of Meeting” atau diskusi bersama dengan agenda penyusunan kerja team penyu dan aparatur desa serta panglima laot, pada rabu (21/10/2015) di  Keude Panga, Aceh Jaya.

Kabupaten Aceh Jaya merupakan wilayah pesisir Barat pantai Sumatera dengan panjang garis pantai lebih kurang 160 kilometer. Sumber daya pesisir di Kabupaten Aceh Jaya antara lain seperti, terumbu karang, mangrove, spesies ikan karang, pasir, spesies-spesies penting, vegetasi pepohonan pantai, dan pantai peneluran penyu.

Seperti diungkapkan oleh Dewi Nopita Sari, Marine Fisheries Policy WWF-Indonesia, dia mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meninjau kembali pantai peneluran penyu dan diskusi bersama dengan pihak-pihak yang peduli akan nasib penyu di Aceh Jaya.

“Ada 3 desa pesisir yang akan di lakukan pemantauan terhadap garis pantai peneluran penyu, yaitu desa Keude Panga, Kuta Tuha dan Alue Piet. Masyarakat setempat berinisiatif untuk melakukan perlindungan pantai peneluran penyu di kecamatan Panga ,” ujar Dewi.

Dewi juga menambahkan, ancaman terhadap keberlanjutan spesies penyu disebabkan oleh predator dan  pemburu telur “Penyu” yang tidak memikirkan keberlanjutan populasi dari hewan tersebut. “Sebenarnya dulu hampir di semua garis di kabupaten Aceh Jaya lokasi tempat peneluran penyu, tetapi lambat laun berkurang dikarenakan oleh predator dan pemburu penyu,” tambahnya.

Menurutnya, perlu dilakukan kerja keras untuk menyelamatkan telur penyu masih perlu. Dan perlu adanya dukungan semua pihak seperti melibatkan masyarakat lokal, LSM, pemerintah, komunitas dan publik lainnya. Selama ini, masyarakat masih mengkonsumsi telur penyu sehingga perburuan telur masih sering terjadi. Kurangnya informasi dan kesadaran untuk menyelamatkan penyu di laut Aceh perlu ditingkatkan dengan harapan setiap tahunnyai telur penyu yang diselamatkan dan berhasil ditetaskan lebih banyak lagi dari tahun ke tahun.

“Sejauh ini masih minim sekali sosialisasi terhadap perlindungan penyu (perlindungan pantai peneluran penyu dan perdagangan telur penyu) kepada seluruh masyarakat terutama pemerintah setempat dan stakeholder lainnya. Perlu adanya penegakan hukum yang formal untuk perlindungan penyu tersebut,” tambah Dewi.

Dirinya berharap, dengan terlaksananya “Minute of Meeting” atau diskusi bersama dengan agenda penyusunan kerja team penyu dan aparatur desa serta panglima laot di Keude Panga, Aceh Jaya, dapat menambah kepeduliaan terhadap perlindungan (telur) spesies penyu dan menjadi acuan atau pedoman untuk melanjutkan kegiatan yang telah dilaksanakan di kawasan konservasi tersebut.

“Hasil akhir yang diperoleh dari “Minute and Meeting” bersama team penyu dan aparatur desa serta panglima laot, ada tiga, yaitu Adanya informasi terupdate tentang keberadaan penyu di panga yang dipaparkan oleh team konservasi panga dan masyarakat sekitar. lalu, melihat pantai konservasi peneluran penyu di 3 lokasi (keude Panga, kuta tuha, alue phit, dan terakhir, adanya rencana-rencana kegiatan bersama/agenda kerja  yang akan dilakukan di Panga dalam pelestarian penyu,” tutup Dewi. [acehinsight.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY