Babak Baru Kebangkitan Udang Windu Di Provinsi Aceh

761
Udang Windu yang berasal dari Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Aceh (WWF-ID)

Maraknya udang vannamei yang berasal dari Amerika Latin membuat posisi udang windu tergeser. Hal tersebut juga membuat induk udang windu (Panaeus monodon) atau Black Tiger Prawn belum dianggap sebagai plasma nutfah perikanan. Plasma nutfah adalah organisme asli yang dapat menghasilkan jenis unggul baru. Apakah induk udang windu Indonesia layak disebut plasma nutfah?.

Kebanyakan tulisan yang memuat penelitian induk udang windu tidak menyebut sumber penelitian yang menyatakan induk udang windu, khususnya dari Aceh, adalah induk udang windu terbaik di dunia. Kurangnya penelitian mengenai induk udang windu Indonesia, menjadi salah satu penyebab pengelolaannya tidak diperhatikan oleh pemerintah. Ataukah mungkin banyak penelitian yang tidak dipublikasikan kepada masyarakat.

Meskipun dalam tulisan tentang “Towards Sustainable Shrimp Culture in Thailand and the Region” yang memaparkan induk udang windu terbaik di Indonesia adalah dari Aceh. Thailand yang pernah memproduski udang windu hasil budidaya terbesar di dunia sampai tahun 2003, mengakui keunggulan induk udang windu di Indonesia. Staf Balai Budidaya Air Payau Ujung Batee Aceh mengungkapkan keberhasilan budidaya udang windu di Thailand dan Vietnam karena mereka membenihkan induk udang windu dari Aceh.

Sejak tahun 1990-an, produksi udang windu hasil budidaya mengalami fluktuasi. Salah satu penyebabnya karena kehadiran vannamei yang ternyata menimbulkan banyak masalah seperti merebaknya penyakit udang akibat intensifikasi budidaya udang vannamei ini. Akhirnya beberapa pihak mulai kembali fokus mengembangkan udang windu asli Indonesia dan memikirkan sistem pengelolaan yang baik. Pengelolaan dan pengembangan udang windu serta budidayanya, harus dilakukan secara menyeluruh. Salah satunya adalah pengelolaan induk udang windu agar menghasilkan benih unggul.

Induk udang windu yang dapat menghasilkan benih unggul merupakan salah satu alasan kuat menjadikan induk udang windu sebagai salah satu plasma nutfah perikanan Indonesia. Plasma nutfah menurut Undang-Undang Perikanan Tahun 2009 akan menjamin pelesatarian dan pemanfaatannya. Ekositem induk udang windu dapat dilindungi dan akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pihak-pihak lain yang membutuhkan. Bukan hanya Indonesia yang akan diuntungkan, tetapi seluruh dunia akan tetap memiliki induk udang windu terbaik sebagai salah satu kunci kesuksesan budidaya.

Kebangkitan Udang Windu Aceh

Usaha budidaya udang windu di Provinsi Aceh bukan hal baru, melainkan kegiatan yang sudah sejak dulu dilakukan masyarakat pesisir. Bahkan pada era 1980-an komoditas udang windu menjadi primadona petambak.

Redupnya budidaya udang windu dalam beberapa tahun lalu dikarenakan berbagai kendala, salah satunya mewabahnya penyakit yang disebabkan virus, sehingga mengakibatkan kerugian besar bagi para pembudidaya udang. Mewabahnya penyakit, disertai kondisi keamanan Aceh yang kurang kondusif, mengakibatkan banyak tambak khususnya dikawasan pesisir Aceh terlantar.

Keberadaan hutan bakau pada lingkungan pantai merupakan suatu kesatuan ekosistem yang utuh. Hutan bakau merupakan areal tempat kehidupan benih bermacam–macam jenis udang, kepiting, ikan, kerang– kerangan dan sebagainya.

Hutan bakau sudah lama dikenal sebagai kontributor terhadap rantai makanan di perairan pantai, yaitu melalui proses pembusukan daun-daun bakau yang jatuh ke air. Hubungan erat ini dicerminkan dalam korelasi positif antara luas hutan bakau dan produksi udang yang menunjukkan keterkaitan antara keduanya. Artinya, bila hutan bakau hilang atau berkurang, maka produksi udang tangkapan alam pun berkurang.

Babak baru kebangkitan udang windu dimulai. Budidaya udang windu (Penaeus monodon) atau yang dikenal juga dengan tiger prawn, memasuki era baru dengan dihasilkannya benih tahan penyakit yang mulai diproduksi massal.

Produksi udang windu adalah momentum kebangkitan bagi usaha tambak rakyat. Sebanyak 70 persen dari areal tambak udang di Indonesia merupakan tambak tradisional. Tambak ini umumnya belum tertata dan terbatas aliran listrik serta saluran air. WWF-Indonesia melalui Better Management Pratice (BMP) Budidaya Udang Windu hadir untuk membina para petambak yang berada di Provinsi Aceh, seperti yang terjadi di Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

WWFIndonesia sebagai salah satu lembaga konservasi di Indonesia telah melakukan berbagai upaya dengan menggandeng berbagai instasi terkait, lembaga swadaya masyarakat (LSM) lokal di Aceh untuk mendukung kelompok nelayan dan pembudidaya serta kelompok swadaya masyarakat yang berkomitmen positif untuk mentransformasi kelompok dampingan mereka menjadi berkelanjutan dan bertanggungjawab.

