Selamatkan Spesies Penyu, WWF Gelar Pelatihan Untuk Tim Konservasi di Panga

871
WWF Indonesia, LSM A.P.A dan Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja gelar pelatihan peningkatan kapasitas untuk tim konservasi penyu, Kamis (17/12/2015) di Aula SMA Negeri 1 Panga, Keude Panga, Aceh Jaya. (AF/ WWF Indonesia)

Acehraya.co.id – Puluhan masyarakat yang terdiri WWF Indonesia, LSM A.P.A Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, BKSDA (Resort Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya), Mahasiswa Universitas Teuku Umar Meulaboh serta sejumlah masyarakat Panga, mengikuti “Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja Dalam Hal Metode Pendataan, Pemantauan, Penangkaran dan Pelepasan Penyu” Kamis (17/12/2015) di Aula SMA Negeri  1 Panga, Keude Panga, Aceh Jaya.

Acara yang berlangsung sekitar pukul 11.00 wib ini, diprakasai oleh WWF Indonesia, LSM A.P.A dan Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, sangat disambut antusias oleh masyarakat yang ingin mengikuti pelatihan tentang penyu yang berada di kawasan Panga, Aceh Jaya.

Marine Species Conservation Coordinator WWF Indonesia, Dwi Suprapti menjelaskan, penyusutan jumlah spesies penyu yang sekarang terjadi menjadi fenomena menyedihkan dan harus dicegah agar tidak berkurang lagi.

“Tugas itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Terutama, karena Indonesia menjadi rumah bagi 6 penyu dari total 7 spesies yang tersisa di dunia ini. Ini pekerjaan rumah yang berat,” ungkap Dwi Suprapti di sela-sela pelatihan yang berlangsung di Keude Panga, Aceh Jaya, Kamis (17/12/2015).

Dia mengungkapkan, 6 (enam) spesies penyu yang ada di Indonesia adalah penyu hijau (chelonia mydas), penyu sisik (eretmochelys imbricata), penyu lekang (lepidochelys olivacea), penyu belimbing (dermochelys coriacea), penyu tempayan (caretta caretta), dan penyu pipih (natator depressus).

drh. Dwi Suprapti, M.Si, Coordinator Marine Species Conservation WWF-Indonesia, saat menjadi pemateri di pelatihan peningkatan kapasitas untuk tim konservasi penyu, Kamis (17/12/2015) di Aula SMA Negeri 1 Panga, Keude Panga, Aceh Jaya. (AF/ WWF Indonesia)
drh. Dwi Suprapti, M.Si, Coordinator Marine Species Conservation WWF-Indonesia, saat menjadi pemateri di pelatihan peningkatan kapasitas untuk tim konservasi penyu, Kamis (17/12/2015) di Aula SMA Negeri 1 Panga, Keude Panga, Aceh Jaya. (AF/ WWF Indonesia)

Dari 6 spesies tersebut, Dwi menyebutkan, saat ini 3 spesies statusnya sangat memprihatinkan. Terutama, spesies penyu sisik dan penyu hijau. Kedua penyu tersebut saat ini sudah bersatus hampir punah. Sementara, penyu belimbing kondisinya tak jauh berbeda, namun sudah lebih baik dari kedua saudaranya tersebut.

Penyebab utama terus menyusutnya populasi penyu di dunia, dan khususnya di Indonesia, adalah karena terjadinya alih fungsi lahan di pesisir pantai dan juga perubahan gaya hidup di masyarakat yang mendorong berlangsungnya perburuan terhadap penyu-penyu yang statusnya adalah satwa langka.

“Ini memang memprihatinkan. Kita harus bisa menyelamatkan penyu dari ancaman kepunahan. Mereka juga makhluk hidup yang harus diberi kesempatan untuk hidup,” ujar Dwi kepada Acehinsight.com.

Secara spesifik, Dwi mengatakan, WWF Indonesia sudah berupaya melakukan penyelamatan terhadap penyu. Dan dia sendiri mengaku sudah terlibat aktif dalam penyelamatan penyu belimbing yang habitatnya masih terbatas di Pantai Jamursba Medi di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat dan di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera, termasuk Aceh.

“Penyu belimbing itu populasinya sekarang sudah di bawah 2000-an ekor. Itu berbeda dengan beberapa dekade lalu yang massih diatas 8.000 an ekor. Kami berupaya untuk menjaga populasi yang ada sekarang,” papar dia.

Semakin langkanya penyu belimbing yang merupakan spesies penyu terbesar saat ini, menurut Dwi, diakibatkan karena masih terjadinya perburuan telur penyu oleh masyarakat sekitar pesisir pantai dan atau terjadinya ketidaksengajaan tertangkap oleh alat tangkap kapal.

“Penyu belimbing itu kan tidak memiliki karapas dan dia bernafas dengan paru-paru. Jadi setiap lima jam harus naik ke permukaan untuk bernafas. Namun, jika dia terperangkap dalam alat tangkap seperti jaring, maka dia terancam tidak bisa bernafas lagi karena terjebak di dalam air,” tutup Dwi kepada Acehinsight.com. []

Laporan : Aulia Ferizal

Editor : Dewi Nopita Sari (Marine Fisheries Policy WWF-Indonesia Program Northern Sumatera)