Ketika 4 Seniman Ini Bicara Tentang Aceh di Festival Jakarta Biennale 2015

708
(Dok.Tia Agnes/ detikHOT)

Acehraya.co.id – Bumi Serambi Mekkah terkenal dengan beragam budaya dan kentalnya cita rasa kuliner. Di kota tersebut, perpaduan budaya hadir dan seni rupa kian berkembang sampai sekarang ini. Kini, 4 seniman Aceh terpilih untuk memamerkan karyanya di ajang festival bertaraf internasional, Jakarta Biennale 2015.

Bukan hanya memajang karya pribadi tapi ke-4 seniman tersebut merespons sekaligus mengingatkan apa saja peristiwa yang terjadi di Aceh. “Bagi saya, seniman sejati adalah yang merespons keadaan sosial dan politik kotanya,” ucap salah satu kurator Jakarta Biennale 2015, Putra Hidayatullah ketika ditemui detikHOT di Gudang Sarinah Jakarta Selatan, belum lama ini.

Merespons yang dimaksud Putra adalah pembacaan narasi akan perjalanan Aceh yang tak boleh terputus antar generasi. Sejarah digunakan sebagai kritik bukan alat untuk tenggelam dalam romantisme masa lalu.

“Atau berkhayal tentang masa depan. Empat seniman ini berupaya untuk mengingatkan kembali,” lanjutnya.

Mereka adalah Cut Putri, Fuady Keulayu, Idrus bin Harun, dan Iswadi Basri. Sebelum Jakarta Biennale 2015 diresmikan akhir pekan lalu, mereka telah berkunjung ke Jakarta dan melakukan residensi singkat. Seperti yang dilakukan Cut Putri yang membuat mural di kawasan Paseban Jakarta Pusat.

Atau Idrus bin Hasan lewat ‘Menolak Jawai’ yang ditampilkannya di Gudang Sarinah. Pemaknaan simbol-simbol tersebut membuat pengunjung yang datang terhenyak. “Ada banyak arti dan makna dari mural ini,” kata lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh ini.

Selain pasangan suami istri tersebut, ada Fuady Keulayu yang merupakan seniman tutur asal Pidie Jaya, Aceh. Ia menyelesaikan studinya di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Selain bermain mop-mop, Fuady juga vokalis band lokal bernama Seungkak Malam Seulayan. Di panggung-panggung, Fuady kerap membicarakan isu bertemakan sosial dan politik.

Serta Iswadi Basri yang aktif di sanggar lukis bernama Apotek Wareuna. Tahun lalu, Iswadi meraih penghargaan anugerah seni tahunan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Banda Aceh. Lukisannya menjadi satu-satunya lukisan yang dipajang di Jakarta Biennale 2014.

Kali ini, culture detikHOT akan membahas apa saja yang ingin ditampilkan seniman Aceh, perkembangan seni rupa di Bumi Serambi Mekkah. Termasuk, karya-karya yang ditampilkan di Jakarta Biennale 2015. Simak terus artikelnya! [detik]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY