Setahun, 12 Gajah Sumatera Mati di Aceh Timur

367
Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatresnsis) (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Acehraya.co.id – Untuk kesekian kalinya, temuan gajah mati terjadi di Provinsi Aceh. Pada Rabu 14 Oktober 2015, kembali dua gajah Sumatera (Elephas maximus) ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Krueng Sabee, Aceh Jaya.

Kedua gajah berkelamin betina itu diduga mati akibat keracunan dan tergeletak hanya berjarak 20 meter dari perkebunan warga di desa Panggong, Kecamatan Krueng Sabee Aceh Jaya.

“Awalnya dikira tidur, setelah ditunggu berjam-jam kedua gajah tidak bangun-bangun, saat dihampiri ternyata kedua gajah tersebut sudah mati,” ujar Idrus, warga setempat, Jumat 16 Oktober 2015.

Saat ditemukan gajah dewasa tersebut dalam keadaan mengeluarkan darah pada bagian wajah dan mulut. Sementara tubuhnya masih dalam keadaan utuh dan belum membusuk.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Genman Hasibuan mengatakan, kuat dugaan kedua bangkai gajah tersebut mati akibat diracun. Pihaknya juga teah mengambil sampel untuk dilakukan uji laboratorium.

“Dugaan sementara karena racun. Sampel organ sudah diambil untuk uji laboratorium agar diketahui kepastian penyebab kematiannya,” ujar Genman Hasibuan.

Kematian dua ekor gajah ini menambah daftar panjang punahnya hewan mamalia terbesar tersebut di Aceh. Sebelumnya pada September 2015, dua hewan besar tersebut juga ditemukan mati di Kabupaten Aceh Timur.

Setahun, 12 Gajah Sumatera Mati di Aceh

Warga Dusun Seumedang, Desa Seumanah Jaya, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, kembali menemukan seekor gajah Sumatera yang mati di kawasan hutan tanaman industri (HTI) Kecamatan Ranto Peureulak, Minggu, 15 November 2015.

Gajah yang berusia sekitar delapan tahun ini mati di alur-alur dekat perkebunan warga dengan kondisi sudah membusuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap.

Sebelumnya, dua hari lalu, warga Ranto Peureulak juga menemukan gajah betina mati di kawasan PT Atakana. Gajah itu mati terkena sengatan listrik yang sengaja di pasang oleh warga.

Hal itu dilakukan warga untuk melindungi tanamannya. Berdasarkan keterangan warga setempat, Juna (43), sudah 12 ekor gajah mati di Desa Seumanah Jaya sejak setahun terakhir.

“Sebenarnya sudah 12 ekor gajah yang mati di desa ini, namun yang terpublikasi oleh media hanya lima ekor saja,” kata Juna.

Seperti diketahui, minggu lalu lima rumah hancur diobrak-abrik oleh kawanan gajah liar. Tak hanya itu, 50 ekor gajah juga  merusak tanaman warga, seperti kakao, sawit, dan jagung.

Segerombolan gajah itu datang di malam hari saat warga sedang tidur. Mendengar suara awungan gajah. Warga lari berhaburan keluar rumah dan mencari tempat yang aman.

“Beruntungnya kawanan gajah itu hanya merusak rumah dan perkebunan kami, tidak ada korban jiwa,” kata Juna.

Dia menjelaskan, konflik gajah dan manusia ini sudah terjadi sejak 12 tahun lalu. Hewan yang memiliki belalai ini dinilai selalu merusak perkebunan warga.

Menurutnya, hal itu karena habitat hewan yang dilindungi itu sudah hancur dan beralih menjadi perkebunan. Apalagi, kurangnya kesadaran manusia menebang pohon di hutan yang dilindungi, sehingga para kawanan gajah turun ke permukiman penduduk. [Siti Nuraisyah Dewiantv/tvOne]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY