Media Cetak Segar Bugar di Asia, Tenggelam di Barat

389
Foto : Getty Image

Acehraya.co.id – Pelaku industri media cetak di Indonesia tidak sendirian merasakan penurunan bisnis. Angka-angka menyangkut bisnis media cetak di Amerika Serikat, negara dengan praktik jurnalisme paling matang, terhitung merisaukan.

Paolo Hooke, peneliti dari University of Technology, Sydney, Australia, lewat kajian pada 2013 mengatakan di negara maju sirkulasi ditambah perolehan iklan surat kabar di negara-negara maju anjlok 43 persen dalam lima tahun terakhir.

Tinggal tersisa 40 ribu wartawan bekerja harian, berkurang 10 ribu dibanding satu dasawarsa yang lalu. Pemicunya adalah perkembangan media online.

Jepang, yang selalu jadi acuan bangsa gemar membaca, tak bisa luput dari situasi serupa. Asosiasi Penerbit Surat Kabar Jepang mengatakan sirkulasi pemain raksasa seperti Yomiuri Shimbun memang tidak anjlok parah, masih di angka 43 juta eksemplar per tahun. Tapi penurunan sirkulasi itu stabil, di angka 600 ribu saban tahun.

“Hanya saja, krisis ini tidak bisa disebut universal,” kata Hooke. Dia mengatakan surat kabar masih tumbuh subur di Asia.

Kavi Chongkittavorn, mantan wartawan the Bangkok Post yang kini menjadi pengajar di Chulalongkorn University, membenarkan pesatnya bisnis media di Asia.

Dia mencontohkan fenomena yang menarik adalah Myanmar. Di negara baru saja lepas dari represi junta militer ini, bisnis surat kabar swasta sedang kencang-kencangnya. Selama ini, rakyat Myanmar terbiasa membaca Kyemon, koran corong pemerintah. Liberalisasi 2011 memicu munculnya koran swasta seperti The Voice Daily, Daily Eleven, The Yangon Times Daily, hingga Myanmar Business Today.

“Wartawan baru berpengalaman dua-tiga tahun langsung menjadi editor karena kebutuhan SDM sangat tinggi,” urainya.

Saking pesatnya bisnis cetak di Myanmar, negara dulu bernama Burma itu menyerap pasokan 10 ribu ton kertas tahun lalu, tertinggi setelah China dan India.

Juara utama penjualan surat kabar memang di China dan India. Untuk kasus China, melonggarnya kontrol pemerintah membuat masyarakat perlahan mendapat akses informasi beragam.

Foto : The Hindu
Foto : The Hindu

Walau belum terlalu kritis dan isu nasional masih didominasi pemerintah, namun surat kabar swasta berkembang pesat di setiap provinsi. Ada Beijing Evening News, Yeski, Guangxi Daily, atau Qilu Evening News. Nama-nama itu memiliki oplah 700 ribu hingga 1,2 juta eksemplar per hari.

Sebelas dua belas, India juga punya sirkulasi yang sangat mencengangkan. The Hindu, salah satu pemain besar yang lebih dari satu abad terbit, masih sanggup mempertahankan oplah 1,3 juta eksemplar per hari.

“Tapi memang di India konten surat kabar lebih dipenuhi hiburan, gosip, dan olahraga. Masih sedikit liputan yang perlu diketahui publik,” kata Hooke.

Ketua Asosiasi Penerbit Surat Kabar Dunia (WAN-IFRA) Christoph Riess punya penjelasan menarik mengenai masa depan bisnis media cetak.

“Sirkulasi media cetak itu bagaikan matahari. Kini terbit di Timur dan tenggelam di Barat.”

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY