Untuk Jaga Laut RI, Ini Dia Kehebatan Pesawat Maritim RI Tawaran Boeing

842

Acehraya.co.id – Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan percobaan pemantauan laut menggunakan pesawat Boeing Maritime Surveillance Aircraft (MSA) N614BA. Keduanya mengelilingi kawasan udara Selatan Pulau Jawa menggunakan pesawat produk Amerika ini.

Pantauan merdeka.com demonstrasi tersebut dilakukan selama satu jam, dari pukul 09.30 WIB sampai dengan 10.30 WIB.

“Saya dan Bu Susi terbang satu jam ke arah Selatan Pulau Jawa naik Boeing Surveillance, pesawat pengintai milik Boeing,” ujar dia di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin.

Pemerintah saat ini memang tengah gencar memberantas praktik pencurian ikan. Ketertarikan pemerintah pada pesawat ini karena dapat menjadi alat pemberi informasi para pencuri ikan untuk segera ditangkap.

Menteri Susi Pudjiastuti menyebut pencurian ikan membuat Indonesia merugi sekitar Rp 3.000 triliun. Menteri Susi mengungkapkan, berdasarkan penglihatan dari satelit, setidaknya ada sekitar 50 hingga 200 kapal asing melaut bebas hanya di kawasan Laut Arafuru saja.

“Sekarang dari hasil satelit setiap hari di Laut Arafuru ini ada sekitar 50-200 kapal di atas 20-30 meter, bahkan ada yang 50 meter beroperasi tanpa VMS dan tanpa AIS,” jelasnya di Kantornya, Jakarta.

Menko Rizal mengatakan pemerintah bakal membeli pesawat pemantau pencurian ikan jenis Boeing N614BA. Namun, kata dia, pembelian itu tergantung potongan harga yang diberikan pihak Boeing sendiri.

“Memang pesawat jenis ini diperlukan, tergantung dealnya. Kalau Boeing diskonnya tidak jelas, kita tidak beli. Tapi kalau diskonnya bagus, akan kita pertimbangkan,” ujarnya.

Lalu apa sebetulnya kehebatan pesawat ini? Berikut merdeka.com merangkumnya dari berbagai sumber.

1. Punya alat pemantau canggih

Pesawat dengan kapasitas dua pilot dan tiga penumpang ini dinilai mampu memantau kapal-kapal yang ada di perairan Indonesia. Pesawat ini juga dapat memantau kapal yang tidak memiliki pemancar sinyal atau transmitter.

“Kita bisa memantau kapal-kapal yang ada di perairan, baik yang ada identifikasinya maupun yang tidak punya transmitter. Yang tidak miliki pemancar ini patut dicurigai, Jangan-jangan ilegal fishing. Itu bisa di monitor,” papar Menko Rizal.

Boeing MSA N614BA dilengkapi dengan alat sensor canggih yang terdiri dari Active Electronically Scanned Array (ASEA) multi mode radar, high-definition Electro-Oprical/Infrared (EO/IR) camera, advanced Electronic Support Measures (ESM), state-of-the-art Communications Inteligence (COMINT) dan Automatic Identification System (AIS).

Pesawat ini, lanjutnya, bakal jadi pemantau pencurian ikan yang efektif. “Kalau bisa kita beli kayak begini datanya dishare. Sehingga bisa menjadi alat pemantau yang efektif,” jelasnya.

2. Bisa memantau titik api kebakaran hutan

Selain melakukan pemantauan di perairan Indonesia, Menko Rizal menyebut pesawat ini juga diklaim mampu memonitor titik api kebakaran hutan.

“Bisa cover wilayah Timur maupun Barat. Sangat efisien sekali sangat bermanfaat untuk memantau ilegal fishing dan stabil. Pesawat ini relatif kecil dan efisien dibanding pesawat lain,” pungkasnya.

3. Bentuk aerodinamis pesawat membuatnya lebih enak dikendalikan

Dilansir dari Corporate Jet Investor, seorang pilot penguji Craig Tylski mengatakan kalau bentuk pesawat ini sangat aerodinamis. Sehingga memungkinkan pilot sangat nyaman mengendalikannya.

“Bentuk pesawat ini cukup memuaskan dengan harga yang dibayarkan. Pengendaliannya sungguh sempurna,” pujinya.

4. Kemampuan maksi dengan harga mini

Masih dari Corporate Jet Investor, satu unit pesawat ini diperkirakan bakal dijual seharga USD 60 juta atau setara Rp 816,3 miliar. Kapal ini lebih murah dibandingkan pendahulunya yakni P-8 Poseidon.

Menko Rizal menegaskan pengadaan pesawat pemantau ini harus dikoordinasikan dengan lembaga-lembaga terkait. Senada dengan Menko Rizal, Menteri Susi Pudjiastuti mengatakan pengadaan pesawat ini harus dilihat dari segi harga dan benefit.

“Kalau kita sampai ke level pengadaan kita harus cari mana yang lebih murah, mana yang lebih bagus benefitnya. Tidak harus Boeing, kalau Boeing mahal tidak kita pilih,” kata Susi.

Susi menambahkan KKP belum berencana untuk melakukan pengadaan pesawat pemantau ini. Dia mempersilahkan lembaga atau kementerian lain untuk membeli pesawat pemantau pencurian ikan ini. [merdeka]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY