Upaya Komunitas Adat Muara Tae Dalam Mempertahankan Hutan di Kalimantan Timur

494
Tokoh adat, Mimpin, mengatakan menjaga hutan seperti menjaga warisan untuk anak cucu. [bbcindonesia]

Acehraya.co.id – Tiga komunitas adat di Indonesia mendapatkan penghargaan Equator dari Badan PBB Urusan Pembangunan UNPD, yaitu Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo, yang berada di perbatasan Indonesia/Malaysia, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung, Komunitas Adat Muara Tae. Komunitas tersebut meraih penghargaan itu diserahkan di Paris bersamaan dengan KTT Perubahan Iklim, atas upaya mereka menjaga hutan.

Komunitas Adat Muara Tae, di Kecamatan Jempang Kutai Barat Kalimantan Timur memulihkan hutan mereka dan berupaya melindungi hutan mereka yang sedikit demi sedikit dikuasai oleh perkebunan kelapa sawit, tambang dan perusahaan minyak.

Wilayah Suku Dayak Benuaq yang merupakan kelompok adat di Muara Tae hanya sekitar 4.000 hektar, termasuk permukiman dan hutan yang tersisa kurang dari 1.000 hektar.

Tokoh adat Suku Dayak Benuaq Muara Tae, Petrus Asuy menjelaskan pembagian wilayah hutan adat mereka.

“Ini namanya hutan utak melinau, utak artinya kepala sungai, melinau itu sungai yang mengalir dari Muara tae jadi daerah ini merupakan milik Muara Tae, khusus disini tidak boleh menebang pohon dan hanya untuk pembibitan dan dipelihara untuk anak cucu,” jelas Asuy.

“Kami ada hutan lain yang kayunya bisa digunakan untuk rumah, dan juga ada ladang,” tambah dia.

Di hutan Utak Melinau, berbagai tumbuhan yang digunakan untuk upacara adat dan juga obat-obatan dapat dijumpai.

“Ini namanya paku parap ini digunakan untuk upacara adat, dan yang ini batangnya direndam alam air digunakan jika digigit oleh ular untuk menghilangkan bisanya,” kata Asuy sambil menunjuk beberapa pohon obat. [bbcinonesia]

[ Baca Selengkapnya di bbc.com/indonesia ]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY