Kota Mati

1012
ilustrasi mati lampu

Oleh Wanda Syafii (Blogger Aceh)

Pekan lalu, saya menghabiskan waktu di kampung halaman, Cot Girek, Aceh Utara, untuk mengantar kepulangan ibunda dari Jakarta. Total saya menghabiskan waktu tujuh hari di Aceh yang terdiri dari empat hari di Cot Girek dan tiga hari di Lhokseumawe.

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran setelah dua tahun tidak pulang, rasa-rasanya cukup banyak hal yang ingin saya abadikan dalam bentuk tulisan, mulai dari hal nyeleneh sampai kritikan sosial. Tapi, semua “calon” tulisan itu saya batalkan seketika, ketika kepulangan saya disambut oleh PLN dengan cara yang menurut warga Aceh sudah biasa, yaitu mati lampu.

Saya memang tidak kaget dengan kebiasaan yang rasa-rasanya sudah mendarah daging ini, karena dari saya kecil pun, Aceh sudah dikenal dengan krisis listriknya yang tak kunjung terang. Tapi masalahnya kali ini adalah listrik mati sampai 10 jam lamanya,  tiap harinya. Singkatnya, seminggu saya di Aceh tanpa melalui satu hari pun tanpa mati lampu.

Aceh memang bukan baru 5-10 tahun di landa pemadaman bergilir seperti ini. dulu, lumrahnya pemadaman dibagi hanya dua atau tiga jam paling lama, tiap kota memiliki zona waktu pemadaman bergilir yang berbeda, dan tentu saja ini berlangsung hampir setiap hari. Namun, rasa-rasanya tidak ada satu manusia pun yang bisa memahami kegelapan yang diderita selama 10 jam dalam satu hari. Jika terjadi gempa, tsunami, atau bencana alam lainnya, mungkin kita bisa memaklumi pemadaman selama itu, tapi, jangankan gempa – apalagi tsunami, angin kencang dan petir saja tidak terjadi di Aceh.

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY