OPINI : Merebut Gudang Ingatan Aceh Lewat Film

443
Festival Film Aceh

Acehraya.co.id – Sungguh kita akan menyaksikan suatu ingatan Aceh itu akan bertemu kembali dengan generasi pewarisnya di suatu waktu, ketika anak muda Aceh secara sungguh-sungguh dapat mengisi sudut-sudut kosong dari pembangunan yang semakin liar ini. Anak muda Aceh, walau di manapun harus memiliki kesadaran revolusioner yang estetis, bahwa tiada guna bermanja-manja atau bersibuk-sibuk menyusun caci maki untuk para penguasa, karena jika memang orang-orang yang punya kemampuan besar lagi dalam posisi strategis tidak dapat berbuat banyak untuk Aceh, mereka adalah manusia asing yang hidup hanya dari kemampuan menjilat dan mengandalkan rasa kasian kita semata. Bukankah lebih menyedihkan jika anak muda Aceh mengemis pada mereka? Lebih baik kita memutar otak sendiri, melepas jangkar kesia-siaan itu dan berpetualang bersama pemuda-pemuda bersemangat lainnya untuk menunjukkan bahwa Aceh masih punya masa depan yang lebih lebih dapat diandalkan, lewat generasi yang pantang duduk di warung kopi sebelum menghasilkan karya apapun untuk bangsanya.

Anak muda Aceh, walau bagaimanapun harus merebut gudang ingatan Aceh, yang sebagian isinya telah tercecer di jalanan berdarah dan menjadi bentuk trauma yang berkepanjangan bagi Aceh. Keping-keping yang tercecer dan yang terdapat dalam gudang ingatan itu, jika tidak segera kita pindahkan ke dalam medium-medium estetik seperti film, lukisan, lagu, hikayat, puisi, dan berbagai bentuk seni lainnya, ia akan menjadi duri dalam sejarah dan besar kemungkinan dapat menusuk jantung Aceh dalam perjalanan menuju masa depan.

Menggempur Ingatan Orang Aceh

Berbicara mengenai itu semua, sejenak kita akan mengingat kembali mengenai begitu lemahnya kita dalam hal dokumentasi, terutama secara objektivitas. Katakanlah di zaman Belanda hingga Jepang, kita begitu mengandalkan kekuatan ingatan dan lisan dalam mendokumentasikan suatu fakta sejarah. Di zaman itu, kita secara bersamaan pun menjadikan lisan sebagai media propaganda dalam melawan penjajah dan sekaligus juga untuk merekam fakta-fakta atau realitas dari sejarah. Bercampurnya ingatan sebagai fakta ataupun ingatan sebagai propaganda ini, secara tidak disadari telah mempengaruhi tingkat autentisitas sebuah medium komunikasi untuk dipercayai oleh masyarakat luas. Terutama karena begitu banyak distorsi atau perubahan pada komunikasi lisan, baik yang dipengaruhi oleh aspek psikologis, ekonomi, politik, ataupun lainnya.

Namun demikian, bukan berarti orang Aceh saat itu kehilangan akal dalam melawan kecanggihan penjajah dalam menggunakan media komunikasi. Berbagai fakta maupun propaganda telah juga ditransfer melalui berbagai medium seni yang sarat kekuatan lisan, seperti hikayat, puisi, pantun, syair dalam tarian, ataupun berbagai seni lainnya yang mungkin tidak kita ketahui saat ini, oleh karena sedikitnya dokumentasi yang bisa kita dapatkan. Sedangkan film-film yang dibuat Belanda ataupun Jepang, baik melalui sutradara pribumi maupun bukan, telah lebih berpengaruh dalam melahirkan sebuah pandangan secara luas, oleh karena media tersebut sangat mudah dipindahkan untuk mentransfer suatu wacana yang ingin disampaikan. Sebuah film tentang aceh yang dibuat masa Hindia Belanda tahun 1940 dengan judul “Rentjong Atjeh” misalnya, ia telah diputar sampai ke British Malaya dan menjadi film drama pertama tentang sejarah besar Melayu. Namun apa hendak dinyana, film tersebut sebenarnya lebih dapat dikatakan sebagai materi dalam mengolok-olok bangsa Aceh di hadapan orang lain, lewat tanda bajak laut, seperangkat kostum bergaya Tarzan, serta berbagai hal lainnya yang boleh jadi berlawanan dengan citra yang harus dibangun tentang Aceh. Itulah sebagian contoh yang bisa dijadikan sebab-sebab mengapa kita selalu tersudutkan jika tidak berhasil menunjukkan kenyataan yang sebenarnya. [acehmediart.com/“Tu-ngang” Iskandar]

[Baca Selengkapnya ]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY