OPINI : Budaya Politik dan Politik Budaya di Aceh

830
ilustrasi: minum kopi di Aceh tempo dulu

Acehraya.co.id  – silahkan orang Aceh berpolitik, silahkan mereka beragama secara fanatik, tapi jangan biarkan mereka memahami kebudayaannya secara baik” [Snouck Hurgronje]

Tidak banyak saya bisa menyinggung mengenai tema di atas, mengingat untuk memahami kedua istilah dalam konteks Aceh ini, kita harus lebih banyak mencoba maju dan mundur dalam tempurung kepalanya Aceh. Itu terlihat seperti mengukur langkah diri, tentang apa yang telah kita lakukan dan peroleh selama ini.

Bagai satu keping dalam dua sisi mata uang yang seakan berbeda, kedua istilah ini sejujurnya terus menerus ada dalam putaran hidupnya Aceh. Budaya politik di Aceh seperti halnya juga mesin, yang terus bergerak diantara aroma kopi, mesiu, darah, keringat, dan tidak lupa juga asap ganja. Ya, ia ada dalam hembusan nafas Aceh. Sedangkan politik budaya adalah sesuatu yang juga berada di sana, terus menerus berputar walaupun tanpa supir yang jelas sekalipun. Memulai pembahasan ini, begitu banyak pertanyaan yang tidak mudah saya jawab sebagai orang Aceh. namun apalah daya, saya harus tetap menuliskannya, walaupun dengan kepala tong sampah.

Pertanyaan pertama yang mungkin mudah kita ajukan dan jawab adalah tentang apakah kita melakukan ritual politik di Aceh? dan apakah kita begitu kompeten dalam hal tersebut? Tentunya tidak dapat disangsikan lagi bahwa kita memang melakukan ritual tersebut saban hari. Orang-orang Aceh, walau di mana pun berkumpul, selalu berbicara politik. Soal apakah kita kompeten atau terlatih dalam bidang ini, sehingga pantas disebut sebagai orang-orang yang memahami makna dan tujuan dari politik? Tunggu dulu, karena budaya politik bukan hanya reaksi setelah menikmati seperangkat hidangan lezat di atas meja makan ataupun d atas ranjang. Ia membutuhkan lebih dari itu, yang melewati batas-batas kebinatangan, yaitu tentang kedewasaan berfikir dan bersikap selayaknya manusia, melalui suatu citarasa yang timbul dari renungan budaya terhadap nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Politik, jika kita ingin mengatakan bahwa itu adalah produk budaya, ya! Itu memang seakan budaya, karena secara nyata telah menjadi fenomena atau bentuk yang dihasilkan lewat rekayasa manusia. Akan tetapi, ada baiknya kita memahami kembali budaya, yaitu sebagai kumpulan yang komplek dari hal yang dihasilkan melalui pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat dan setiap kemampuan lain atau kebiasaan yang diperoleh oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Budaya adalah apa yang dihasilkan manusia kepada kebaikan dirinya dengan cara yang berbudi. dan di sini jelas, bahwa manusia adalah manusia yang politik, dan bukan hewan politik, seperti diistilahkan oleh Aristoteles. karena hewan tidak semudah itu bisa mengabdi pada kemanusiaan.

Tentu, berbagai hal yang telah menjadi kebiasaan bagi manusia juga belum tentu dapat menjadi solusi yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan baginya, alias punya cara tapi belum tentu bisa berstrategi dengan baik untuk kemudian menjadi solusi yang tepat. Budaya politik harapannya mampu menciptakan iklim politik yang manusiawi, yang dapat menjadi solusi bagi kita bersama. Bukan menjadikan budaya politik sebagai alat untuk tujuan suatu kelompok tertentu saja.

Lihatlah, kita seperti orang yang belum usai berpesta mabuk setelah banyak uang bantuan tsunami mengalir dan setelah damai itu ditandatangani. Padahal jika kita ingin merefleksikan diri secara utuh, betapa banyak yang telah kita korbankan untuk sampai pada apa yang sedang berlangsung semraut ini. Begitu sedih hati kita ketika sampai saat ini, masih pun terasa jelas keberingasan dan rasa pusing kita ketika ingin merumuskan tentang jati diri kita. Kita seperti orang Aceh gila (Atjeh Moorden) seperti yang pernah diklaim Belanda tempo dulu.

Seorang Belanda sejati yang biasa dipanggil orang Aceh dengan sebutan “seuneuet” (Snouck Hurgronje), yang diartikan sebagai “cambuk” paling berbahaya bagi Aceh pernah berkata, yang isinya kira-kira begini; “silahkan orang Aceh berpolitik, silahkan mereka beragama secara fanatik, tapi jangan biarkan mereka memahami kebudayaannya secara baik”. kata tersebut ingin mengatakan bahwa dalam aktivitas politik di Aceh, masyarakat Aceh harus dipisahkan dari nilai-nilai yang menjadi dasarnya.  [acehmediart/“Tu-ngang” Iskandar]

Baca Selengkapnya di sini ]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY