WWF Dampingi 4 Sekolah Untuk Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan Di Aceh

503
Para guru, kepala sekolah, pengawas sekolah dan forum masyarakat mengikuti pelatihan “Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan”, mulai 15-18 Maret 2016, di Balai Diklat Pertanian Aceh, Saree, Aceh Besar. (WWF-ID)

Acehraya.co.id – Dalam rangka mendorong implementasi pendidikan pembangunan berkelanjutan di provinsi Aceh, WWF Indonesia Northern Sumatra program menggelar pelatihan Environmental Education for Sustainable Development (ESD) untuk empat sekolah di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Aceh Besar dan Bener Meriah, sejak 15 – 18 Maret 2016 di Balai Diklat Pertanian Aceh, Saree, Aceh Besar.

Pelatihan ini dihadiri oleh perwakilan tenaga pengajar dari sejumlah Sekolah Dasar, Sekolah Menegah Pertama, pengawas sekolah dan forum masyarakat. Diantaranya seperti, SDN Syiah Utama, Samarkilang, SMPN Syiah Utama, Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah, SDN 04 kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, SMPN 1 kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, SMPN 1 Kuala, Kabupaten Bireuen serta Aceh Geothermal Forum (AGF).

Dewi Nopita Sari, Staf WWF Indonesia Northern Sumatra Program, mengatakan bahwa pelatihan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang digelar oleh WWF Indonesia merupakan yang kedua di provinsi Aceh.

“ESD di Aceh sudah pernah dilakukan di 7 sekolah beberapa tahun lalu. Dan kali ini, WWF akan mendampingi 4 sekolah baru  yaitu SDN dan SMPN Syiah Utama, Samarkilang, Kab. Bener Meriah serta SDN 04 dan SMPN 1 Kota Jantho, Kab. Aceh Besar,” ujar Dewi Nopita Sari.

Dewi berharap, melalui Pelatihan ini, para peserta memperoleh pengetahuan tentang pendidikan pembangunan berkelanjutan secara lebih komprehensif sekaligus juga metodologi mengajar yang efektif.

“Sasaran ESD sendiri adalah educator yang terdiri dari guru-guru dan kepala sekolah yang ikut pelatihan ini, kedepannya ada tindak lanjutnya di sekolah-sekolah asal mereka. Jadi, empat sekolah tersebut yang WWF dampingi akan dijadikan sebagai sekolah percontohan ESD,” tutur Dewi.

Rini Ratna Adriani, Environmental Education for Sustainable Development (ESD) Coodinator WWF Indonesia, mengatakan bahwa metode penyampaian pesan-pesan lingkungan dengan memasukkan tiga prinsip yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial.

“Environmental Education for Sustainable Development (ESD) tersebut telah diterapkan dan dikembangkan unit Environmental Education (EE) WWF Indonesia sejak tahun 2005,” ujar Rini.

Selain pengenalan konsep Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, melalui diskusi kelompok. Para peserta pelatihan juga didorong untuk mencari solusi dari permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini, melihat dari pembangunan berkelanjutan dan tidak berkelanjutan. Seperti populasi, kualitas hidup, gaya hidup konsumtif, dampak lingkungan, keanekaragaman hayati, pertanian, kesehatan manusia, peran pengambil keputusan dan lainnya.

Rini berharap melalui pelatihan ESD, para penggiat pendidikan lingkungan dapat mensosialisasikan dan mengajarkan konsep ESD kepada komunitas maupun anak didiknya sekaligus juga berkontribusi dalam pengembangan metode dan materi pembelajaran ESD.

“Peserta yang telah mendapatkan pelatihan ini diharapkan akan dapat memberikan pengetahuan ini kepada pendidik lain yang belum mendapat kesempatan mengikuti pelatihan melalui KKG (Kelompok Kerja Guru) serta menjadi agen perubahan di lingkungan sekolahnya masing-masing,” lanjut Rini.

Sekolah yang menerapkan ESD juga diharapkan dapat menjadi center of learning atau pusat pembelajaran pendidikan pembangunan berkelanjutan baik bagi seluruh komponen sekolah maupun masyarakat sekitarnya. “Jadi, seluruh aktivitas di sekolah tersebut dapat dijadikan contoh nyata pembangunan berkelanjutan,” tutup Rini Ratna Adriani. [af]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY