Diduga Keracunan, Gajah Ditemukan Mati Di Aceh

336
Ilustrasi Gajah mati (Dok.Pribadi)

Acehraya.co.id – Seekor gajah kembali ditemukan mati di Aceh. Bangkai gajah jantan itu ditemukan di kawasan perkebunan warga di Dusun Pucok Turue, Gampong (desa) Turue Cut, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, Aceh.

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh dilaporkan sedang melakukan identifikasi dan otopsi terhadap bangkai hewan berbadan besar ini. Hewan berbelalai yang dilindungi ini ditemukan tewas oleh warga Desa Turue Cut, Selasa (17/11/2015) sekitar pukul 20.00 WIB.

Tak jauh dari bangkai gajah, warga juga menemukan tumpukan karung pupuk untuk tanaman padi. Saat ditemukan, pupuk tersebut sudah berantakan. Diduga, pupuk tersebut dimakan oleh hewan yang dilindungi ini.

Dengan demikian, gajah tersebut diduga mati akibat keracunan setelah memakan pupuk padi tersebut.

Kepala BKSDA Aceh, Genman Suhefti Hasibuan membenarkan informasi pihaknya kembali menemukan gajah tewas di Kecamatan Mane, Pidie. Dugaan sementara tewasnya gajah jantan usia 6 tahun ini karena keracunan.

“Dugaan sementara memang karena keracunan, karena di sekitar gajah tewas ditemukan tumpukan pupuk padi yang sudah bererakan,” kata Genman di Banda Aceh, Rabu (18/11/2015).

Saat ini, sebut Genman, petugas BKSDA Aceh sudah berada di lokasi penemuan gajah tewas untuk dilakukan otopsi.

“Hasil pemeriksaan otopsi akan di bawa ke laboratorium forensik dan kalau sudah diperiksa baru bisa dipastikan penyebab kematian gajah tersebut,” ujar Genman.

Kematian gajah di kawasan Mane, Kabupaten Pidie, sebut Genman adalah kasus ketujuh ditemukan gajah tewas di Mane dengan jumlah gajah yang mati sebanyak 8 ekor. Rabu (11/11/2015) pekan lalu, juga ditemukan dua ekor gajah tewas di perkebunan sawit di Desa Seumanaja Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur.

Sepanjang bulan November 3 gajah liar ditemukan tewas, dan ketiganya diduga memakan racun.

Danurfan, aktifis Komunitas GEM (Komunitas Global March for Elephant and Rhino Aceh), mengatakan kondisi makin tingginya angka kematian gajah di Aceh, membuat kalangan aktifis yang bergerak di bidang lingkungan terpukul.

Rata-rata gajah mati karena keracunan dan kehilangan gading.

“Ini bukan tidak mungkin dalam 10-15 tahun ke depan, gajah Aceh akan punah di wilayah kita,” ujar Danurfan.

Danurfan juga mengatakan bahwa konflik gajah dan manusia di Aceh bisa ditangani dengan pembenahan tata ruang secara umum untuk melindungi satwa tersebut.

“Kita tahu bahwa 80 persen populasi gajah berada di luar area konservasi, itu artinya gajah dekat pada pemukiman penduduk atau area perkebunan, dan ada beberapa solusi yang dapat menyelamatkan satwa liar tersebut, semisal memetakan habitat gajah dilakukan dengan pembuatan barier (parit) pembatas di ikuti dengan parit alami yang telah ada agar satwa tersebut tidak masuk ke area kebun atau pemukiman warga, mengganti jenis perkebunan yang tidak disukai gajah, memberi sangsi keras bagi pemburu gading,” ungkapnya.

Penyelamatan gajah, lanjut Danurfan, bukan hanya prioritas bagi satwa yang dilindungi tapi juga perlindungan bagi masyarakat yang hidup di pinggiran hutan. [Daspriani Y Zamzami/ Kompas.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY