WWF Gelar Pelatihan Upaya Menggiring Gajah Tanpa Memakan Korban

608

Acehraya.co.id – Minimnya pemahaman membuat upaya penggiringan gajah kerap memakan korban. Beberapa bulan terakhir selama tahun 2015, seorang warga dusun Lubukcengkeh, Musarapakat, Aceh, tewas dalam upaya penggiringan.

Bahkan, sebanyak lima orang meninggal dunia akibat diserang gajah di Kecamatan Pintu Rime Gayo Kabupaten Bener Meriah sepanjang tahun 2012 hingga 2014. Selain korban jiwa, diperkirakan ratusan hektare lahan milik masyarakat rusak, lahan sawah seluas 150 ha, kebun 500 ha, dan lahan pertanian 300 ha.

“Penggiringan kita lakukan malam. Waktu itu gajahnya kita kepung,” ungkap Suheri, Kepala Yayasan Penyelamatan Satwa Bener Meriah yang terlibat upaya penggiringan kepada Acehinsight.com di sela-sela pelatihan “Mitigasi Konflik Gajah-Manusia Berbasis Masyarakat” yang diselenggarakan WWF Indonesia di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, Aceh, Minggu (29/11/2015).

Heri bercerita, gajah yang dikepung akhirnya bingung dan tidak menemukan jalan keluar. Ketika gajah akhirnya tidak berhasil digiring, salah seorang anggota tim yang terlibat penggiringan justru mendekati gajah. Akhirnya, anggota tim tersebut justru menjadi korban amukan gajah dan tewas diserang.

Mengidentifikasi kesalahan dalam kasus tersebut, Heri mengatakan, “Kita tidak kompak.” Anggota tim yang mendekati gajah adalah tetua desa dan terkenal memiliki keberanian. Dari kasus tersebut, Heri sadar bahwa keberanian saja tidak cukup.

Konflik manusia dengan gajah di Kabupaten Bener Meriah hingga saat ini masih berlanjut, diperkirakan masih terdapat 48 ekor gajah liar masih berada di kawasan perkebunan dan pemukiman masyarakat di Kampung Musara Pakat, Bintang Padi, Gedok, Sesongo, Sosial, Pantan Lah Kecamatan Pintu Rime Gayo.

Syamsuardi, Koordinator Mitigasi Konflik Gajah-Harimau WWF Riau mengungkapkan bahwa penggiringan gajah untuk mencegah konflik dengan warga dan perusakan lahan tidak cukup dengan kekuatan dan keberanian.

Baca Selengkapnya