Beberapa Kabupaten di Aceh merupakan penghasil induk udang windu terbaik di Asia Tenggara. Dan sudah seharusnya budidaya udang windu dikembangkan agar perekonomian masyarakat pesisir menjadi meningkat.

Kelompok JUN (Jak U Neuhuen

Kelompok JUN (Jak U Neuhuen) merupakan salah satu kelompok budi daya udang yang dikenal baik oleh masyarakat Kecamatan Blang Mangat serta Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kota Lhokseumawe – Aceh.

Sebagai salah satu kelompok dampingan WWF-Indonesia untuk penerapan Program Perbaikan Perikanan Budidaya /Aquaculture Improvement Program (AIP) untuk komoditas udang windu budi daya sistem tradisional, kelompok ini diketuai oleh Bapak Junaidi dari Desa Tunon, salah satu Desa yang tergabung dalam Cluster Blang Mangat. Kelompok yang beranggotakan 26 orang ini ternyata sudah konsen melakukan budi daya udang windu atau dalam bahasa Aceh dikenal dengan nama udeung watt sejak Tahun 2011 berdasarkan Akta Notaris No. 68 dan sudah diperbaharui menjadi Akta Notaris No. 44 Tahun 2015.

Pada tanggal 21 Januari kemarin bertempat di Hotel Rajawali Lhoseumawe telah diadakan kegiatan peningkatan kapasitas mengenai tata kelola kelembagaan yang handal dan mandiri. Tujuan dilakukannya pelatihan ini ialah sebagai sarana diskusi bagi para anggota kelompok untuk memperkuat kelembagaan kelompok JUN.

Adapun materi dari pelatihan yang diberikan tersebut berguna untuk menunjang visi kelompok dalam menghasilkan produk yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Seperti, tata cara memperbaiki sistem administrasi dan sistem pengelolaan keuangan kelompok. Hal ini didasari oleh hasil analisa kesenjangan yang kemudian disusun menjadi work plan Aquaculture Improvement Program (AIP). Lalu, berdasarkan hasil tersebut ada beberapa hal yang perlu diperbaiki bersama, salah satunya ialah aspek kelembagaan kelompok.

Dede Suhendra (Project Leader WWF-Indonesia Northern Sumatera Program) pun menyampaikan bahwa kunci utama untuk membentuk kelompok yang handal dan profesional bisa dimulai dengan memperbaiki dua sistem tersebut. Karena dari segi aspek teknis budi daya udang windu, kemampuan kelompok JUN tidak perlu kita ragukan lagi berkat adanya panduan BMP’s.

Bendahara kelompok JUN, Ramli juga mengemukakan pendapatnya, bahwa selama ini Iuran Pokok dan Iuran Wajib diberlakukan kepada seluruh anggota atas inisiatif dari hasil musyawarah bersama. Sayangnya, belum semua anggota sudah patuh pada peraturan kelompok yang telah disesuaikan dengan AD/ART. Selain itu, Ramli juga menambahkan masih adanya kendala yang dirasakan dalam pengelolaan kelompok, seperti saat gagal panen yang dialami anggota kelompok ternyata berakibat pada penyetoran iuran wajib dan iuran pokok. Namun, jika memang anggota tersebut tidak aktif pada kegiatan kelompok, maka Ramli menegaskan untuk memberi sanksi dengan mengeluarkannya dari kelompok sesuai aturan yang telah disepakati.

Harapan Kelompok JUN untuk Semakin Baik

Abdul Rauf Wakil Ketua kelompok JUN mengutarakan harapan dari pelatihan ini agar di masa mendatang kelompok JUN dapat melakukan revolusi ke arah yang semakin baik dan WWF-Indonesia dapat terus membantu untuk monitoring kegiatan ini.

“Semoga pengetahuan yang didapat dari pelatihan ini bisa diterapkan dan digunakan untuk mengatur kelompok agar lebih profesional lagi”, ucap Hamdani.

Azhar dan Junaidi juga menyampaikan hal yang senada bahwa Kelompok JUN harus siap dan mandiri melakukan penguatan kelompok, karena WWF-Indonesia tidak selamanya akan mendampingi  kelompok ini. Jika dalam hal kemandirian saja tidak bisa dilakukan oleh anggota kelompok sendiri, maka siapa lagi yang akan melakukannya? Tentunya semua ini dilakukan agar manajemen kelembagaan secara umum dapat lebih kuat dan kelompok JUN mampu menjadi salah satu contoh kelompok budi daya udang windu yang lebih profesional, baik dari aspek teknis maupun aspek kelembagaannya.

Sumber : Acehinsight.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY