IPT 1965: Kenapa Baru (di masa) Presiden Jokowi Sidang Ini Muncul?

433

Acehraya.co.id – Wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir, yang melaporkan langsung jalannya persidangan di Den Haag, menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda terkait pengadilan rakyat internasional kasus 1965 di Den Haag, Belanda.

Secara umum, banyak dari Anda (melalui Facebook) bertanya mengapa IPT ini dilakukan di masa pemerintahan Jokowi, bukan di era pemerintahan sebelumnya. Banyak juga yang bertanya, jika tidak ada peran pemerintah Belanda, mengapa harus dilakukan di Belanda?

Ada pula yang bertanya, apa pengaruhnya kepada Indonesia jika keputusan sidang tidak punya kekuatan hukum? Berikut rangkuman tanya jawab yang kami dilakukan di Facebook:

Aldi Rahmayadi: Apa perlu pengadilan di Belanda, sehingga seolah-olah hukum di Indonesia tidak bisa tangani kasus ini. Sangat disayangkan saja, terlihat hanya demi kepentingan kelompok, membunuh makna hukum di Indonesia.

151113060146_rohmatin_ipt_2_640x360_bbc_nocredit

Rohmatin Bonasir: Ini adalah Pengadilan Rakyat Internasional bentukan sejumlah aktivis, akademisi dan juga kelompok penyintas pergolakan tahun 1965-1966, bukan pengadilan resmi. Menurut penyelenggara, sidang diadakan untuk membuka “kebisuan” yang selama ini terjadi di Indonesia terkait peristiwa itu. Dan di Indonesia sendiri, kasus itu belum pernah sampai ke pengadilan sejauh ini.

Novita Sari: Apa kemungkinan yang akan terjadi di Indonesia jika kebenaran kasus 1965 terungkap? Dampak positif dan negatif apa yang kemungkinan akan timbul dari hasil sidang ini?

Rohmatin Bonasir: Apapun hasil sidang ini tidak akan mengikat Indonesia karena sifatnya adalah pengadilan rakyat, tidak menginduk ke lembaga resmi misalnya PBB. Ini perlu dibedakan dengan Mahkamah Kejahatan Perang atau Mahkamah Pidana Internasional yang keputusannya wajib dilaksanakan. Adapun keputusan Pengadilan Rakyat Internasional (IPT) 1965 hanya berupa rekomendasi. Yang jelas, kesaksian para penyintas secara gamblang disimak oleh tujuh hakim internasional dan diberitakan secara luas. [bbcindonesia]

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY