Kasat Reskrim : Kasus Wildlife Crime Paling Banyak Terjadi Di Aceh Tenggara

416
Sosialisasi “Pencegahan dan Penegakan Hukum Kejahatan Satwa yang Dilindungi Di Provinsi Aceh”, Kamis (25/02/2016) di Hotel Sartika, Kutacane, Aceh Tenggara. (Aulia Ferizal/ WWF-ID)

Acehraya.co.id – Puluhan personil polisi dari jajaran Polres Aceh Tenggara mengikuti Sosialisasi “Pencegahan dan Penegakan Hukum Kejahatan Satwa yang Dilindungi Di Provinsi Aceh”, Kamis (25/02/2016) di Hotel Sartika, Kutacane, Aceh Tenggara.

Sosialisasi yang dimulai sekitar pukul 09.00 wib, menghadirkan pemateri dari WWF Indonesia, Polda Aceh, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Balai Taman Nasional Gunung Leuser serta Dirjen Penegakkan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Project Leader WWF Indonesia Northern Sumatra Program, Dede Suhendra mengatakan bahwa sosialisasi ini merupakan lanjutan kegiatan yang sudah dilakukan dibeberapa polres di Provinsi Aceh.

“Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari adanya kesepahaman antara WWF Indonesia bersama Polda Aceh, terkait penegakan hukum terhadap satwa yang dilindungi,” ujar Dede.

Pantau Acehinsight.com, selain personil polisi dari jajaran Polres Aceh Tenggara, beberapa pegawai dari BKSDA Aceh Tenggara juga turut hadir dalam sosialisasi yang diinisiasi oleh WWF Indonesia Northern Sumatra Program.

Menurut Dede Suhendra, Provinsi Aceh merupakan satu-satunya provinsi di Sumatera yang memiliki Keanekaragaman hayati yang cukup tinggi.

“Dibanding provinsi lain di pulau Sumatera, hanya Provinsi Aceh yang memiliki 4 spesies kunci dalam satu wilayah. Dimana 4 spesies itu adalah Harimau, Gajah, Orang Utan dan Badak Sumatera,” lanjutnya.

Meskipun begitu, dirinya mengakui bahwa disisi lain masih terdapat berbagai tekanan yang cukup tinggi terkait kejahatan satwa yang dilindungi. “Isu perdagangan dan perburuan satwa yang dilindungi menjadi prioritas kami (WWF Indonesia) kedepannya”.

“Dengan kerjasama berbagai pihak seperti Polda Aceh, Pemerintah Aceh, BKSDA Aceh serta beberapa stake holder lainnya, kita berharap upaya penegakan hukum terhadap perlindungan satwa yang dilindungi, bisa lebih efektif dilaksanakan,” Kata Dede Suhendra kepada Acehinsight.com.

Kasat Reskrim Polres Aceh Tenggara, AKP Andi Cakra Putra mengatakan, Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang sebagian berada di kawasan Aceh Tenggara (Agara) dan Gayo Lues (Galus), sangat rentan dengan tindak kejahatan Satwa yang dilindungi.

“Untuk penanganan kasus kejahatan satwa yang dilindungi, disinilah yang paling banyak. Dikarenakan kabupaten Aceh Tenggara berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, pasti masih banyak satwa-satwa liar yang harus kita lindungi di kawasan tersebut,” ujar AKP Andi Cakra.

Menurutnya, dengan maraknya aksi perburuan di kawasan TNGL, maka akan dapat menyebabkan kepunahan satwa liar yang dilindungi negara. Kawasan Ekosistem Leuser, tempat seluruh aktivitas perburuan atau penebangan liar dilarang, termasuk eksplorasi kekayaan hasil bumi yang berlimpah di bawahnya.

“Untuk kasus wildlife crime yang pernah ditangani oleh Sat Reskrim Aceh Tenggara adalah masalah kulit Harimau Sumatra. Dimana kala itu, Penangkapan pelaku dilakukan Polres Aceh Tenggara dan Polisi Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dengan dukungan dari Wildlife Crime Unit (WCU),” lanjut AKP Andi Cakra.

Dirinya berharap dengan adanya sosialisasi ini, Pihaknya dapat meningkatkan pengawasan sekaligus mencegah aksi perburuan liar.

“Bekerjasama dengan Polhut TNGL dan masyarakat, Polres Aceh Tenggara akan terus mengejar para pemburu dan pelaku wildlife crime yang masih beroperasi. Terutama di daerah-daerah rawan aktivitas perburuan dan peredaran tumbuhan serta satwa liar illegal di kawasan TNGL dan sekitarnya,” tutup AKP Andi Cakra Putra.

Seperti diketahui, Harimau sumatera adalah subspesies harimau berstatus kritis punah dan hanya dapat ditemukan di Pulau Sumatra. Larangan perburuan dan perdagangan harimau diatur dalam pasal 40 ayat 2 berkaitan dengan pasal 21 ayat 2 pada UU 5/ 1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. [AF]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY