Fotografer Indonesia Jadi Nomine Fotografer Terbaik 2015

978
Ulet saat memotret kebakaran hutan di Palangkaraya.

Acehraya.co.id – Pewarta foto Indonesia, Ulet Ifansasti, menjadi salah satu nomine fotografer terbaik tahun 2015, versi harian Inggris the Guardian.

Nggak nyangka ya, karena fotografer dunia kan banyak banget. Terus kejadian-kejadian di luar Indonesia, banyak beritanya yang lebih dramatis,” ungkap Ulet kepada BBC Indonesia, Selasa (8/12).

Ulet, yang merupakan pewarta foto dari Getty Images, menjadi nomine bersama sembilan fotografer dunia lainnya, seperti Abd Doumany yang mengabadikan dampak perang Suriah dan Kenzo Tribouillard lewat foto-fotonya terkait serangan teroris di Paris.

Pada 2014 lalu, Ulet memperoleh nominasi yang sama dari harian Inggris tersebut.

Ulet saat memotret kebakaran hutan di Palangkaraya.
Ulet saat memotret kebakaran hutan di Palangkaraya

Ulet dipilih the Guardian berkat foto-fotonya yang berkisah tentang joki cilik di Sumbawa, kebakaran hutan di Kalimantan, dan kehidupan pengungsi Rohingya di Aceh.

“Mungkin (aku dipilih) karena isu-isu sosial yang aku angkat,” ungkap lelaki yang karya fotonya telah menghiasi berbagai media ternama dunia semisal harian the New York Times, majalah National Geographic Traveler, majalah LIFE, majalah Time, dan surat kabar USA Today.

Ulet pun menceritakan pengalaman berkesan di balik masing-masing foto yang membawanya menjadi nomine fotografer terbaik 2015 tersebut.

Perjuangan joki anak

September lalu, pewarta foto yang telah bergabung dengan Getty Images sejak 2008 itu meliput joki (penunggang kuda) anak-anak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ini adalah kedua kalinya Ulet mengabadikan kisah mereka.

“Anak-anak itu jadi joki bukan karena kemauan, tetapi karena turun-temurun, karena budaya. Mereka jadi tulang punggung keluarga dengan mendapat Rp50 ribu hingga Rp100 ribu untuk satu kali perlombaan,” katanya.

Ulet pun tidak pelak terpikir tentang pendidikan dan keselamatan mereka.

Joki anak-anak saat pacuan kuda di Sumbawa.
Joki anak-anak saat pacuan kuda di Sumbawa.
Pendidikan dan keselamatan joki cilik kerap menjadi buah pikir Ulet.
Pendidikan dan keselamatan joki cilik kerap menjadi buah pikir Ulet.

“Ketika sampai, aku pun memperlihatkan foto yang aku ambil di sana setahun sebelumnya, kepada anak-anak ini. Lalu aku tanya, anak yang ini di mana? Ternyata dia sudah meninggal,” tutur Ulet.

Risiko sangat tinggi yang selalu dihadapi joki-joki cilik itu pun terus membayangi pikiran Ulet selama mengambil foto pacuan kuda di Sumbawa.

Dua jam ‘terbakar’

Ulet sedang berkendara di jalanan Palangkaraya, Kalimantan Tengah, November lalu, saat dia melihat nyala api dari dalam hutan.

“Jadi, aku cari-cari jalan gimana supaya bisa masuk ke dalam. Nah, ketika sampai di dalam, itu hutan (gambut) sudah dibuka, dibakarin semua sebelum ditanam. Apinya merembet ke mana-mana.”

Api membakar lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Api membakar lahan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Ulet hanya berdiri satu hingga dua meter dari titik api saat memotret foto ini.
Ulet hanya berdiri satu hingga dua meter dari titik api saat memotret foto ini.

Agar bisa mengambil gambar sesuai yang diharapkannya, Ulet pun hanya berdiri dengan jarak satu hingga dua meter dari titik api.

“Itu panas banget di dalam, karena kalau pakai lensa tele agak susah, karena sudah malam sehingga takut shaking. Jadi mau nggak mau harus mendekat dan pakai tripod,” katanya.

Api yang terus membara, tidak meruntuhkan semangatnya. Masuk ke dalam hutan pukul 12 malam, Ulet baru menyelesaikan pengambilan foto pukul setengah tiga pagi. [bbcindonesia]

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY