Mengapa Calon Mertua Suka Memandang Remeh Profesi Blogger?

475
ilustrasi blogger (hipwee.com)

Agus Mulyadi, atau kerap disapa Gus Mul adalah blogger berusia 23 tahun yang kini dilaporkan “sedang sibuk menanti kehadiran istri pertama.”

Bertepatan dengan hari blogger, Selasa (27/10) lalu, kami mengajak penulis buku “Jomblo tapi Hafal Pancasila” ini berbincang di Facebook tentang dunia penulisan di dunia maya.

Bagaimana mengatasi ‘kebuntuan ide’? Dan mengapa calon mertua suka memandang remeh profesi blogger? Berikut Gus Mul menjawabnya:

Puji Lestari: Bagaimana memunculkan ide yang membuat orang jadi tertawa dengan tulisan-tulisan Anda?

Gus Mul: Jujur Mbak Puji, saya jarang sekali memunculkan ide, karena biasanya apa yang saya tulis di blog memang pengalaman sehari-hari, tak perlu lagi ide. Nah, untuk beberapa tulisan yang membutuhkan sentuhan humor, saya seringkali mendapatkan ide ‘punch’ lucu dari kawan-kawan, kadang-kadang dari hasil ngobrol saat kumpul-kumpul. Nah, begitu dapat ‘punch’ yang lucu itu, biasanya saya akan langsung mencatatnya di ponsel saya, sehingga kalau saya butuh sentuhan ‘punch’ lucu untuk artikel saya, saya tinggal ngambil dan memodifikasinya.

Denni Ardianto: Apa nasihat atau saran yang Gus Mul berikan terhadap para blogger yang memasarkan blognya secara sporadis (baca: Mencantumkan situs blog-nya di banyak kolom komentar sosial media bahkan mencantumkannya berkali-kali) hal itu tentu menggangu pembaca lainnya. Dan sebutkan tiga cara memasarkan blog yang benar/ etis”

Agus Mulyadi dikenal sebagai blogger muda yang memiliki tulisan-tulisan lucu dan segar.
Agus Mulyadi dikenal sebagai blogger muda yang memiliki tulisan-tulisan lucu dan segar.

Gus Mul: Kalau ada blogger yang seperti itu, mungkin ini yang akan saya katakan: “mas, asal sampeyan tahu, semakin sampeyan nyebar link blog sampeyan di berbagai kolom komentar, blog sampeyan bukannya makin bagus, tapi malah makin kelihatan sampah, bikin muak.” Kalau sama blogger kaya gini, kasarin aja sekalian, biar kapok. Tiga cara promosi blog yang etis menurut saya:

  • ‘Blogwalking’
  • Jalin interaksi dengan pembaca (karena pembaca adalah sales yang terbaik)
  • Beriklan di Facebook Ads (kalau ada duit, hehe)

Adhihayu Arcci Maharddhika: Bagaimana cara mempertahankan mood untuk menulis dan selalu produktif?

Gus Mul: Ini pertanyaan yang mungkin saya sendiri tak tahu apa jawabannya. Karena saya sendiri tak pernah berusaha untuk menjaga ‘mood’ menulis. Saya selalu menulis kalau ‘mood’ sedang bagus, dan usahakan selalu disimpan di draf. Kalau ‘mood’ sedang tidak bagus, ya tinggalkan saja, cari kegiatan yang bisa membuat Anda segar kembali. Nanti kalau ‘mood’ sudah muncul kembali, ya tinggal lanjutkan draf yang tadi belum selesai. Pokoknya saat ‘mood’ menulis sedang oke-okenya, imbangi juga dengan mengumpulkan ide postingan di draf sebanyak-banyaknya.. Ini kalau saya lho, nggak tahu deh kalau mas Anang sama Mbak Titi.

Arci Arfrian Rahmanta: Gini gus, saya bersama teman-teman sejawat saya punya komunitas nih bernama Komunitas Pembongkar Mitos Malam Minggu (PM4). Di komunitas ini kami sebenernya jomblo semua, sama seperti Gus. Kami ingin sekali berkreasi kreatif dengan tulisan ataupun visual. Nah, Gus Mul beri dong kita kiat-kiat atau tips dan trik untuk kreatif tanpa batas sambil terus tertawa lepas tanpa harus memikirkan sesuatu (pacar)? Haha. Terimakasih. Mohon Maaf kalo ada salah kata.

Gus Mul: Pertama-tama, saya turut prihatin dengan kondisi komunitas sampeyan mas… sungguh, saya sangat tahu apa yang sampeyan sekomunitas rasakan… Jadi begini mas, kreatif itu menurut saya tergantung pada lingkungan dan pergaulan, semakin banyak bergaul, kreativitas akan semakin tumbuh. Kiat saya sederhana, tambah intensitas kumpul-kumpul komunitas sampeyan, bicarakan aneka hal yang menarik, bermainlah kartu atau karambol bersama, nikmati obrolan-obrolan kalian, dan percayalah, ide-ide pasti bermunculan dengan mudahnya. Itu pula yang sering saya lakukan bersama kawan-kawan saya yang ndilalah juga banyak yang jomblo.

Friana Hendra: Yang tersayang, junjungan kami, Gus Mulyadi. Pertanyaan saya sederhana, siapa influence njenengan dalam menulis cerita lucu, dan bagaimana caranya saya, yang ingin menjadi orang lucu ini, bisa menulis sesuatu yang sebenarnya biasa saja menjadi sesuatu yang unik dan nyeleneh. maturnuwun.

Gus Mul: Yang mempengaruhi saya dalam penulisan dengan gaya lucu adalah almarhum Umar Kayam. Sampeyan bisa baca-baca tulisan beliau diumarkayam.wordpress.com, dijamin bagus-bagus… kalau pengin punya tulisan dengan gaya lucu, ya coba tiru para penulis yang punya gaya tulisan lucu, dan rajin-rajinlah baca tulisannya… nanti lama-kelamaan, gaya sampeyan bakal ikut lucu… IMHO

Elaeis Pakpahan: Mas.. bagaimana caranya supaya bisa percaya diri menulis walaupun wajah kita jelek? #senasibdansepenanggungan

Gus Mul: Hahaha…ya nulis saja, tapi muka sampeyan jangan dimasukin di blog… Gitu aja kok repot lho….

Muhadzier: Maop Gus Mul, kenapa calon mama mertua memandang remeh profesi blogger? Salam, saya ketua kaukus jomblo peduli syariah Aceh.

Gus Mul: Mungkin karena stigma yang beredar di masyarakat karena blogger tidak menjanjikan materi yang cukup. Bapak saya dulu juga begitu, ia memaksa saya untuk kerja di pabrik karena menganggap jadi blogger itu cuma senang-senang thok dan bikin orang jadi malas. Tapi setelah saya mendapatkan pendapatan yang lumayan dari blog, bapak saya jadi lebih terbuka… Pokoknya buktikan saja dulu sama mertua kalau sampeyan bisa punya materi yang cukup dari ngeblog. Kalau saya cukup membuktikan sama orang tua saja dulu, soalnya calon mertua saya entah sekarang ada di mana…

Rahma Damayanty: Bagaimana sih menghadapi para pem-bully Mas Agus?

Gus Mul: Pem-bully apa? pem-bully dunia maya? kalau saya, biasanya jarang saya tanggapi. Karena melayani pem-bully di dunia maya itu seperti bergulat dengan babi di atas lumpur, semakin kita menghadapi, kita akan semakin kotor, dan babinya justru senang. [bbcindonesia]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY