MPU Aceh : Perburuan Dan Perdagangan Satwa Langka Hukumnya Haram!

533
Tgk H Faisal Ali saat menjadi pemateri di seminar inisiatif perlindungan Samarkilang (@WWF Indonesia)

Acehraya.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 4 Tahun 2014 Tentang “Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem”  pada tanggal 22 Januari 2014 lalu. Fatwa ini dapat digunakan sebagai penuntun bagi umat Muslim Indonesia yang jumlahnya sekitar 200 juta jiwa dapat mengambil langkah aktif melindungi spesies-spesies langka dan terancam punah seperti Harimau, Badak, Gajah dan Orangutan.

Seperti dikatakan oleh Tgk H Faisal Ali, wakil ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, saat menghadiri seminar “Inisiatif perlindungan Samarkilang sebagai kawasan konservasi khusus biodiversity di Provinsi Aceh”, selasa, (3/11/2015) di Ballroom Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, yang diprakasai oleh WWF Indonesia Kantor Program.

Menurutnya, Fatwa No. 4 Tahun 2014 ini merupakan yang pertama di dunia dan dukungan agama atas perlindungan satwa merupakan suatu kemajuan yang positif. Fatwa ini dikeluarkan untuk memberikan penjelasan, sekaligus bimbingan bagi umat Muslim di Indonesia dalam hal perspektif hukum terkait konservasi satwa.

“Ada tanggung jawab moral keagamaan untuk memakmurkan bumi dan seisinya dengan aktivitas positif. Karena semua itu, sudah dijelaskan dengan sangat jelas di Al-Qur’an dan Hadist, ” ujar Tgk Faisal kepada Acehinsight.com.

Selain bertujuan untuk memperkuat kebijakan pemerintah Indonesia dalam melestarikan dan melindungi satwa-satwa langka dan terancam punah, fatwa tersebut juga memberikan kepastian hukum menurut pandangan Islam tentang perlindungan terhadap satwa terutama yang memiliki status rawan, terancam punah, bahkan punah.

“Bahwa bumi dan seisinya yang diciptakan oleh Allah untuk dimanfaatkan semaksimal mungkin tidak hanya untuk kepentingan ekonomi tetapi juga kepentingan sosial dan kelestarian lingkungan,” tutupnya. []

Haram hukumnya

“Maka setiap umat islam wajib menjaga keseimbangan ekosistem, salah satunya adalah dengan menjamin keberlangsungan hidup satwa terutama yang dilindungi. Semua kegiatan perburuan yang mengakibatkan kepunahan satwa liar tanpa dasar agama atau ketentuan hukum adalah haram,” lanjut Tgk Faisal.

Dirinya juga menambahkan dalam perspektif Islam, dimensi kemanusiaan, lingkungan, dan sosial memiliki relasi Ketuhanan. “Termasuk di dalamnya menjamin keberlangsungan hidup satwa terancam punah, dalam kondisi keterancaman, kita tidak boleh untuk merusak atau memunahkan tetapi wajib menjaga dari kepunahan.”

Northern Sumatra Program Manager, Dede Suhendra, kepada Acehinsight.com mengatakan, “Ini memberikan aspek spiritual dan meningkatkan kesadaran moral yang akan membantu kita dalam pekerjaan untuk melindungi dan menyelamatkan satwa liar yang tersisa di negara ini seperti harimau dan badak yang terancam punah.”

Dede Suhendra, Northern Sumatra Program Manager (@WWF Indonesia)
Dede Suhendra, Northern Sumatra Program Manager (@WWF Indonesia)

“Kami berharap dengan adanya Fatwa No. 4 Tahun 2014 Tentang “Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem” di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dapat menginspirasi seluruh umat muslim lainnya untuk melindungi satwa yang terancam punah dan habitatnya,’’ Tutur Dede.

Pembabatan hutan yang banyak dilakukan secara ilegal, mengancam kehidupan spesies yang terancam punah seperti harimau Sumatra, orang utan, gajah Sumatra dan Badak.

“Semoga dengan dijadikannya Samarkilang sebagai kawasan konservasi khusus biodiversity di Provinsi Aceh, habitat-habitat tersebut dapat terus terjaga sampai anak cucu kita,” tutup Dede Suhendra. [acehinsight.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY