Peringati Earth Hour 2016, Ratusan Pelajar Ikut Pelatihan Kelola Sampah

294
Para siswa diajari cara mengelola sampah agar tetap ramah lingkungan pada Workshop yang digelar oleh di Escape Building, gampong Lambung, Banda Aceh. (Chik Rini/ WWF-ID Northern Sumatera Program)

Acehraya.co.id – Ratusan pelajar SMP dan SMA di Banda Aceh dilatih cara mengelola sampah ramah lingkungan. Workshop ini dilakukan memperingati gerakan internasional earth hour pada hari ini, Sabtu, 19 Maret 2016.

Koordinator Kota Earth Hour Aceh, Dedy Saputra Djalil, mengatakan kegiatan pengelolaan sampah ini merupakan salah satu aksi hidup ramah lingkungan. Untuk itu para pelajar diberikan pemahaman bagaimana cara mengurangi produksi sampah dan mengelola sampah tanpa merusak lingkungan.

“Kita mengajak siswa untuk mengerti bagaimana peran mereka dalam mengurangi sampah,” ujar Dedy kepada awak media.

Selain pelatihan, para siswa juga diajak melihat langsung bank sampah yang ada di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Di tempat ini, kata Dedy, para siswa diperlihatkan bagaimana masyarakat desa mengelola dan membuat kompos dari sampah-sampah yang ada.

Pelatihan pengelolaan sampah ini, merupakan komitmen Earth Hour Aceh bersama Pemerintah Kota Banda Aceh setelah peluncuran aksi Banda Aceh Bebas Sampah 2020. Selain itu, dia mengatakan pihaknya juga ikut mengampanyekan program plastik berbayar kepada para pelajar. “Agar mereka memahami dan bisa mengurangi pemakaian kantong plastik,” kata dia.

Gerakan earth hour ditandai dengan aksi serentak masyarakat dunia untuk ikut mengurangi pemakaian energi listrik akibat pemanasan global. Aksi ini ditandai dengan mematikan lampu dan peralatan listrik tidak terpakai selama satu jam secara sukarela.

Dedi mengatakan kegiatan yang dilakukan hari ini merupakan salah satu kampanye ramah lingkungan usai pemadaman secara simbolis selama satu jam tersebut.

Selama ini, event Earth Hour dilaksanakan untuk mengingatkan masyarakat bahwa terjadinya perubahan iklim juga berasal dari penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar fosil. Kegiatan global ini diperlukan untuk memberikan kesadaran agar masyarakat menerapkan gaya hidup yang hemat energi.

“Kampanye Earth Hour diharapkan akan semakin banyak individu, rumah tangga dan bisnis maupun Pemerintah kota untuk ikut mematikan lampu atau alat elektronik yang tidak terpakai. Ini sebagai simbol kontribusi mereka terhadap perubahan iklim,” jelas Dedi.

“Langkah kecil dengan cara mematikan lampu dan peralatan listrik selama 1 jam mempunyai dampak yang besar bagi lingkungan dalam upaya mengurangi emisi carbondioksida (CO2) yang memicu pemanasan global dan perubahan iklim,” tutup Dedi Saputra Djalil.

Untuk Earth Hour tahun 2016 ini mengambil tema “Shine a light On Climate Change Action” yang berarti “Berikan cahaya bagi aksi perubahan iklim“.[]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY