Mencermati Kondisi Mangrove 11 Tahun Pasca Tsunami Aceh

659
Mangrove hasil rehabilitasi yang tumbuh baik di Kuala Rigaih, pantai barat Aceh. Foto: Onrizal

Acehraya.co.id – Peringatan 11 tahun terjadinya tsunami Aceh baru saja kita peringati. Waktu tampak begitu cepat, tidak terasa sudah sebelas tahun berlalu sejak gempa bawah laut yang memicu tsunami besar 26 Desember 2004 itu terjadi.

Sedikit kilas balik bencana tsunami yang terjadi. Saking dahsyatnya tsunami tidak saja melanda pesisir utara Sumatera, namun juga wilayah pesisir di 13 negara lainnya di Samudera Indonesia/India sampai pantai timur Afrika. Meski demikian, ingatan kita tak akan lupa akan besarnya dampak yang diakibat oleh bencana alam itu.

Sejarah mencatat, sebagaimana dilaporkan oleh Athukorala dan Resosudarmo tahun 2006, bahwa kombinasi gempa dan tsunami di akhir tahun 2004 itu menyebabkan korban manusia dan kerugian terbesar dalam sejarah kehidupan manusia di bumi sampai saat ini, dengan korban jiwa terbanyak terjadi di Aceh.

Selain berita kesedihan, tsunami itu juga memberi pelajaran penting bagi kita. Salah satu pelajaran pentingnya adalah hutan mangrove yang sehat mampu menjadi benteng, peredam tsunami, sehingga mampu mengurangi dampak kerusakan tsunami.

Fakta-fakta di lapangan seperti banyak dilaporkan oleh banyak peneliti sesaat setelah tsunami melanda bahwa perkampungan yang berada di belakang hutan mangrove yang lebat selamat dari terjangan tsunami. Sebaliknya, kerusakan berat serta korban nyawa banyak terjadi pada perkampungan yang berhadapan langsung dengan laut atau hutan mangrovenya telah rusak atau hilang sebelum tsunami melanda.

Pada kasus hutan mangrove yang rusak malah dapat meningkatkan daya rusak tsunami karena (1) tsunami tersebut membawa pepohonan mangrove yang tumbang karena tegakannya sudah tidak kompak sebelum tsunami tiba dan atau (2) fragmentasi hutan mangrove menyebabkan aliran tsunami teralirkan kepada celah-celah mengikuti fragmentasi hutan sehingga arusnya semakin kuat.

Salah satu kondisi tanaman rehabilitasi mangrove pada 2 tahun pertama pasca tsunami seperti dijumpai di Syiah Kuala, Banda Aceh. Tingkat tumbuhnya di lokasi ini saat itu kurang dari 10%. Foto: Onrizal
Salah satu kondisi tanaman rehabilitasi mangrove pada 2 tahun pertama pasca tsunami seperti dijumpai di Syiah Kuala, Banda Aceh. Tingkat tumbuhnya di lokasi ini saat itu kurang dari 10%. Foto: Onrizal

Kondisi Mangrove Aceh Sebelum Tsunami 

Sebelum tsunami melanda, sebagian besar lahan pasang surut pantai Aceh sudah tak ditumbuhi mangrove. Chen dkk (2005) melaporkan bahwa pada tahun 2004, mangrove di Aceh Besar dan Banda Aceh hanya sekitar 0,5% saja dari areal pesisir, dan hutan pantai jauh lebih kecil lagi, hanya sekitar 0,2% saja. Sebagian besar hutan mangrove telah dikonversi menjadi tambak. Hutan mangrove dan hutan pantai yang tersisa itupun dalam kondisi terfragmentasi.

Hal yang sama juga dilaporkan oleh BAPPENAS dan The International Donor Community (2005) untuk seluruh kawasan pesisir Aceh diinformasikan pada tahun 2000, hutan mangrove yang bagus hanya 30.000 ha (8,8%) yang sebagian besar terdapat di Pulau Simeulue, 286.000 ha (83,9%) ) dalam kondisi rusak sedang dan 25.000 ha (7,3%) rusak berat.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sebagian besar kawasan pesisir Aceh tanpa pelindung alami ketika tsunami di akhir tahun 2004 melanda.

Baca Selengkapnya di mongabay.com/Onrizal

[mongabay.co.id]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY