Nestapa Petani Nilam Di Aceh Tamiang

1008
Amran, salah satu petani nilam yang berada Desa Pantai Tinjau, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang (Analisa)

Oleh: Dede Harison

AMRAN (44), petani nilam di Desa Pantai Tinjau, Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang mulai melakukan perebusan daun nilam untuk disuling secara manual untuk diambil minyaknya dan kemudian dijual. Nilam yang hendak ia suling merupakan bahan baku yang selamat dari banjir pada akhir September 2015. Nilam sisa banjir inilah yang menjadi harapan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Perkiraan kami meleset, ternyata banjir datang lebih cepat sebelum waktu panen,” ucap Amran saat ditemui Analisa di kediamannya, baru-baru ini. Dia mengaku trauma pascabanjir yang menimpanya belum sirna.

Menurut Amran, bahan baku nilam kering yang hendak disuling hanya tersisa seberat 180 kg. Sekali penyulingan seberat 30 kg bahan baku memakan waktu hingga enam jam. Dalam sehari Amran hanya bisa menyuling nilam sebanyak dua kali. Setelah kebun nilamnya seluas 20 rante (satu rante seluas 400 m2) disapu banjir luapan Sungai Tamiang, ia pun dirundung kesedihan mendalam karena mengalami gagal panen yang sangat besar.

“Tahun ini 95 persen dari kami gagal panen. Dari luas 20 rante hanya sekitar dua rante saja yang bisa panen. Selebihnya, nilam mati akibat terendam air selama berhari,” rincinya.

Dalam satu rante lahan nilam bisa menghasilkan bahan baku sekitar 150 kg. Rata-rata kebun nilam warga di Pantai Tinjau memang berada di lokasi rawan banjir. Biasanya banjir musiman datang sekitar Oktober hingga Desember. Namun kali ini banjir terjadi pada September saat petani akan menikmati hasil panen. Akibat banjir itu, panen mendadak harus dilakukan petani dengan cara susah payah, bertaruh nyawa di derasnya arus banjir nan keruh.

Pria kelahiran Aceh Selatan ini bisa disebut salah satu pelopor budidaya nilam di Kecamatan Sekrak, Aceh Tamiang. Dari rumah produksinya di Dusun Pasar Batu, Desa Pantai Tinjau, minyak nilam kualitas ekspor ini dihasilkan. Meski dewasa ini sangat minim petani yang mau melirik usaha bercocok tanam umbian ini, tapi  ia tetap eksis mendulang rezeki dengan menyuling batang dan daun nilam.

Kendati sebagian besar penduduk Desa Pantai Tinjau bertani nilam, namun luas lahan nilam di desa tersebut tidak lebih dari 10 hektare saja. Lahan itupun umumnya bukan milik pribadi petani, melainkan dipinjam pakai. Meski menyewa lahan, Amran terus membudidayakan nilam dan menganggap usaha ini masih layak dikembangkan dan memiliki prospek menjanjikan.

Amram mengaku dari usia anak-anak sudah tahu cara membudidayakan nilam sampai bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. “Hambatan saat ini banjir datang tiba-tiba dan kami masih sangat kekurangan lahan yang bebas dari banjir,” ujarnya.

Walaupun ancaman banjir sangat signifikan, dia tetap gigih bahkan mengajak petani lain untuk mengembangkan nilam yang saat ini masih dibudidayakan di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Amran menjadi Ketua Kelompok Tani (Poktan) “Nilam Jaya” sejak 2009. Saat ini kelompok tersebut memiliki 10 anggota yang eksis mengembangkan nilam di Pantai Tinjau.

Menurutnya, sekali tanam nilam bisa tiga sampai empat kali panen. Setiap 30 kg bahan baku dapat menghasilkan 1 kg minyak nilam murni. Minyak nilam asal Sekrak dijual keluar daerah, khususnya Medan. “Harga minyak nilam dalam tiga bulan terakhir turun dari Rp700 ribu menjadi Rp 600 ribu/kg. Setelah terkumpul sekitar 10 sampai 30 kilogram baru saya bawa ke Medan karena di Aceh Tamiang tidak ada penampung,” tuturnya.

Nilam bisa dipanen setelah berumur enam-tujuh bulan. Perawatannya tidak terlalu merepotkan. Selain tidak disukai hama, umbian ini juga mampu bertahan dalam kondisi lembab atau kemarau. Daunnya yang terserang ulat akan digantikan dengan daun muda yang akan mekar.

Ancaman dari hewan pemakan umbi-umbian seperti kambing, sapi ataupun hewan liar lainnya di hutan dipastikan tak ada. Sebab, binatang tersebut tidak suka rumput nilam. “Namun ada ancaman lain, yaitu nilam tidak tahan terendam air sampai berhari-hari,” paparnya.

Diceritakan lebih jauh, perawatan nilam juga sangat mudah. Lahan cukup dibersihkan dan jangan sampai rumput lebih tinggi dari tanaman. Jika perawatan tanaman rutin diperhatikan, dari luasan satu rante bisa menghasilkan sekitar 300 kg bahan baku atau dua kali lipat hasilnya dari tanaman yang kurang dirawat.

Saat ini, Amran mempunyai alat penyulingan manual yang dibuat sendiri dari drum yang telah dimodifikasi dengan pipa besi berkapasitas 30 kg bahan baku sekali menyuling. Kendati ada bantuan mesin menyuling minyak dari Dinas Perindagkop Aceh Tamiang, namun Amran dan kawan-kawan enggan menggunakan alat modern tersebut karena masih kekurangan bahan baku dan hasil minyaknya dirasakan sedikit.

Sejauh ini anggota Poktan Nilam Jaya dan petani lain selalu datang ke rumah produksi Amran pada musim panen nilam untuk menyuling. Biaya penyulingan dibayar 20 persen dari hasil. Namun, tidak sedikit juga petani yang menjual langsung hasil panennya kepada Amran dengan harga disesuaikan.

Dikisahkan, pada 2011 Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Aceh Tamiang pernah memberi bekal berkaitan program pengembangan nilam di daerah ini. Namun, karena minimnya sosialisasi dari dinas tersebut membuat program pengembangan nilam tak berjalan dengan baik.

Khusus nilam, petani Pantai Tinjau berharap pemda dapat mencarikan solusi untuk pengembangan nilam di lahan yang aman dari banjir. Sebab selama bertahun-tahun petani nilam Pantai Tinjau selalu nestapa sebelum mereka memiliki lahan yang bebas dari ancaman banjir musiman. [analisa]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY