Ketika Masyarakat Muslim Di Tanah Hitler

421
Kaum Muslim Jerman menantikan saat berbuka puasa di sebuah masjid jami’ di Jerman.

Acehraya.co.id – Menjadi agama minoritas, Islam di Jerman, tetap bertahan hingga kini, bahkan populasi Muslim di negara bekas pusat Nazi itu diprediksikan terus meningkat. Menurut sensus nasional pada 2011, sebanyak satu persen dari penduduk Jerman atau sekitar 1,5 juta orang beragama Islam.

Namun, data ini diragukan lantaran tak semua Muslim berpartisipasi. Sebuah survei pernah menyebutkan pada 2009, terdapat 4,3 juta Muslim di Jerman atau 5,4 persen dari total populasi. Dari jumlah tersebut, 1,9 juta adalah warga asli Jerman. Pada 2006, sekitar 15 ribu mualaf dari keturunan Jerman. Menurut kantor statistik Jerman 9,1 persen dari semua bayi yang baru lahir di Jerman memiliki orang tua Muslim pada 2005.

Frank Gesemann dalam tulisannya yang berjudul “Die Integration junger Muslime in Deutschland. Interkultureller Dialog-Islam und Gesellschaft” menjelaskan, sebagian besar Muslim di Jerman berasal dari Turki (63,2 persen), diikuti oleh kelompok- kelompok yang lebih kecil, seperti dari Pakistan, negara-negara bekas Yugoslavia, negara-negara Arab, Iran, dan Afghanistan.

Sebagian besar Muslim tinggal di Berlin dan kota-kota besar Jerman Barat. Namun, tidak seperti di negara-negara Eropa lainnya, komunitas Muslim yang cukup besar ada di beberapa daerah pedesaan Jerman, terutama Baden-Wurttemberg, Hesse, dan bagian dari Bavaria dan North Rhine- Westphalia Utara. Karena kurangnya imigrasi tenaga kerja sebelum 1989, hanya ada sedikit Muslim di bekas Jerman Timur.

Jumlah Muslim yang besar dan kian meningkat itu memicu berbagai konsekuensi, salah satunya, kebutuhan kajian dan studi yang lebih komprehensif tentang Islam.  Belakangan, para pemangku kebijakan dan pihak terkait memiliki program perluasan studi Islam di berbagai perguruan tinggi Jerman yang dimulai sejak 2010.

Kapan Islam Masuk Ke Jerman?

Islam datang ke Jerman melalui jalur diplomatik, militer, dan ekonomi antara Jerman dan Kekaisaran Ottoman pada abad ke-18. Jochen Blaschke dalam tulisannya yang berjudul “State Policies Towards Muslim Minorities. Sweden, Great Britain and Germany Muslims in German History until 1945” menjelaskan terdapat 20 tentara Muslim yang bertugas di bawah Frederick William I dari Prusia pada awal abad ke-18.

Pada 1745, Frederick II dari Prussia mendirikan unit Muslim di tentara Prusia yang disebut Riders Muslim. Riders Muslim terdiri atas Bosnia, Albania, dan Tatar. Pada 1760, korps Bosnia didirikan dengan jumlah anggota sekitar 1.000 orang.

Frederick dalam jurnalnya yang berjudul Islam and Muslims in Germany menyebutkan, pada 1798, kompleks pemakaman pertama Muslim didirikan di Berlin. Pemakaman ini masih ada hingga sekarang.  Sebagai bagian dari Kongres Dunia Islam dan Islam Kolokium, Jerman juga mendirikan lembaga pendidikan Muslim pertama untuk anak-anak pada 1932.

Pemerintah Jerman Kembangkan Studi Islam

Komunitas Muslim lainnya menyebutkan ke putusan pemerintah federal untuk terus mempromosikan pusat studi Islam merupakan keputusan yang tepat. “Saya berharap bahwa teologi mendapat cukup ruang dan waktu untuk mendapatkan pijakan di negara itu dan memberikan peluang pengembangan teologi Islam,” kata Ketua DITIB Hessen Salih Ozkan.

Sejarah Islam Selain fokus pada bidang sosial, sebuah aksen yang kuat juga menempatkan penelitian dan pengajaran di Frankfurt tentang sejarah Islam. Seperti, penafsiran Alquran dan lokalisasi Islam pada masa sekarang.

Pengajaran tentang sejarah Islam akan mulai diintensifkan pada tahun-tahun mendatang. “Muslim bisa beradaptasi dengan konteks sekarang dan perlu dikembangkan di Jerman,” ujar Direktur Pusat Studi Islam Bekim Agai.
Komite Pusat Muslim di Jerman (ZMD) menyatakan kepuasan mereka dengan ke- ma juan yang ada saat ini di Jerman. Khu- sus nya, dalam bidang pengembangan pendidikan Islam. Ini ditunjang dengan kebijakan yang paralel tentang sistem beasiswa di Jerman.

Siswa Muslim berbakat dapat mengakses beasiswa negara yang menyediakan du- kung an keuangan serta berbagai peluang akademik dengan fokus umat Islam. Dengan demikian, program beasiswa ini sejajar dengan dukungan yang diberikan negara kepada Katolik, Protestan, dan lembaga beasiswa Yahudi. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY