Dwi : Saya Lebih Sering Dipanggil Dwi “Penyu”

470
Dwi Suprapti saat memantau penyu di Pantai Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. (Dok. Pribadi)

Dwi “Penyu”, Perempuan Pejuang Konservasi dari Kalbar

Acehraya.co.id – Dwi Penyu. Sepintas, sosoknya tak jauh beda dengan perempuan Indonesia lainnya. Tapi siapa sangka, perempuan asal Kota Singkawang, Kalimantan Barat ini sangat aktif dalam kegiatan konservasi perlindungan hewan khususnya spesies laut dilindungi di Indonesia.

Lahir di Kota Singkawang, 32 tahun silam, perempuan bernama lengkap Dwi Suprapti ini merupakan alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Bali.

Sejak kuliah, tepatnya 12 tahun lalu, Dwi ‘Penyu’ sapaan akrabnya, sudah jatuh cinta dengan penyu, spesies laut bercangkang keras. Maka tak heran, perempuan yang tergolong unik sering kali dipanggil dengan sebutan Dwi Penyu.

Saking jatuh cintanya dengan penyu, Dwi selalu mengait-ngaitkan persoalan apapun dengan satwa purba laut itu.

Bahkan, dalam skripsi dan thesisnya, perempuan yang kini menjabat sebagai Marine Species Conservation Coordinator WWF-Indonesia ini mengangkat tentang Penyu khususnya di bidang Seks Rasio.

“secara alamiah pembentukan jenis kelamin penyu sangat dipengaruhi oleh temperatur. Apabila temperatur inkubasi/suhu sarangnya tinggi maka akan bias ke arah betina, begitu pula sebaliknya,” kata Dwi, Senin (7/3/2016).

Dwi menceritakan, jenis kelamin penyu yang belum dewasa tidak dapat diidentifikasi secara eksternal seperti kebanyakan satwa lainnya. Penyu-penyu muda hanya dapat diidentifikasi jenis kelaminnya melalui darah, pembedahan, pengamatan jaringan, serta teknologi medis lainnya.

Sebagai ahli penyu, Dwi mengawali karirnya bersama WWF Indonesia dengan jabatan ‘Turtle Officer’. Berbagai kegiatan dia lakukan dalam menjalankan tugasnya di WWF terkait upaya konservasi penyu, dimulai dari penelitian penyu, sosialisasi, kampanye hingga investigasi ancaman terhadap penyu baik akibat perburuan maupun perdagangan.

Tak Jarang Dwi juga terlibat didalam advokasi penegakan hukum. Atas peranannya tersebut tak jarang Dwi mendapatkan teror, ancaman bahkan dimusuhi oleh pihak-pihak yang terlibat di dalam lingkaran perdagangan derivat penyu yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi tersebut.

Peranannya yang cukup aktif dibidang konservasi Penyu bahkan ia bawa hingga ke tingkat internasional. Dwi cukup aktif menyuarakan tentang hasil-hasil penelitiannya terhadap penyu misalnya pada pertemuan-pertemuan Internasional seperti Sulu Sulawesi Marine Ecoregion (SSME) Workshop, World Ocean Conference (WOC) bahkan International Sea Turtle Symposium (ISTS) yang telah membawanya hingga ke Baltimore, USA.

Melihat prestasi kinerjanya dan langkanya profesi Dokter Hewan yang aktif di bidang Konservasi satwa akuatik, Dwi kini dipercaya oleh WWF Indonesia sebagai Koordinator Nasional untuk Konservasi Spesies Laut khususnya Megafauna Aquatik.

Tak hanya penyu, Dwi kini harus terjun ke lapangan untuk menangani dugong, pesut, lumba-lumba, paus, hingga Hiu Paus.

Mulai dari survei hingga penanganan terdampar dalam kondisi hidup maupun pasca kematian. Bahkan tak jarang kehadiran Dwi diperlukan sebagai tenaga forensik veteriner untuk menginvestigasi penyebab kematian satwa melalui upaya bedah bangkai (nekropsi), diantaranya pengalaman yang paling terkesan olehnya adalah nekropsi Hiu Paus yang mati di kanal PLTU Paiton.

Meskipun Dwi bertubuh kecil, namun ia tak ragu sedikitpun dalam melakukan pembedahan terhadap Hiu Paus yang berukuran lebih dari 6 meter itu. Tak hanya membutuhkan peralatan bedah yang berukuran besar tapi juga memerlukan peralatan berat dalam proses nekropsinya diantaranya menggunakan mesin sinso, mobil penyemprot air bahkan menggunakan crane untuk mengangkat badan Hiu Paus.

Berkat pengalamannya, kini Dwi dipercaya oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai Trainer Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Indonesia. Sebagai negara maritim, potensi terdamparnya mamalia laut di Indonesia sangat tinggi.

Ia telah memberikan pelatihan teknis kepada lebih dari 500 orang mulai dari Sumatera hingga Papua. Pelatihan tersebut sebagai upaya untuk membentuk First Responder yang siap menjadi ujung tombak penanganan mamalia laut terdampar di berbagai lokasi di Indonesia secara cepat dan tepat.

Selain itu, Dwi turut berpartisipasi aktif bersama KKP dalam penyusunan Dokumen Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Spesies Laut periode 2016-2020 serta penerbitan buku-buku panduan teknis monitoring maupun penanganan satwa laut.

Dwi berharap peran aktifnya di bidang Megafauna Akuatik ini dapat bermanfaat baik bagi Indonesia maupun lingkungan secara umum.

Spesies laut yang ia tangani merupakan flagship species yang bermigrasi lintas negara bahkan lintas samudera. Sehingga konservasi yang dilakukan di Indonesia akan membawa pengaruh pula terhadap negara lainnya. [kompas.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY