Uji Coba Bunker Perlindungan Asap Sukses

324
Lahan Gambut di Pelalawan Riau Menghitam karena Terbakar (Chaidir Anwar Tanjung/detikcom)

Acehraya.co.id – Berbagai cara dilakukan masyarakat sesuai kepasitas dan kemampuan untuk membantu penanganan kabut asap yang terus menguat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan. Salah satunya bunker perlindungan asap yang diuji-coba di SDN Percobaan yang beralamat di Jalan Ujung Gurun 56 Kota Padang.

Alat yang diciptakan oleh Lektor Kepala Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dari Institut Telnologi Bandung (ITB), Zeily Nurachman bersama tim bersama dengan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) terbukti efektif mengurangi konsentrasi aerosol atau partikel debu (PM10) di dalam kelas.

Zeily mengatakan, berdasarkan laporan PM10 dari Bapedalda Kota Padang, PM10 (pada pagi hari) berada di angka 288 mikrogram per meter kubik. Di halaman SDN Percobaan, PM10 terukur 180 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, di dalam ruang kelas, PM10 berada di angka kisaran 70-90 mikrogram per meter kubik.

“Alhamdulillah ini ada data, ini ada data (particulate air monitoring equipment), artinya sudah ada fungsi, minimal 50 persen,” katanya.

Sehingga, ia mengatakan, bunker perlindungan asap ini dapat diduplikasi untuk seluruh sekolah di Sumatera Barat atau yang terdampak kabut asap.

Bunker perlindungan asap ini menelan biaya relatif murah, hanya sekira Rp300 ribu. Alat-alat yang dibutuhkan juga sangat mudah ditemukan, seperti kain filter/saring yang terbuat dari dakron, aquarium, alga hijau, lampu neon.

Ia menambahkan, biaya mahal hanya untuk kipas angin penyaring debu, yang seharga Rp300 ribu per buah. Dalam satu sistem bunker perlindungan asap, dibutuhkan dua kipas angin penyaring debu.

“Silahkan ini diduplikasi di kelas atau rumah. Penyempurnaan (bunker perlindungan asap) kreativitas bapak-ibu guru, kami akan menjawab setiap pertanyaan,” ujar Zeily menambahkan.

Zeily menerangkan, luas permukaan air dan jumlah alga hijau dalam air merupakan faktor utama dan mekanisme alami yang sangat mempengaruhi keberhasilan alat-alatnya. Dari hasil uji cobanya, semakin luas permukaan air dan semakin banyak kandungan alga hijau di dalam air, membuat keefektifan alatnya semakin ampuh.

Zeily berharap, dengan ditemukannya bunker perlindungan asap ini para siswa tidak perlu diliburkan lagi. Sehigga proses belajar mengajar bisa tetap berlangsung, karena udara dalam ruangan yang telah dipasangi alat tersebut telah jernih.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananta Kusuma Seta memastikan, berdasarkan hasil pengukuran, PM10 dalam bunker perlindungan asap dibandingkan di luar ruangan, jauh lebih bagus kategori ISPU-nya. [harianhaluan]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY